Thursday, 17 June 2021


Tekan Impor, Produsen siap Produksi Benih Kentang Goreng

10 Jun 2021, 14:31 WIBEditor : Yulianto

Benih kentang produksi PT. AIMS | Sumber Foto:Dok. AIMS

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Kebutuhan kentang goreng (french fries) di dalam negeri cukup besar. Sayangnya, hingga kini produk jadi untuk kentang goreng tersebut masih dipasok dari impor. Untuk itu produsen benih berkomitmen menyediakan kentang goreng dari hasil produksi dalam negeri.

“Produk jadi french fries (kentang goreng) masih 100 persen impor. Padahal pasar ini sangat besar untuk kebutuhan restoran fast food, café, hotel, dan sebagainya. Inilah yang menjadi orientasi kami ke depannya. Kami akan menambah lagi 22 Green House di Garut,” kata Direktur PT Agra Intan Makmur Sejahtera (AIMS), Tommy Chitra.

Saat menghadiri Webinar Nasional “Sosialisasi PP No.26 Tahun 2021: Penerapan Sistem Jaminan Mutu untuk Perbenihan Hortikultura” Rabu (9/6) yang diselenggarakan Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) dan Sinar Tani, Tommy mengatakan, potensi pengembangan benih kentang goreng di dalam negeri cukup besar. Sebab, selama ini kebutuhannya masih dari impor.

“Sebenarnya orientasi kami pada french fries, karena memang kita masih impor. Potensi untuk mengembangkan cukup besar. Di dalam negeri ada pemainnya, tapi sangat kecil,” katanya.

Keterbatasan lahan

Namun demikian, menurut Tommy, perlu ada dukungan dari pemerintah, termasuk dukungan penyediaan lahan. “Permasalahan pokok di Indonesia itu lahan, untuk bisa melakukan multiplikasi benih. Sulit mencari lahan yang flat (rata) di dataran tinggi. Bila tersedia lahan yang sesuai untuk pengembangan benih kentang, maka pelan-pelan akan mengurangi ketergantungan terhadap benih impor,” katanya.

Tommy mengatakan, kentang ada dua jenis, untuk konsumsi dan industri.  PT AIMS saat ini memproduksi benih kentang konsumsi (table potato) yaitu varietas Granola Lembang dan Granola Kembang.  Kentang konsumsi karena jenis ini biasa dipakai masyarakat untuk masakan sehari-hari (perkedel, sup, sambal goreng, semur, dan lain-lain).

BACA JUGA:

PP-No-262021-Terbit-Produsen-Benih-Horti-Wajib-Penuhi-Ini

PP-No-262021-Dorong-Kemandirian-dan-Daya-Saing-Produsen-Benih

PT AIMS juga memproduksi varietas Chitra untuk kentang industri yang dipakai industri kentang olahan, baik rumah tangga maupun berskala besar. “Kentang industri pemasarannya ke Indofood yang disalurkan ke petani plasmanya Indofood. Brand yang terkenal dari Indofood misalnya Chitato,” tutur Tommy

Tommy mengakui, tantangan lain yang dihadapi untuk memproduksi kentang industri yaitu kesulitan multiplikasi. Sebab, benih yang dihasilkan produsen benih adalah G-0. Saat ini PT. AIMS memasarkan benih kentang konsumsi G-0 ke wilayah-wilayah sentral penanaman kentang, yaitu ke petani Dieng, Sembalun, Karo, dan Minahasa Selatan.

Sebetulnya bila kami hanya menjual G-0 kurang menguntungkan, karena petani akan kembali membeli benih lagi sekitar 2-3 tahun. Ini karena benih G-0 tersebut bisa dimultiplikasikan sampai dengan G-4 dan seterusnya,” tuturnya.

Kemampuan multiplikasi dari G-0 ke G2, lalu dari G-2 ke G-3, dari G-3 ke G-4 dan seterusnya tergantung kepandaian petani dalam melakukan budidaya penanaman kentang. Termasuk juga perawatan dalam penyimpanan atas benih multiplikasi atau turunannya tersebut.

Dengan luas lahan 81.200 meter persegi yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, PT AIMS mempunyai kapasitas produksi 3,6 juta K nol per tahun untuk G-0 dan 100 ton per tahun untuk G-2.

Selain pengembangan varietas benih kentang industri, Tommy mengatakan, pihaknya berencana akan membuat pelatihan tentang penyatuan standar (standarisasi) budidaya kentang. Sebab proses dan hasil produksi kentang di Indonesia masih berbeda-beda.

Petani hortikultura kita sebetulnya punya skill (keterampilan) yang memadai dan mereka juga mau bekerja, sehingga harapan kami, pemerintah membantu meningkatkan capacity building mereka untuk lebih baik lagi,” katanya.

Mengenai kewajiban sertifikasi jaminan mutu, Tommy mengatakan, produsen benih menilai penting untuk mendapatkan sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) dari Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (LSSM).

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018