Thursday, 23 September 2021


Penyebab Florikultura Gagal Menghias Pasar Luar Negeri

16 Jun 2021, 14:19 WIBEditor : Yulianto

Bambu hoki, salah satu tanaman hias yang banyak diekspor | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Keinginan agar komoditas florikultura Indonesia bisa menghias pasar luar negeri kadang gagal terwujud. Banyak penyebabnya, bukan hanya faktor adanya penyebab teknis, tapi juga adiministrasi juga bisa menjadi ganjalan ekspor.

Koordinator Benih, Karantina Tumbuhan, Badan Karantina Pertanian, Abdul Rahman mengatakan, penyebab produk pertanian, termasuk florikultura Indonesia ditolak, dimusnahkan atau harus dipelakukan terlebih dahulu adalah karena notifikasi ketidaksesuaian (NNC) dari negara tujuan.

“Kalau kita ekspor ke negara tujuan, kemudian ada serangga, maka akan dipermasalahkan dan tidak akan diterima, bisa ditolak tanaman hias kita. Untuk itu saya mengajak pencinta tanaman hias sama-sama mengawal agar tidak ada penolakan di negara tujuan ekspor,” katanya saat FGD Peluang dan Tantangan Ekspor Hortikultura yang diselanggarakan Tabloid Sinartani di Jakarta, Rabu (16/6).

Abdul Rahman mengungkapkan, kasus NNC (Notifikasi Non Complain) atau ketidaksesuaikan barang yang dikirim dengan sertifikasi phyto sanitari karantina pertanian. Selama tahun 2020, sertifikasi karantina tumbuhan untuk komoditas benih ekspor yang telah dikeluarkan karantina lebih dari 29.000 kali.

Tidak sesuai

Ketidaksesuaian tersebut bisa berbagai alasan diantaranya integritas, teknis dan administratif. Untuk kasus NNC integritas adalah karena ketidaksesuaikan dengan persyaratan negara tujuan. Kasus yang banyak terjadi adalah data jumlah yang diekspor tidak sesuai dengan yang dikirim.

“Banyak terjadi data ekspor 10, tapi yang dikirim ada 11 atau 12. Negara tujuan tidak menerima hal itu, karena jika lebih 1 atau 2 dianggap tidak diperiksa petugas karantina, sehingga harus dimusnahkan,” tuturnya.

BACA JUGA:

 

Sedangkan NNC karena alasan teknis karena hama dan penyakit. Beberapa kejadian ada temuan nematoda parasitic dan serangga (pseudococcidae, coccidae, aphididae, aleyrodidae, diaspididae) dalam tanaman hias yang diekspor Indonesia.

“Ada tanaman hias Indonesia yang dikirim ternyata terdapat nematoda, sehingga dikomplain negara tujuan ekspor. Kasus terbesar pada Oktober 2020 cukup besar yakni mencapai 58 kali,” ungkapnya.

Ada juga karena alasan administratif seperti salah nama atau tulisan. Kasus NNC administratif menjadi yang terbanyak mencapai 58 persen. Ini terjadi karena kesalahan penulisan additional declaration di sertifikat karantina. Ada juga kasus tidak disertai sertifikat karantina.

Badan Karantina Pertanian juga mencatat kejadian NNC ada di Balai Karantina Pertanian (BKP) kelas II Medan (2 persen), BKP kelas I Entikong (3 persen), BBKP Soekarno Hatta (14 persen), BBKP Surabaya (18 persen), BKP Bandung (21 persen). Terbanyak 35 persen terjadi di BBKP Priok, Jakarta. Sedangkan NNC berdasarkan negara tujuan dari Perancis (7 persen), Belanda (9 persen), Belgia (6 persen), Jerman (8 persen), di AS terbanyak yakni 52 persen.

Menurut Abdul Rahman, akibat NNC itu negara tujuan ekspor memperlakukan produk pertanian Indonesia dengan berbagai tindakan. Kasus yang direekspor menjadi yang terbanyak yakni mencapai 53 persen, dimusnahkan 44 persen, perlakuan 2 persen dan perbaikan PC 1 persen.

Kejadian NNC pada tanaman hias diantaranya, jenis Araceae (Monstera, philodendron, anthurium, alocasia, syngonium), Aquatic plant(Bucephalandra, Cryptocorine, Alternanthera, Hygrophil, Sansevieria), Euphorbia dan Ficus.

Untuk mendukung ekspor tanaman hias, Abdul Rahman mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian teknis persyaratan fitosanitari negara tujuan ekspor dan penyiapan informasi teknis. Jika diperlukan untuk pelaksanaan pest risk analysis oleh negara tujuan. “Kami juga melakukan penyesuaian dengan persyaratan fitosanitari terkini negara tujuan,” ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018