Tuesday, 03 August 2021


Florikultura Indonesia Menghias Pasar Mancanegara

16 Jun 2021, 15:20 WIBEditor : Yulianto

FGD Pluang dan Tantangan Ekspor Florikultura | Sumber Foto:DOk. SInta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong ekspor produk pertanian ke berbagai negara, salah satunya produk hortikultura, secara khusus tanaman hias (florikultura). Bahkan di tengah pandemi Covid-19, ekspor pertanian menjadi salah satu penyangga perekonomian Indonesia.

Ekspor tanaman hias ini ibarat sleeping giant atau raksasa tidur. Sebab potensinya sangat besar yang bisa dimanfaatkan secara maksimal. Data BPS tahun 2021, terjadi kenaikan volume ekspor hortikultura sebanyak 2,7 persen dibandingkan tahun 2019, dengan nilai ekpornya naik 37,5 persen. 

Ada beberapa keuntungan bisnis florikultura ini adalah cukup dengan media tanam yang efisien dan  tidak perlu lahan luas. Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Balitbang, M. Thamri juga mengakui, peluang pasar tanaman hias Indonesia di luar negeri cukup besar.  Bahkan kini tanaman hias daun tropis diminati banyak negara, seperti negara di Eropa dan Australia.

Data menyebutkan, ekspor florikultura Indonesia ke dunia tahun 2019 mencapai  16,96 juta dollar AS. Sedangkan pada tahun 2020 (Januari-Mei) senilai 5,59 juta dollar AS. Nilai tersebut turun 23,17 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar 7,28 juta dollar AS.

Pangsa pasar hortikultura Indonesia di dunia hanya 0,08 persen. Bahkan Indonesia hanya menduduki peringkat 47 eksportir dunia, dibawah Malaysia yang peringkat 17 dengan pangsa pasar 0,69 persen, Thailand (peringkat 19, pangsa pasar 0,62 persen) dan Vietnam (peringkat 30; pangsa pasar 0,33 persen).

BACA JUGA:

Inilah Strategi Rebut Pasar Florikultura di Jepang

Penyebab Florikultura Gagal Menghias Pasar Luar Negeri

Pemerintah Fokus Menumbuhkan Kampung Florikultura Berorientasi Ekspor

Tujuan ekspor florikultura Indonesia selama periode Januari-Mei terbesar ke Jepang 26,33 persen, Belanda 21,82 persen dan Singapura 14,46 persen. Sedangkan komoditas florikutura yang diekspor anggrek tanpa akar 29,84 persen, bunga potong 19,65 persen, bungan lili 0,71 persen, anakan anggreka 9,56 persen dan Krisan 4,19 persen. “Permintaan tanaman hias daun dari tanaman segar juga kini meningkat mencapai 15,84 persen,” katanya.

Nah, untuk mendorong peningkatan produksi dan ekspor, Direktur Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura, Lifedi Lukman mengatakan, pemerintah mengembangkan kampung hortikultura. Dalam satu kampung tersebut basisnya adalah desa, minimal satu kampung itu ada 1.000 meter persegi.

"Dalam kampung itu nanti kami mendampingi pelaku usaha dalam budidaya, sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar. Bahkan ke depan juga kampung florikultura itu bisa dikembangkan sebagai agrowisata,” katanya saat FGD Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura yang digelar Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (16/6).

Pelung usaha budidaya florikultura menurut Liferdi cukup besar. Sebab tidak perlu lahan yang luas, hanya dengan 6x4 meter, petani bisa menghasilkan hingga Rp 20 juta. “Untuk florikultura tidak perlu lahan banyak. Di perkotaan yang lahannya terbatas bisa usahakan florikultura,” kata Liferdi.

Sahabat Sinar Tani bagi yang ingin mendapatkan materi FGD diundah dan melihat kembali siaran bisa di chanel SINTATV:

MATERI: Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura

SINTA TV (Youtube): Siaran FGD Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura

E-SERTIFIKAT:  Esertifikat FGD Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura

 --

Bagaimana agar florikultura Indonesia bisa menghias pasar mancanegara? Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Tim Sinar Tani
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018