Thursday, 23 September 2021


Eksportir, Ikuti Peraturan Karantina

16 Jun 2021, 15:20 WIBEditor : Yulianto

FGD Pluang dan Tantangan Ekspor Florikultura | Sumber Foto:DOk. SInta

Meski peluang ekspor tanaman hias cukup tinggi. Namun untuk bisa masuk ke pasar luar negeri, berbagai persyaratan ekspor penting diketahui pelaku usaha supaya komoditas dapat diterima negara tujuan.

Koordinator Benih, Karantina Tumbuhan, Badan Karantina Pertanian, Abdul Rahman meminta, pelaku usaha memenuhi peraturan perkarantina. Sebab, pihak karantina menjadi pintu terakhir yang memberikan jaminan suatu komoditas ekspor bisa masuk ke negara lain. Sebagai jaminan, pihak karantina akan memberikan sertifikasi.  “Selama ini penolakan yang terjadi dari negara tujuan ekspor, karena tidak ada sertifikasi. Padahal sertifkikasi menjadi jaminan,” katanya.

Abdul Rahman mengakui, untuk menembus pasar florikultura memang tak mudah. Beberapa tantangannya adalah bagaimana menjamin komoditas tanaman  bisa memenuhi persyaratan fitosanitari negara tujuan, baik administratif maupun teknis (kesehatan).

Selain itu, bagaimana bisa menghindari notifikasi ketidaksesuaian (NNC) dari negara tujuan, baik ditolak, dimusnahkan, ataupun diberi perlakuan. Untuk itu harus bersama-sama mengawal tanaman hias agar bisa diterima negara tujuan.

“Kadang ada pelaku usaha yang sudah diberitahu dan dilarang untuk mengirim (komoditas pertanian,red), tapi masih memaksa karen alasan sudah ada surat ijin pengeluaran. Tapi akhirnya di negara tujuan ditolak. Ini kan akhirnya merugikan eksportir sendiri,” tuturnya mengingatkan.

Sementara itu Atase Pertanian KBRI Jepang, Dr. Sri Nuryani mengatakan, permintaan florikultura di Jepang cukup besar. Apalagi kebiasaan masyarakatnya kerap menggunakan bunga sebagai bentu apresiasi seperti kegiatan sermoni, hadiah dan dekorasi.

“Namun pasar Jepang spesifik. Untuk kegiatan suka maupun duka, mereka menggunakan bunga warna merah dan putih. Jadi apapun perayaannya tidak jauh dari dua warna itu. Hanya jenis bunga saja yang beda,” ujarnya

Namun Sri mengingatkan, persyaratan bisa masuk ke pasar Negeri Sakura persyaratan dan prosedur karantina cukup ketat. Setiap komoditas harus disertai Phytosanitary Certificate sebagai pernyataan bebas hama dan penyakit karantina. Penerbitan Phytosanitary pun tak bisa sembarangan karena harus dilakukan pemeriksaan di lokasi budidaya dan dideklarasikan secara jelas (clear) Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK).

"Ekspor Florikultura ke Jepang selain aman, bersih, bebas dari OPT, Kuantitasnya (jumlah) harus memenuhi sepanjang tahun sehingga harus dipersiapkan kalender tanam dan kalender panen Florikultura agar pasokannya kontinu,” katanya.

Aspek ketelusuran juga menjadi syarat yang harus bisa dipenuhi eksportir florikultura. Sayangnya, keterlusuran produk florikultura Indonesia masih sangat rendah.

Penyiapan dokumentasi mulai dari pengolahan lahan, media tanam, bibit, selama tanam, panennya, shipmentnya, hingga pemeriksaan dokumennya, belum bisa dipersiapkan dengan baik oleh pelaku usaha florikultura. “Dengan adanya dokumen ketelusuran, bisa menjamin jika terjadi penolakan,” ujarnya.

Reporter : Tim Sinar Tani
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018