
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ketika berkunjung ke Minaqu Home Nature
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Banyak anggapan jika berbisnis florikultura khususnya tanaman pot (potted plant) hanya musiman (monkey business) sehingga harga yang didapatkan pun naik turun tak menentu. Padahal, potensi florikultura di Indonesia dengan sumberdaya genetiknya sangat besar. Karenanya, Minaqu Home Nature menggebraknya dengan berbagai solusi yang bisa menjadikan bisnis florikultura bisa berkelanjutan.
Siapa yang tidak mengenal Aglonema, Monstera, Philodendron?Nama-nama florikultura tersebut kini menjadi tanaman hias yang digandrungi. Masyarakat yang sebelumnya tidak punya minat merawat tanaman, kini terlihat semakin lumrah mengunggah koleksi ‘anak hijau’ mereka di media sosial. Bahkan harga dua-tiga lembar daun kecil, seperti Monstera variegata atau Philodendron White Knight semakin tidak masuk akal.
Demam tanaman hias ini mengingatkan kita pada demam ‘gelombang cinta’ beberapa tahun silam yang kemudian meredup. Karenanya, banyak yang beranggapan jika bisnis tanaman hias atau florikultura ini seperti monkey business atau bisnis musiman.
CEO Minaqu Home Nature, Ade Wardhana mengamati betul bahwa harga tanaman hias di Indonesia itu lebih mahal daripada di negara Eropa dan lainnya, salah satunya karena dorongan atau kesadaran inovasi varietas dari pelaku industri tanaman hias di Indonesia jauh tertinggal daripada di Eropa maupun Amerika Selatan.

“Contohnya untuk Anggrek (Phalaenopsis sp), di Belanda sudah banyak ditinggalkan bahkan sejak tahun 2007 sudah tidak ada greenhouse yang memproduksinya. Kondisi berbeda di Indonesia, Anggrek masih menjadi komoditas yang justru bibitnya banyak diimpor dari Taiwan,” ujarnya geram saat Focus Group Discussion Kiat Sukses Bisnis dan Ekspor Florikultura yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (23/6).
Ade memilah setidaknya ada 4 permasalahan yang menjadikan sulitnya bisnis Florikultura di Indonesia menjadi bisnis yang berkelanjutan. Pertama, Standarisasi Produk Global di Indonesia yang masih jauh dibandingkan Thailand dan Vietnam sekalipun. Standarisasi ini misalnya jenis tanaman hias yang dibutuhkan masyarakat dunia.
Kedua, Akses Pasar Global yang mudah disentuh di masa sekarang, namun masih kurangnya edukasi yang tersampaikan kepada pelaku usaha florikultura itu sendiri dan akhirnya rush atau scam (penipuan) yang dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
Ketiga, Adaptasi teknologi. Masih banyak pelaku usaha florikultura yang masih belum bisa memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam bisnis florikultura terutama saat era disrupsi sekarang.
Keempat, Ekskalasi Bisnis (Peningkatan bisnis). Masih banyak pelaku usaha maupun petani florikultura yang justru kelasnya menengah ke bawah, meskipun bisnis florikultura dengan harga yang selangit. Contohnya di pinggir jalan protokol masih banyak diisi oleh pedagang tanaman hias.
Solusi Minaqu
Melihat permasalahan tersebut, Minaqu Home Nature yang kini menjadi brand eksportir tanaman pot (potted plant) jenis Araceae (tanaman hias sejenis talas-talasan) berusaha untuk memberikan solusi yang bisa membawa roda florikultura bisa lebih maju.
Mulai dari memiliki Minaqu Research Center dengan Standarisasi Tanaman Hias yang dibutuhkan masyarakat dunia. “Kami ingin menghasilkan varietas-varietas baru tanaman hias Indonesia dan bekerjasama dengan breeder-breeder tanaman hias Indonesia yang sebenarnya banyak dimiliki. Minaqu Home Nature ini menjahit kolaborasi dengan mereka,” jelasnya.
Kemudian untuk menembus pasar global, dilakukan dengan akselerasi teknologi digital. “Kami tengah merintis global e-commerce dan platform yang akan dikoneksikan dengan petani mitra di seluruh Indonesia. Tentunya dengan standarisasi global dan menyentuh Kerjasama business to business dengan buyers dari luar negeri,” jelasnya.
Tak hanya menembus pasar global, Minaqu juga membangun komunitas tanaman hias yang lebih global untuk mendapatkan validasi pasar (market validation) yang lebih jelas dan menata pelanggan global (maintenance buyers) yang menjadi pendukung keberlanjutan bisnis florikultura dari Indonesia.
Untuk petani florikultura, Ade mengatakan pihaknya juga menyentuh mereka dengan sistem green house development system. Dirinya melihat sendiri bagaimana petani florikultura masih berusaha tani secara tradisional. “Ke depannya kita inginkan database florikultura diperbaiki, kemudian green house milik petani juga diakomodasi, termasuk adanya transfer knowledge dari Minaqu Research Center,” jelasnya.