Sunday, 26 June 2022


Miliki Pesona Buah dan Bunga, Eksportir Sumbar Masih Kurang Eksplorasi

06 Jul 2021, 14:31 WIBEditor : Gesha

Krisan Solok mempesona | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta-- Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Liferdi Lukman menyayangkan masih kurangnya pelaku ekspor di Sumatera Barat, padahal petani hortikultura sudah banyak di Nagari Ranah Minang itu. Karenanya, Pemerintah meminta Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti) lebih aktif menghimpun berbagai kekuatan untuk mempercepat upaya pengembangan komoditas bunga dan buah di wilayah Sumatera Barat. 

"Melalui wadah Perhorti saya yakin pengembangan kampung buah atau kampung Florikultura di Sumatera Barat bisa cepat dilaksanakan. Penumbuhan bisnis buah dan bunga oleh para milenial juga perlu terus didorong melalui pelatihan yang dilakukan Kementan, " tandas Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Liferdi Lukman di acara Hortalk Series 4 virtual sekaligus Pengukuhan Perhorti Komda Sumbar, Selasa (6/7).

Potensi dan pesona buah dan bunga maupun komoditas hortikultura lainnya, diakui Liferdi menjadi keunggulan Sumatera Barat. Terutama di Kabupaten Solok, yang memiliki kegiatan hulu hilir hortikultura yang lengkap. Mulai dari perbenihan, hingga keberadaan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu Tropika). Adanya dukungan pemerintah daerah setempat serta perguruan tinggi, juga sangat memungkinkan di daerah ini dikembangkan kampung buah atau kampung sayur.

Bunga juga menjadi andalan hortikultura dari Sumbar, hanya saja perlu inovasi dan kreatifitas dari pelaku usahanya ."Bunga Krisan itu kalau dijual, hanya laku Rp 1.000. Tapi kalau dibuat rangkaian bunga bisa laku Rp 250 ribu - Rp 500 ribu padahal hanya digunakan 27 tangkai bunga Krisan. Berarti dengan sentuhan kreativitas kita bisa mendapat nilai tambah yang tinggi ," jelas Liferdi.

Disamping kesesuaian agroklimat, tampak petani setempat sangat antusias berbudidaya buah dan bunga dan dukungan pemerintah daerahnya juga besar. "Persyaratan membangun kampung Horti sudah lengkap. Tinggal oleh Perhorti diupayakan agar pihak-pihak terkait diajak bergandeng tangan untuk merealisasikannya," tutur Ferdi.

Kementan dalam upaya pengembangan kampung Horti, sejauh ini telah menyusun model-model yang memungkinkan terjalinnya kerja sama antara petani dengan pelaku bisnis hortikultura bahkan pihak eksportir agar tercipta kepastian pasar.

Untuk Sumbar misalnya sudah ada yang berminat menjadi offtaker dan pembeli tetap komoditas kentang. Melalui kerja sama ini diupayakan petani bisa terakses dengan sarana pembiayaan Kredit Usaha rakyat (KUR) berbunga murah sehingga diharapkan dengan mendapatkan kredit ini usaha pertanian kentang petani bisa makin berkembang. 

"Dengan terfokus satu komoditas di satu nagari dengan luasan mencapai 10 ha ia melihat memungkinkan produk yang dikembangkan lebih berdaya saing dan berkualitas, " tambahnya. 

Kementan sendiri akan memfasilitasi peralatan pasca panen bila suatu saat petani ingin mengembangkan produknya lebih ke hilir. "Di Thailand satu provisi Montong dikembangkan durian sejenis, karenanya durian Montong bisa sampai menembus pasar ekspor dan disukai masyarakat di banyak negara, ' tutur Liferdi.

Sementara itu Dekan Fakultas pertanian Universitas Andalas, Indra Dwipa, mengemukakan bahwa pihaknya siap mengawal petani Sumbar melaksanakan pengembangan kampung buah atau kampung Florikultura.

Pendampingan dari perguruan tinggi dinilai penting mengingat petani masih dihadapkan oleh berbagai kendala dalam melaksanakan usaha taninya. Seperti serangan lalat buah hingga kini masih menjadi persoalan . Produksi jeruk di Gunung Ameh dari tahun ke tahun terus berkurang karena serangan hama.

"Globalisasi perdagangan menuntut peningkatan daya saing produk juga pengembangan inovasi. Untuk mendapatkan solusinya tidak bisa dilakukan secara parsial tetapi harus terkoorsinasi,' jelas Indra Dwipa.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018