
Jeruk Siam Gunung Omeh
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jeruk Siam Gunung Omeh (Jesigo) menjadi salah satu komoditas andalan Sumatera Barat, Untuk mendorong peningkatan produksinya, kini tengah dilakukan riset peningkatan produksi dengan teknologi Bujangseta (Pembuahan Berjenjang Sepanjang Tahun).
Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Koto memang menjadi sentra budidaya jeruk siam, bahkan merupakan ikon Kabupaten Lima Puluh Kota. Tercatat ada 1.254 ha lahan petani yang menanam jeruk siam di dataran pegunungan dengan ketinggian 900 – 120 mdpl.
“Persoalan mendasar pada budidaya tanaman jeruk adalah hasil produksi (panen) yang hanya bisa terjadi dua kali dalam satu tahun, sehingga ada kekosongan di pasar dan kemudian diisi produk impor,” kata Kepala Balai Peneltian dan Pengembangan Jeruk Tropika (Balitjestro), Harwanto saat Hortalk Series 2021 #4 dengan tema Mempercepat Pengembangan Hortikultura Sumatera Barat.

Saat ini kata Harwanto, pihaknya sedang melakukan Riset Penelitian Inovasi dan Kolaborasi dengan petani di Kecamatan Gunung Omeh untuk meningkatkan produksi Jesigo dengan teknologi Bujangseta. Pendampingan teknologi dan penguatan kelembagaan petani dilakukan di 3 nagari yaitu Nagari Talang Anau, Nagari Kota Tinggi dan Nagari Pandan Gadang.
“Jumlah petani yang kita dampingi sebanyak 18 orang dengan luas lahan kurang lebih 9 hektar,” kata Harwanto. Bujangseta merupakan teknologi Pembuahan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun sangat pas dilakukan untuk meningkatkan produksi Jeruk Siam Gunung Omeh.
Pola tanam model ini bisa membuat tanaman jeruk berbuah sepanjang tahun (off season) dan mendorong peningkatan produksi tanpa mengurangi kualitas. Jika biasanya, panen jeruk hanya 2 kali dalam satu tahun, dengan teknologi Bujangseta bisa naik dua kali lipat menjadi 4 – 5 kali panen.
“Bujangseta hanya mengubah manajemen dalam menanam jeruk, dengan menyiapkan ketersediaan nutrisi yang cukup. Yaitu dengan cara melakukan pemupukan 7-8 kali, kalau konvensional biasanya hanya 2-3 kali saja,” tuturnya.
Teknologi Bujangseta adalah kombinasi dari tiga tahap pemeliharan, yaitu manajemen kanopi (prunning), pemangkasan yang dapat memacu pertunasan vegetatif dan generatif menjadi lebih seimbang. Dengan cara itu kelembaban dalam tajuk dapat dikurangi, sehingga nantinya secara otomatis penyakit akan lebih mudah dikendalikan.
“Kami akan konsisten mengawal pilot project peningkatan produktivitas Jesigo hingga membuahkan hasil,” ujarnya.
Bahkan Harwanto berharap, ke depan teknologi Bujangseta menjadi alternatif pilihan teknologi yang akan diterapkan secara masif di lahan milik petani jeruk di seluruh Kecamatan Gunung Omeh untuk meningkatkan produktivitas. Mimpinya Jesigo dapat menembus pasar ekspor.