Sunday, 24 October 2021


Sumber Karbohidrat, Prospek Pisang Merangsang  

28 Jul 2021, 18:33 WIBEditor : Yulianto

Pisang berpotensi menjadi sumber karbohidrat pengganti beras | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat. Salah satunya komoditas pisang. Namun arah pengembangannya adalah membuat tepung pisang.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, ada dua program yang pemerintah lakukan dalam pengembangan diversifikasi. Pertama, pengembangan pangan lokal yang bersumber dari karbohidrat non beras.

“Intinya kita ingin mendorong pemanfaatan pangan lokal bukan untuk jajanan, bukan untuk icip icip, tetapi untuk sumber karbohidrat pengganti beras. Jadi kita tidak mendorong tumbuhnya UMKM memproduksi kripik, tapi kita memproduksi karbohidrat lain non beras,” katanya saat Webinar EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Pisang, Kenyang Ngga Harus Nasi yang diselanggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (28/7).

Program kedua ungkapnya, pemanfaatan pangan lestari ini adalah program yang sudah lama dijalankan. Namun saat ini diperbaiki, intinya dengan memanfaatkan pekarangan yang ada untuk produksi pangan lokal pengganti karbohidrat selain beras. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi pangan masyarakat melalui pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman,” katanya.

Agung menjelaskan, saat ini produksi olahan pangan lokal oleh UMKM terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi jumlah maupun jenisnya. Pemerintah mendorong agar pangan lokal tersebut dibuat menjadi tepung agar konsumen lebih mudah untuk mengolah menjadi beragam makanan.

“Banyak UMKM juga telah memproduksi makanan siap saji yang telah dibekukan, sehingga konsumen milenial yang sibuk dan penyuka kepraktisan hanya perlu beberapa menit untuk memanaskan saja sebelum mengkonsumsi pangan lokal,” tuturnya.

Dengan potensi pasar tersebut, usaha pengolahan pangan lokal, termasuk pisang sangat memudahkan masyarakat memperoleh kemudian mengonsumsinya. Di sisi lain, meningkatnya permintaan konsumen terhadap pangan lokal juga mendorong berkembangnya UMKM olahan pangan.

Agung mengatakan, aksesibilitas masyarakat terhadap pangan lokal dicerminkan dari kemampuan masyarakat memperoleh pangan lokal secara fisik dan ekonomi. Karena itu stabilisasi pasokan dan harga pangan lokal harus senantiasa dijaga.

Diantaranya, melalui penerapan teknologi pasca panen dan pengolahan; pengembangan sistem penyimpanan dan manajemen stok; pengembangan industri pangan lokal berbasis UMKM dan industri besar.

“Upaya mendorong pemanfaatan pangan lokal dilakukan melalui edukasi masyarakat, sehingga akan tumbuh kesadaran bahwa pangan lokal dapat menggantikan beras dan terigu untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi,” tuturnya.

Selain itu, promosi secara masif dan terus-menerus di berbagai media perlu dilakukan untuk mengubah mindset masyarakat bahwa pangan lokal memiliki keunggulan nilai gizi dan menyehatkan.

Untuk konsumsi pisang Agung mengakui kini terus menurun. Jika  tahun 2017 mencapai 9,1 kg/kapita/tahun, maka tahun 2020 hanya 6,6 kg/kapita tahun. “Kita harapkan akhir 2024 bisa diangka 9,5 kg/kapita/tahun, naik 2 angka,” katanya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018