
Tarim bersama kontributor Sinar Tani
TABLOIDSINARTANI.COM, Batu Malang---Kembang atau bunga kol merupakan tumbuhan sayuran yang lazim dikenal sebagai kubis bunga. Bentuknya mirip brokoli. Bahkan banyak yang mengira kembang kol merupakan brokoli putih, karena perbedaan hanya terdapat pada warnanya yang putih, namun nyatanya tidak demikian.
Perbedannya, kubis bunga memiliki kepala bunga yang banyak dan teratur dengan padat, hanya kepala kembang kol yang lazim dimakan. Pada dasar kepala tersebut terdapat daun-daun hijau yang tebal dan tersusun rapat. Kembang kol merupakan sumber vitamin dan mineral. Lazimnya dimakan dengan dimasak terlebih dahulu, meski dapat dimakan mentah maupun dijadikan acar.
Salah seorang petani yang membudidayakan kembang kol adalah Tarim. Petani di Kota Batu ini menggunakan benih jenis Ilona yang dibeli dengan harga Rp 150 ribu. “Budidaya bunga kol diawali dengan pembibitan dengan sistem tebar di media semai. Penanaman tidak terlalu teratur tetapi hasilnya cukup memuaskan,” katanya.
Dalam budidaya, Tarim menggunakan sistem baris ganda 40x60 cm dengan mulsa plastik hitam perak. Sebelum budidaya, lahan diolah gembur dengan bedengan lebar 1 m dan tinggi 20 cm. Pemberian pupuk dasar seminggu sebelum tanam yang digunakan pupuk kandang.
Tarim menyarankan, supaya tanaman tumbuhnya baik sebaiknya memakai mulsa dan lubangnya dibuat teratur 40 atau 50 cm. Kemudian satu lubang satu benih, sehingga daunnya kelihatan menumpuk. “Memang biayanya akan tambah, tapi akhirnya perawatannya mudah, karena tidak banyak tumbuh rumput dan ringan obat-obatnya,” tuturnya.
Pemupukan dilakukan setelah menanam sekitar satu minggu, kemudian satu bulan dan diakhiri 1 bulan setengah. “Saya menggunakan pupuk mutiara. Kalau pupuk urea cepat tumbuh, tapi batangnya keras,” tambahnya.
Sedangkan penyiraman dilakukan tiap hari sampai tanaman tumbuh normal. Kemudian diulang sesuai kebutuhan. Jika ada tanaman yang mati, Tarim menyarankan agar segera disulam. “Penyemprotan dilakukan ketika umur 25 hari, kemudian 1 minggu dilakukan lagi berupa pupuk daun dan pembasmi ulat,” ujarnya.
Bunga kol dapat dipanen pada saat bunga sudah padat dan kompak. Caranya memotong pangkal batangnya dengan menyisakan 6–7 helai daun sebagai pembungkus bunga. Waktu pemanenan sebaiknya pada pagi hari setelah embun menguap atau sore hari sebelum embun turun. “Bunga kol cepat mengalami layu jika tidak disimpan dalam kondisi dingin segera setelah panen, biasanya dapat bertahan kurang lebih 3 minggu,” ungkapnya.
Tarim menuturkan, ukuran standar berat kembang kol yang dijual di pasar sekitar 4 kg, sedangkan yang kecil 1,5 kg. Namun rata-rata bisa 2 kg untuk pengiriman luar daerah.
Soal harga, Tarim mengakui tidak pasti, naik-turun. Saat harga baik, paling mahal Rp 6 ribu/kg. Namun saat produk melimpah bisa hanya Rp 1.500/kg. Tapi diakui Tarim, petani masih mendapatkan untung, karena biaya perawatannya sekitar Rp 500-750/ batang. “Tapi kalau dijual eceran Rp 11 ribu/kg,” katanya.