Saturday, 29 January 2022


Milenial ini Sulap Lahan Tadah Hujan jadi Ladang Bawang

30 Aug 2021, 14:46 WIBEditor : Yulianto

Toni saat di lahan bawang yang ia garap | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Bojonegoro---Tak banyak generasi milenial yang mau terjun ke sawah menekuni dunia pertanian. Namun bagi Toni, milenial asal Bojonegoro ini, justru menganggap pertanian adalah dunia yang mengasikkan.

Setelah lulus SMP, Toni meneruskan sekolah di SMK Pertanian. Pasca menyelesaikan SMK pun ia masih tetap berada dalam jalur usaha pertanian.  Menggarap lahan milik orang tuanya, Toni membudidayakan bawang dengan umbi mini. Berbagai trik budidaya bawang merah ia sampaikan ke Tabloid Sinar Tani.

Sebagai tanaman semusim dan berumur pendek, bawang merah dapat diperbanyak secara vegetatif dengan umbi dan generatif dengan biji. Umbi mini berukuran 2-3 gram yang dihasilkan sebagai produk benih hasil perbanyakan.

Keunggulan umbi mini sebagai benih diantaranya memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan umbi biasa yang sudah digunakan petani secara terus-menerus. Bahkan umbi mini lebih sehat karena tidak adanya akumulasi bakteri, jamur, dan virus.

Toni mengatakan, budidayakan bawang merah biji di lahan tadah hujan dengan biji berbeda dengan benih. Pertama yang harus dilakukan adalah membuat pembibitan. Biji terlebih dahulu dikeringkan di atas anyaman bambu sampai kering daunnya. “Kalau musim panas begini mungkin 5 hari cukup, sedangkan musim hujan agak lama,” katanya.

Setelah dikeringkan, Toni mengingatkan, tidak bisa langsung dijadikan bibit. Setelah ditali, dijemur lagi di bawah sinar matahari langsung sekitar 2 hari dan sudah cukup sambil dibolak-balik. Setelah proses pengeringan bibit tidak bisa langsung ditanam, karena kadar airnya masih banyak dan menunggu kadar air turun sampai kemunculan tunas.

“Setelah pengeringan kedua, kemudian diikat dan ditaburi serbuk kalsium supaya kelembabannya terjaga,” katanya. Jadi, untuk benih yang penting waktu masih di lahan itu tidak terkena penyakit seperti busuk daun dan akarnya aman tidak terkena virus. Penggunaan bibit sebanyak 2-2,5 kuintal tiap seperempat hektar. Untuk umurnya cukup kisaran umur 2-3 bulan sudah maksimal. “Kalau di tempat saya yang dipanen rata-rata umur 60 hari,” ceritanya. Hasinyal sekitar 4 ton.

Persiapan Lahan dan Penyiraman

Bagaimana mempersiapkan lahan? Toni menjelaskan, lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman, apalagi bekas pertanaman padi. Lalu tanah diolah dan dibuat bedengan-bedengan terlebih dahulu dengan lebar dan panjangnya disesuaikan kondisi lahan. Kedalaman parit 50-60 cm dan lebar parit 40-50, penanaman umbi dengan cara menancapkan atau membenamkan pada bedengan sedalam 3/4 bagian umbi. 

“Kalau lahan tadah hujan itu lebih cepat pembuatannya, hanya membuat parit, got-got, tidak terlalu sulit. Untuk lahan pegunungan tidak seperti lahan datar,” kata Toni yang dalam budidaya bawang menerapkan jarak tanam 10x15 cm. Namun sebelum membuat bedengan, Toni menyarankan lahan diberikan pupuk kandang.

Meskipun tanaman bawang merah tidak menyukai banyak hujan, tanaman ini memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya dengan penyiraman. Penanaman di lahan bekas sawah memerlukan penyiraman yang cukup, apalagi kondisi dalam keadaan terik matahari.

Pada musim kemarau, biasanya disiram satu kali sehari pada pagi atau sore hari sejak tanam sampai umur menjelang panen. Penyiraman yang dilakukan pada musim hujan hanya ditujukan untuk membilas daun tanaman dari tanah yang menempel pada daun bawang merah.

Pada periode kritis saat pembentukan umbi, Toni mengingatkan, jangan sampai kekurangan air karena bisa menurunkan produksi. Karena itu perlu pengaturan ketinggian muka air dan tanah, khususnya pada lahan bekas sawah dan frekuensi pemberian air pada tanaman bawang merah.

“Penyiangan dan pendangiran dilakukan saat menjelang pemupukan susulan ke-1 dan ke-2, pengendalian secara kultur teknis. Penyiangan dilakukan dengan pemotongan daun yang sakit,” katanya.

Toni menambahkan, pemupukan dilihat pertumbuhannya. Jika sudah maksimal, maka pupuknya biasa saja. Pemupukan kedua maksimal 10 hari untuk lahan sawah dan pemupukan terakhir umur 33 hari dengan jenis pupuk grower. Sedangkan di lahan tadah hujan pemupukan terakhir umur 28 hari.

Dalam pengendalian penyakit bisa menggunakan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian. Namun, dengan memperhatikan pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Hama yang sering menyerang adalah ulat grayak dan grandong yang di daun seperti rambut putih-putih. Ada juga virus yang menyebabkan daun bawang menguning hingga ke bagian akarnya. Bahkan daun yang sakit, kalau menyentuh daun tanaman lainnya akan menular.

“Penyemprotan 2 hari sekali sambil melihat kondisinya. Tapi, sebelum kita melakukan penyemprotan dilihat dulu kondisi tanaman tidak bisa langsung. Kalau tanamannya normal 2 hari sekali bisa dilakukan. Tanaman bawang merah harus dilihat setiap hari, tidak bisa kita tinggalkan, masalahnya 2 hari sudah terlihat perbedaannya,” katanya.

Menurut Toni, budidaya bawang merah dengan memakai mulsa hasilnya akan jauh lebih bagus, karena rumput tidak tumbuh dan pupuk juga bisa lebih efisien, Namun diakui, pemakaian mulsa akan meningkatkan biaya usaha tani, tapi untuk perawatannya lebih mudah, suhunya akan lebih teratur.

Panen dan Pasca Panen

Bawang merah dapat dipanen pada umur 60-70 hari setelah tanam, namun tergantung varietas. Ciri-cirinya adalah pangkal daun sudah lemas jika dipegang, daun 70-80 persen berwarna kuning, umbi sudah terbentuk dengan penuh dan kompak. Selain itu, sebagian umbi sudah terlihat di permukaan tanah, umbi berwarna merah tua atau merah keunguan serta berbau khas, dan sebagian besar daun tanaman telah rebah.

Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh tanaman dan sebaiknya saat keadaan tanah kering dan cuaca cerah. Hal ini untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi di gudang. Untuk mempermudah penanganan, setiap 5-10 rumpun diikat pada sepertiga daun bagian atas.

Umbi dijemur selama 2 minggu di bawah sinar matahari langsung. Tahapan pertama, pelayuan daun dengan menjemur bagian daun selama 2-3 hari. Kedua, pengeringan dengan cara menjemur bagian umbi bawang merah di bawah sinar matahari langsung selama 7-14 hari dengan pembalikan setiap 2-3 hari. Kemudian umbi disimpan dalam bentuk ikatan yang digantungkan pada rak-rak bambu. “Harga bawang kini Rp15-25 ribu/kg,” katanya.

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018