Wednesday, 01 December 2021


Hadapi La Nina, Pemerintah Bantu Petani Horti dengan EWS

26 Nov 2021, 10:34 WIBEditor : Yulianto

Petani cabai di Sukabumi diajak untuk menerapkan model closed loop | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pada tanaman hortikultura menjadi langkah penting menyiasati kondisi tersebut. Untuk membantu petani, Ditjen Hortikultura telah menyiapkan early warning system (EWS) untuk perubahan iklim.

EWS merupakan aplikasi pengolahan dan pemantauan DPI (Dampak Perubahan Iklim) hortikultura. EWS adalah sistem online untuk menerima laporan dan mengelolanya secara elektronik/online. Untuk mengetahui dpat diakses di horti.pertanian.go.id/ewshorti.

“Peta yang ada dalam early warning system itu nantinya akan kami overlaps dengan peta perubahan iklim dan ini sedang berjalan. Jadi kami akan melihat dari awal sebelum kejadian terjadi, kita sudah memberikan peringatan,” kata Direktur Perlindungan Tanaman, Ditjen Hortikultura, Inti Pertiwi saat webinar Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim pada Tanaman Sayuran yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (24/11).

Karena itu ungkap Inti, pihaknya koordinasi cukup intensif dengan BMKG dan BIG (Badan Informasi Geospasial) untuk pemanfaatan peta. “Harapannya kita bisa memberikan Informasi agar petani diingatkan apa yang perlu dilakukan. Jadi sifa nya sudah antisipasi,” tuturnya.

Bersama Balitklimat Badan Litbang Pertanian, Inti mengungkapkan, pihaknya mulai tahun depan akan membuat satu kalender tanam sepanjang satu tahun. Saat ini Kalender Tanam (KATAM) hanya ada pada tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai).

Inti menilai, Kalender Tanam memang harusnya menjadi kebutuhan yang perlu ada pada komoditas apapun. “Ini (Kalender Tanam,red) menjadi satu project bagi kami. Nanti kami akan bekerjasama dengan Litbang Pertanian. Bahkan akan kami kerjakan sebagai pekerjaan utama kami tahun depan, khususnya Kalender Tanaman untuk bawang merah dan cabe yang yang sering terjadi masalah dalam produksi,” tuturnya. 

Menurutnya, dibutuhkan strategi dan langkah konkret dalam menangani dampak perubahan iklim di Indonesia, baik dengan cara antisipasi, adaptasi dan mitigasi. Dengan memanfaatkan informasi iklim, kita bisa mengambil langkah adaptasi untuk membuat perencanaan budidaya tanaman dan penentuan jadwal tanam.

Teknologi Tepat Guna

Untuk menyiasati perubahan iklim Inti mengatakan, perlu memperhatikan penggunaan teknologi tepat guna dalam meningkatkan produksi dan produktivitas hortikultura. Untuk adaptasi, upaya pemerintah adalah menghasilkan varietas yang toleransi banjir dan kekeringan, serta pemanfaatan mulsa untuk budidaya sayuran, terutama di lahan kering.

Sedangkan untuk mitigasi dengan mengembangkan kegiatan budidaya yang mengurangi gas rumah kaca. “Jadi bagaimana kebijakan kita menekan semakin kecil pertanian konvensional yang akan meningkatkan gas rumah kaca. Salah satunya adalah bantuan kami sudah tidak ada yang bersifat kimia, terutama untuk bahan pengendali organisme pengganggu tanaman. Semuanya adalah ramah lingkungan,” ungkap Inti.

Inti mengakui, bagi penyuluh di Balai Penyuluh Pertanian pembangunan embung, irigasi hemat air, mulsa dan varietas benih yang tahan kekeringan maupun banjir bukan hal yang baru. Namun kini yang pemerintah gerakkan adalah Brigade La Nina. “Kami sudah turun ke lapangan mengawal pertanaman sejak dua bulan yang lalu. Kami sudah bersurat kepada seluruh kepala daerah untuk mengantisipasi dan terus berkomunikasi dengan BMKG wilayah yang berpotensi banjir. Kami juga sudah mapping lokasi yang rawan banjir,” katanya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018