Saturday, 29 January 2022


Cara Sujono Kenalkan Zero Waste di Budidaya Jamur

04 Jan 2022, 09:37 WIBEditor : Gesha

Pertanaman jamur zero waste | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang -- Beberapa petani di Kecamatan Wagir tetap menjaga konsistensi dan kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan penerapan zero waste dalam budidaya Jamur seperti yang dilakukan Sujono melalui Organik Eco Nusantara Jamur (OKEN). 

Sujono memulai usaha jamur nya sejak tahun 2013 hingga sekarang yang masih peduli dengan kelestarian linkungan yang ada disekitarnya. Selain sebagai petani, Sujono juga mendidik beberapa murid yang ada disekolah dekat rumah dan lahan usaha jamurnya untuk lebih mengenal dan memahami jamur.

Dengan konsep Zero waste atau bebas sampah yang dikenalkan maka beliau mengajarkan bahwa Baglog atau log jamur yang merupakan media tanam jamur masih dapat dimanfaatkan walaupun sudah tidak terpakai.

Selama ini, dirinya bekerjasama dengan petani tanaman jeruk untuk memanfaatkan media log dari bahan serpihan kayu bekas untuk diolah atau difermentasikan ulang dengan menggunakan kapur sebelum disebarkan pada tanaman pohon jeruk.

"Ini sudah dilakukan dengan adanya kerjasama dengan 9 kelompok tani yang ada di Kecamatan Wagir. Dan petani anggota kelompok juga sudah merasakan manfaat dari baglog ini, " tuturnya. 

Selain itu semua bahan baglog yang digunakan untuk budidaya jamur menggunakan bahan pupuk organik (eco enzyme) sehingga hasil budidaya hingga panen memang berasal dari bahan bahan organik. Plastik bekasnya juga setelah dicuci bersih masih bisa dijual ke pemulung untuk diolah lagi.

Budidaya jamur dilakukan dirumah jamur yang masih menggunakan welit(=daun tebu yang disusun/dianyam) dibawah atap asbes untuk menjaga kelembaban dan mengurangi panas yang berlebih pada saat musim kemarau. Rumah jamur yang dimilikinya juga sudah berdiri sejak 2013.

Dimana baglog disusun rapi berjajar dengan baglog bagian bawah membentuk bulat utuh agar dapat tersusun rapi. Selain itu ditiap rak juga tertulis tanggal penempatan baglog karena setelah 2 minggu maka jamur sudah tumbuh dan siap dipanen.

Baglog yang dapat di tampung dalam rumah budidaya sejumlah 15000 per kamar sedangkan ada dua kamar yang tersedia. Dikatakan pula baglog dipanen 5-6 bulan sekali dengan 12 kali panen. Dan ada beberapa jenis jamur yang dibudidayakannya tapi paling banyak adalah jamur tiram, ada yang berwarna kecoklatan.

Pada saat panen dan sebelum pandemi Covid 19 pemasaran hingga luar pulau, khususnya ke pulau bali, di Supermarket ternama di Denpasar Tiara Dewata, yang tiap hari mensuply 50 kg tiap hari bahkan hingga 1 truk dan dikota Malang serta kota sekitarnya,direstoran serta hotel berbintang.

Sekarang ketika ekonomi mulai membaik Sujono masih dapat mengirim produk segarnya ke Bali 10 kg tiap 3 hari selama seminggu. Tetapi tidak menyurutkan semangat untuk dapat memberdayakan dan mengenalkan ke generasi muda. Selain itu juga dibuat olahan jamur lainnya yang dipasarkan dengan memanfaatkan media online, berupa sate jamur, steak jamur,kripik jamur dan lain sebagainya.

Kedepan Sujono mengharapkan melalui dinas terkait dan lembaga balai pertanian dapat menjadi P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) sebagai tempat untuk pembelajaran Pembuatan media tanam, produksi makanan olahan, wisata edukasi petik jamur dan menjadi tempat untu belajar tentang jamur.

 

 

Reporter : Ferly P Tambunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018