Monday, 23 May 2022


Di Cianjur Ada Kampung Alpukat Loh !

24 Jan 2022, 11:45 WIBEditor : Yulianto

Kampung Alpukat di Cianjur | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Cianjur---Kabupaten Cianjur terkenal dengan komoditas beras dan sayuran. Namun kini di kabupaten tersebut berdiri Kampung Alpukat. Seperti apa kampung alpukat tersebut?

Salah satu Kampung Hortikultura yang sudah mulai berjalan adalah Kampung Alpukat di lokasi Kelompok Tani (Poktan) Sukatani 2, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Keberadaan Kampung Alpukat tersebut tak lepas dari peran Ditjen Hortikultura yang memberikan bantuan untuk pengembangan seluas 10 ha pada TA 2021. Alpukat yang dikembangkan di Desa Sukadana merupakan varietas mentera atau mentega merah.

Kepala Seksi Produksi Tanaman Hias dan Buah-buahan Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Yatti Rachmawati menyatakan, pemilihan alpukat sebagai komoditas yang dikembangkan sangatlah tepat karena buah ini juga merupakan komoditas buah yang diprioritaskan di Cianjur.

“Alpukat ini menjadi salah satu komoditas buah yang diprioritaskan di Cianjur. Karena itu, Poktan Sukatani 2 sebagai penerima bantuan sangat antusias dalam mengembangkan Kampung Alpukat ini,” kata Yatti.

Pemilihan lokasi, menurut Yatti, karena ada kesesuaian agroklimat untuk komoditas alpukat di Desa Sukadana tersebut. Kemudian, ada potensi dan kompetensi dari petaninya untuk mengembangkan alpukat varietas mentera.

Sementara itu Ketua Poktan Sukatani 2 atau yang dikenal juga dengan Kelompok Agrofarm, H. Karmawan menjelaskan, Kampung Alpukat ini sudah berjalan tiga bulan sejak penanaman perdana di Oktober 2021. Sejauh ini, perkembangan Kampung Alpukat dinilainya sangat bagus.

Dari 1000 pohon, menurutnya, hanya 26 pohon yang gagal tumbuh. Selebihnya, berhasil tumbuh dengan baik dan terlihat perkembangannya sangat bagus. Pohon alpukat ini dalam 3 tahun ke depan juga diharapkan tidak hanya menghasilkan alpukat, tetapi bisa menjadi pohon naungan bagi tanaman lain, seperti kopi dan asparagus. Ini bukti bahwa Agrofarm mengembangkan sistem integrated farming,” kata Karmawan.

Karmawan memperkirakan, pohon alpukat mulai bisa panen pada tahun keempat. Ia mengestimasi pendapatan total petani mencapai Rp 137.500.000 dalam 3 kali panen dan dapat balik modal atau BEP di tahun kelima. Petani berharap keuntungan ini terus bertambah dengan pengembangan Kampung Alpukat di lahan kosong yang masih tersedia di Desa Sukadana.

“Harapan kami, Kampung Alpukat ini berkelanjutan. Masih ada ratusan hektare lahan kosong di desa ini. Jadi, jika nanti Kampung Alpukat di sini berhasil, saya rasa bisa dikembangan juga di lahan-lahan kosong tersebut,” ujarnya.

Integrated Farming

Bicara mengenai integrated farming, Pembina Agrofarm, Wisnu Wardoyo bercerita bahwa Agrofarm memang telah mengimplementasikan integrated farming. Di Agrofarm, tidak hanya ada lahan pertanian, tetapi juga peternakan untuk menyediakan pupuk kandang organik dan perikanan sebagai barometer pencemaran.

“Di sini, sistemnya adalah integrated farming. Termasuk dari pupuknya yang menggunakan pupuk alami dari kotoran hewan yang ada di peternakan kami. Jadi, kita tidak membeli pupuk dari luar,” katanya.

Dengan integrated farming, Wisnu mengakui, biaya produksi dapat lebih hemat, sekaligus melakukan penanaman beberapa tanaman. Bahkan setiap hari selalu ada yang dipanen, sehingga jauh lebih menguntungkan.

Selain alpukat, di lahan Agrofarm juga ditanami asparagus dan buncis. Menurut Wisnu, kombinasi ketiga tanaman ini dipilih karena pemupukannya dapat dilakukan sekaligus. Dengan memberi pupuk ke tanaman asparagus dan buncis, pohon alpukat tidak perlu diberi pupuk lagi sebab bisa mengambil residu pupuk dari asparagus dan buncis.

Lebih lanjut, Wisnu mengungkapkan bahwa keberlanjutan Kampung Alpukat ini ada di tangan petani-petani milenial. Dengan sistem integrated farming yang digunakan Agrofarm dapat menjadi kesempatan petani milenial mengembangkan pertanian berkelanjutan dan menghasilkan keuntungan lebih banyak.

“Usaha pengembangan Kampung Alpukat harus dibantu oleh petani milenial yang berwawasan, mandiri, dan mampu memanfaatkan teknologi. Campur tangan petani milenial ini diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran dan penduduk yang menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI) karena penghasilan di kampungnya sendiri sebagai petani sudah sangat mencukupi,” tutur Wisnu.

Kampung Hortikultura menjadi salah satu program prioritas Ditjen Hortikultura. Program ini mengusung konsep One Village One Variety (OVOV) dan dibangun dalam satu wilayah administratif desa. Untuk satu kampung buah dan sayur, luasan lahan yang diperlukan minimal adalah 10 ha. Sementara itu, untuk satu kampung tanaman obat diperlukan lahan minimal seluas 5 ha.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengungkapkan bahwa tujuan Kampung Hortikultura tidak semata-mata hanya membentuk kawasan hortikultura dalam skala besar, tetapi utamanya adalah kesejahteraan petani. “Tujuan terbentuknya kampung hortikultura bukan hanya kawasan hortikultura berskala besar namun berujung pada kesejahteraan petani,” katanya.

Karena itu, semua dibina mulai dari bimbingan GAP (Good Agricultural Practices) selama budidaya hingga GHP (Good Handling Practices). Benih yang diberikan juga benih bermutu. “Kami juga kawal aspek perlindungan dan pascapanennya,” ujarnya.

Reporter : Julian
Sumber : Ditjen Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018