Jumat, 21 Juni 2024


Tetap Cuan, Kiat Petani Food Estate Siasati Dampak Banjir

25 Jan 2022, 13:13 WIBEditor : Yulianto

Aziz petani hortikultura di food estate, Pulang Pisau Kalsel | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Pulang Pisau---Banjir yang sempat melanda wilayah Kalimantan Tengah juga berdampak pada lokasi food estate di Kabupaten Pulang Pisau. Namun ada hikmat dibalik bencana tersebut yakni, petani kini mulai menyiasati kemugkinan banjir yang akan menimpa mereka lagi.

Ditemui di lahannya, Ketua Kelompok Usaha Bersama, Abdul Aziz terlihat melakukan tumpang sari tanaman terong dengan kelengkeng. Pola tanam tersebut diyakini sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan banjir di masa yang akan datang.

Aziz bercerita dirinya mendapatkan bantuan benih terong pertengahan tahun 2020. Dengan lahan yang dikelola seluas 0,5 ha, dalam tiga bulan menghasilkan 18 ton atau 18 kali panen. Jika rata-rata harga terong Rp 7.500/kg, maka Aziz mendapatkan penghasilkan kurang lebih Rp 135 juta.

“Modal yang kami keluarkan selama masa tanam hanya Rp 30 juta, sehingga hasil bersih Rp 105 juta,” ujar pria yang berdomilisi di Desa Anjir Kecamatan Kahayan Hilir ini.

Mengenai efisiensi biaya produksi, Aziz mengakui jelas perbedaannya ketika saat program food estate dengan sebelumnya. Dengan program tersebut, pemerintah memperhatikan kebutuhan budidaya tanam. Bahkan hasilnya produksinya lebih banyak  ketimbang dengan modal sendiri yang seadanya.

“Alhamdulillah dengan adanya program ini. Petani merasakan semua, sampai ada yang bisa beli pick up. Saya Alhamdulillah dari hasil food estate bisa selesai menguliahkan anak hingga biaya wisuda,” tuturnya bangga.

Berlokasi di desa yang sama, Rukani, Ketua Kelompok Tani Budi Murni mengatakan, sudah enam kali panen dengan keuntungan Rp 5 juta untuk lahan seluas 0,5 ha. Untuk satu kali panen bisa menghasilkan 70 kg. Harga beli di tingkat petani masih bertahan Rp 15 - 17 ribu/kg selama kondisi banjir hampir 3 bulan terakhir ini.

“Sebenarnya ini bukan hasil yang maksimal karena sempat mengalami kebanjiran pada usia tanam satu minggu. Kondisi tanamannya jadi begini (menguning : red),” katanya

Saat itu dirinya berinisiatif menyedot genangan air dengan mesin pompa air ukuran besar dan kecil agar lekas surut genangan airnya. Rukani memprediksi hasil maksimal akan terjadi pada panen ke tujuh. Diperkirakan bisa menghasilkan 2 kuintal.

Di lokasi berbeda, tepatnya Desa Bereng, Kecamatan Kahayan Hilir, anggota Tunas Muda Bereng, Siswandi sudah dua kali mendapat program budidaya cabai rawit dengan luas tanam 2 ha.

“Kami beruntung diikutsertakan pada program ini, terutama dari segi permodalan dan biaya operasional. Pada program tanam 2020 kami pernah puncak panen hingga memperoleh keuntungan Rp 90 juta,” ujarnya.

Namun selama 2021, ia mengakui, tidak mendapat banyak hasil karena terkendala banjir. Selain itu tanaman cabainya juga terkena antraknosa sehingga hampir gagal panen karena tidak maksimal. Tanaman juga banyak yang kami cabut menghindari penularan ke tanaman lain,” katanya.

Mencermati kondisi alam dan struktur lahan, dirinya berharap ke depan pemerintah bisa memberi bantuan pembuatan ajir karena biaya pembuatannya cukup besar. Bahkan jika memungkinkan adanya mesin pengolah tanah.

Pasokan produksi dari petani di Kabupaten Pulang Pisau menjadi penyangga pangan di Kalimantan Selatan. Seperti apa bantuan pemerintah?

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018