Tuesday, 17 May 2022


Contohlah Bagaimana Pak Sadar Mengais Rezeki dari Buah Berduri

28 Jan 2022, 23:24 WIBEditor : Gesha

Menikmati durian duri hitam di kebun Pak Sadar (tengah) | Sumber Foto:Memed

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Sepertinya sulit melukiskan rasa durian Duri Hitam di kebun pak Sadar. Terlalu enak, sehingga kehabisan atau tidak menemukan kata-kata yang tepat. Apalagi dengan mulut penuh buah durian, hampir seluruhnya berupa daging buah karena bijinya sangat kecil. Luar biasa.

Ketika buah durian yang berukuran kecil, berkulit tidak terlalu terang dan berduri agak tumpul itu dibuka dengan pisau kecil, buahnya segera merekah terbelah. Ukuran dan bentuknya tidak spektakuler seperti durian montong yang besar menggelembung.

Durian Duri Hitam itu kecil pas untuk dimakan satu atau dua orang saja. Buah durian yang dibuka pak Sadar itu memang sudah matang dan tergolong jatuhan walaupun tidak benar-benar jatuh ke tanah, karena tangkainya sudah diikat dengan tali rafia dan digantungkan ke dahannya agar tidak jatuh ke tanah.

“Kami tidak menganjurkan segera makan buah yang jatuh, tapi sebaiknya dibiarkan dulu selama dua hari sehingga terjadi sedikit fermentasi atau membentuk karamel yang membuat rasanya lebih enak,” kata pak Sadar.

Rasanya? Sebelum merasakan kelezatannya, lihat dulu warna daging buahnya yang berwarna kuning emas dan sedikit tembaga. Daging buahnya tebal, tersimpan dalam rongga buah yang lapang.

Durian ini rongga buahnya besar dan kulitnya tipis. Isi setiap rongga hanya ada dua buah tetapi besar, gemuk menggelembung, terlihat padat dan tidak berair. Tidak tercium aroma durian yang keras menyengat. Sangat sopan, masuk dalam ukuran aroma yang bisa diterima oleh orang yang baru merasakan buah berduri ini.

Ketika digigit sepenuh mulut, bijinya masih belum juga tersentuh gigi saking tebal daging buahnya dan kecil bijinya. Hampir semuanya daging buah. Teksturnya lembut, pulen dan halus, manis dengan sensasi yang melekat di lidah, wangi sedang, dan di akhir kecapan lidah ada terasa samar-samar pahit yang membuat durian ini sempurna istimewa.

Satu biji saja, daging buah yang dinikmati membuat penikmatnya terpuaskan. Karena bijinya sangat kecil. Setelah menghabiskan daging buah kedua, sempurnalah sensasi rasa durian Duri Hitam ini. Durian Bawor yang dinikmati sebelumnya lebur terhapus rasa si Duri Hitam.

“Ini berasal dari Malaysia, tapi saya tangani dengan pemupukan khusus sehingga rasanya lebih baik,” sambung pak Sadar.

Pemeliharaan buah berduri ini memang tidak main-main, selain pohonnya tetap dibuat rendah, buahnya diatur sehingga jumlahnya optimal, tidak terlalu banyak agar buahnya sehat, berukuran sedang dan haranya tercukupi.

Satu lagi, buah yang dibesarkan harus terletak di batang yang besarnya minimal berdiameter 2,5 centimeter agar tetap tergantung dengan kokoh.

Bisnis durian pak Sadar yang berlokasi di Sukaraja, Bogor ini sangat menjanjikan, terutama karena sejak awal dirancang dengan baik dan hati-hati. Kualitas bibit harus bagus, pemeliharaan kebun harus baik dan tentu saja disiplin sesuai dengan cara berkebun yang profesional.

Bayangkan, dari lahan 2 hektar, sekarang sudah ditanami 150 pohon durian berbagai jenis unggul, masih ditambah lagi dengan tanaman durian baru yang sekarang sedang berlangsung. Dengan jarak tanam 7 x 8 meter memang di lahan 2 hektar ini masih memberikan ruang untuk ditambah tanaman baru.

Dari durian saja yang sekarang sudah sekitar 130 pohon yang berbuah, masing-masing pohon menghasilkan 25 buah, sehingga bisa memberikan penghasilkan tidak kurang dari Rp 900 juta per tahun. Dikurangi biaya pemeliharaan dan pupuk sekitar Rp 150 juta, sisanya bisa dihitung sendiri. Ini baru dari durian. 

Pak Sadar merasa, pohon kelapa kopyor yang sekarang jumlahnya sudah lebih dari 50 pohon bisa menghasilkan rezeki bulanan, yang kalau dihitung tidak kalah besar dibanding dari durian.

Belum lagi dari pepaya, pisang, jeruk nipis, kolam ikan dan tanaman rempah. Jadi kalau menggunakan matematika sederhana saja, kehidupan pemilik kebun durian dan tanaman lainnya ini sudah lebih dari cukup. Sangat cukup dan bahkan berlebih.

Pak Sadar cukup berbahagia, tapi pria bersahaja ini mengatakan, “Yang paling membahagiakan dari kebun durian itu adalah mempererat perkawanan.” Luar biasa.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018