
Hasil memuaskan dengan benih bermutu
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Benih menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya cabai. Karena itu, petani pun harus mengetahui cara memilih benih yang baik. Apa saja kiatnya?
Head Marketing PT Agri Makmur Pertiwi, Syahnovi Manius mengatakan, jenis cabai yang sering dibudidayakan petani Indonesia yaitu cabai rawit, cabai besar, dan cabai paprika. Untuk membantu memilih benih cabai bisa dilihat dari label kemasan. “Karena itu, karakter benih cabai harus tertera pada label kemasan, sehingga memudahkan konsumen membeli varietas tersebut,” ujarnya.

Setidaknya ada tiga karakteristik cabai yang baik. Pertama, mutu fisik yaitu penampilan benih bersih, warna terang dan mengkilap, bernas, ukuran normal. Kedua, mutu fisiologis dengan daya kecambahnya tinggi idealnya 90 persen. Ketiga, mutu genetik adalah keseragaman benih dan kemurnian genetik tinggi.
Pada webinar Sinar Tani bertema “Sukses Budidaya Cabai Hingga Pemasaran Melalui E-Commerce” pada Rabu (9/2), Syahnovi juga memberikan solusi mulai dari pemilihan lahan dan pemilihan varietas agar tanaman cabai dapat tumbuh optimal, yaitu ketersediaan air, kandungan bahan organik sekurangnya 1,5 persen, pH tanah 6,0 – 6,5, drainase air yang baik.
Saat membudidayakan cabai, Syahnovi mengatakan, petani juga harus memperhatikan ketinggian lahan. Sebab, perbedaan suhu siang dan suhu malam akan mempengaruhi waktu panen. Namnu secara umum rerata suhu optimal pada malam 16 derajat celcius dan siang 18 – 27 derajat celcius.
Sedangkan dalam pemilihan varietas produksi cabai ditentukan faktor genetic (varietas) lingkungan dan interaksi keduanya. Karena itu menurutnya, penting untuk dalam pemilihan varietas untuk mendapatkan hasil optimum.
Varietas unggul dapat dilihat dari produktivitas tinggi. Untuk cabai keriting antara 0,75 – 1 kg/tanaman, cabai besar 1 – 1,5 kg/tanaman, cabai rawit 0,6 – 0,8 kg/tanaman. Selain itu, umur panen genjah antar 90 – 105 HST (hari setelah tanam), daya simpan lama antara 5-7 hari setelah panen.
Waspadai OPT
Tidak kalah penting adalah pemilihan varietas cabai yang tahan serangan hama dan penyakit (organisme pengganggu tumbuhan/OPT). Beberapa hama yang kerap ditemui pada tanaman cabai adalah thrips, kutu daun, tungau, kutu kebul dan lalat buah. Untuk penyakit yakni virus, layu bakteri, layu fusarium dan busuk buah.
Kutu kebul (Bemisia tabaci) menjadi hama penting sebagai vector penyakit virus Gemini. Kehilangan hasil akibat penyakit ini bisa mencapai 20 – 100 persen. Populasi kutu kebul paling tinggi biasanya pada tanaman cabai yang ditanam diketinggian di bawah 1000 m dpl.
“Karena itu penting untuk memilih varietas yang dibudidayakan tahan terhadap virus. Pada dataran tinggi pemilihan varietas dipilih ditekankan pada ketahanan terhadap layu bakteri, layu fusarium, dan busuk buah,” tuturnya.
Syahnovi juga menyarankan, penting juga memperhatikan kemampuan adaptasi di musim penghujan dan kemarau. Salah satu kendala penanaman di musim penghujan yaitu serangan layu bakteri, fusarium, maupun busuk buah.
“Pemilihan jenis cabai yang tepat pada musim penghujan yaitu cabai keriting dan rawit. Namun perlu juga diperhatikan jenis varietasnya, pemupukan, drainase, dan jarak tanam yang digunakan,” tuturnya.
PT. Pertiwi sendiri mempunyai beberapa varietas cabai yang kini banyak ditanam petani yakni varietas cabai hibrida Legacy, Robin, Pertiwi, Batalion, Perwira, Priyayi, Vega, Serambi dan Maruti. “Kami mempunyai berbagai varietas cabai rawit, cabai besar, dan cabai keriting, dengan sebaran di seluruh Indonesia,” kata Syahnovi.