Thursday, 22 October 2026


Kota Dodol Garut Ditetapkan jadi Kawasan Agroindustri Hortikultura

17 Mar 2022, 14:07 WIBEditor : Yulianto

Petani di Kabupaten Garut

TABLOIDSINARTANI.COM, Garut---Kabupaten Garut, Jawa Barat terpilih menjadi salah satu lokasi pengembangan Kawasan Agroindustri Hortikultura. Satu alasannya, kota dodol tersebut memiliki potensi hortikultura yang cukup besar, khususnya untuk sayuran dan tanaman obat.

Komoditas yang dikembangkan dalam periode tahun 2022-2024 antara lain aneka cabai, kentang, dan bawang merah. Target luasannya 1.000 ha. Dari 42 kecamatan di Garut, terdapat 15 kecamatan yang menjadi sentra produksi cabai. Diantaranya yang terbesar adalah Kecamatan Pasirwangi, Cisurupan, Cikajang, Samarang, Caringin, Cigedug, Cilawu dan Banyuresmi.

Pada 2021, realisasi luas tanam cabai mencapai 10.155 ha. Terdiri dari luas tanam cabai rawit 3.157 ha, cabai besar 3.739 ha dan cabai keriting 3.259 ha dengan tingkat produktivitas 13,5 – 15 ton/ha. Dari berbagai sentra tersebut, pemasaran cabai yang berasal dari Kabupaten Garut telah dapat diserap. Bahkan tidak hanya pasar lokal, tetapi juga ke berbagai wilayah lain seperti Bandung, Tanah Tinggi (Tangerang), Kramat Jati (Jakarta), dan Cibitung (Bekasi).

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, luas tanam cabai di Kabupaten Garut sangat tinggi. Namun belum diatur pola tanamnya, sehingga pasokannya masih terganggu.

Melalui Bimtek cabai ini, Beni berharap petani cabai di Kabupaten Garut dapat menambah pengetahuan mereka mengenai budidaya cabai. “Melalui bimbingan teknis ini, petani cabai dapat menambah ilmu pengetahuan dan pemahamannya terkait budidaya cabai dari hulu sampai hilir, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan,” katanya.

Sementara itu, fokus Kementerian Pertanian dalam meningkatkan kapasitas produksi hortikultura adalah dengan pengembangan kawasan hortikultura di wilayah sentra.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, pihaknya berkomitmen penuh mendukung pengembangan Kawasan Agroindustri Hortikultura Garut. Salah satu bentuk dukungan dalam peningkatan kapasitas pengetahuan petani dan petugas sebagai adalah melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) Cabai. “Kami harap, para petani dan petugas lapangan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari bimtek ini,” ujar Prihasto.

Tim Direktorat Jenderal Hortikultura dan peserta bimtek cabai melakukan kunjungan lapangan ke EPTILU, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang untuk melihat cara budidaya cabai, pengolahan hingga pemasaran serta kiat-kiat membangun bisnis oleh kelompok tani.

EPTILU merupakan kelompok petani milenial yang mengembangkan pertanian hortikultura dengan mendirikan agrowisata dan kebun edukasi. Konsep EPTILU menerapkan sistem closed loop, yakni semua pihak terlibat langsung mendampingi petani mulai dari proses produksi.

Riza Fahreza, petani milenial di Kabupaten Garut menyambut baik program yang diinisiasi Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Kabupaten Garut ini. Petani milenial siap mendukung pengembangan kawasan agribisnis ini.

“Mohon arahan dan bimbingan agar kami di lapangan bisa bekerja dan membantu serta merealisasikan apa yang telah dirancang dan dirintis pemerintah,” katanya.

Pada kunjungan ini, dilaksanakan juga praktik langsung uji pH tanah yang dipandu Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul  Hamid. “Pengukuran PH tanah sangat penting karena banyak masalah berasal dari tanah, tanah yang sehat akan berdampak baik untuk tanaman,” ujar Hamid.

 

Reporter : Julian
Sumber : Humas Ditjen Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018