Friday, 01 July 2022


Desa Sugihan, Tuban Jadi Kampung Lengkeng Kateki

15 May 2022, 10:14 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto saat berkunjung ke Tuban | Sumber Foto:Humas Horti

TABLOIDSINARTANI, Tuban---Lengkeng menjadi komoditas hortikultura yang ekonomis cukup tinggi. Nah, untuk mendorong produski di dalam negeri Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura gencar mengembangkan kampung buah terintegrasi.

Salah satu yang mulai menunjukkan hasilnya adalah Kampung Lengkeng Kateki di Desa Sugihan Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban Jawa Timur. Di lahan seluas 36 hektar (ha) yang dikelola Kelompoktani Ngudi Tirto Makmur tersebut kini telah berkembang menjadi kawasan lengkeng varietas Kateki yang banyak digemari masyarakat.

Sekitar 7.200 batang tanaman lengkeng kini tumbuh subur dan berbuah di desa tersebut. "Lengkeng Kateki ini rasanya manis, legit dan renyah. Gak kalah sama lengkeng impor. Nilai ekonominya juga sangat menjanjikan. Kita akan dorong kawasan ini jadi obyek agroeduwisata lengkeng Kateki," ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto saat mengunjungi sentra lengkeng Desa Sugihan, beberapa waktu lalu.

Dengan konsep pengembangan kampung buah terintegrasi, Prihasto yakin kawasan bantuan APBN Ditjen Hortikultura sejak 2016 tersebut nantinya bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi petani dan masyarakat sekitar.

Dari 7.200 batang tanaman saja, jika per pohon menghasilkan 40 kg dan harga Rp 40 ribu/kg. Artinya, ada potensi pendapatan hingga Rp 11,5 milyar per satu musim panen. “Ini luar biasa kalau bisa dikelola dengan baik," tandasnya.

Prihasto mengatakan, agar satu daerah mempunyai ciri tersendiri, kampung-kampung buah ini didaftarkan. Kemudian, pemerintah akan kita akan memonitor terus kampung sejauh mana keberhasilannya dalam waktu tiga tahun. “Hingga tahun 2021 sudah ada 800-an kampung buah, nanti di tahun 2023 ada 1000an tambahannya, tersebar diseluruh indonesia,” uUjar Prihasto.

Menurut Prihasto, tujuan proses registrasi kampung adalah jika akan ekspor, maka akan memudahkan pelaku usaha saat memperoleh pasokan karena terfokus dan terkonsentrasi. Selain itu dari segi bimbingan teknis juga menjadi lebih mudah, pengawalan pendampingannya juga jadi lebih mudah, terus pembinaannya dan monitoring jadi lebih mudah, dan tepat sasaran.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Tuban, Eko Arif Yulianto, saat mendampingi kunjungan tersebut mengatakan pihaknya akan menginventarisasi kembali seluruh kebun lengkeng yang ada. Saat ini ada banyak petani yang menanam lengkeng ini secara swadaya, baik di lahan tegalan maupun pekarangan. Totalnya bisa lebih dari 300 ha.

“Kalau semua digarap dengan baik, tentu ini akan memberikan tambahan kesejahteraan bagi petani karena nilai ekonomi lengkeng cukup tinggi," ungkapnya.

Sementara itu , Ketua Kelompoktani Ngudi Tirto Makmur, Wiyono, saat dikonfirmasi mengaku senang mendapat dukungan Kementerian Pertanian sehingga daerahnya kini berkembang menjadi kawasan lengkeng unggul.

"Hasilnya bagus, setiap pohon bisa dapet 40 sampai 50 kilo lengkeng super. Harganya sekarang sekitar Rp 40 ribu per kilo di kebun. Lumayanlah pokoknya," kata Wiyono diamini anggota kelompok lainnya. 

Pihaknya bahkan mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar mengingat produksi yang masih terbatas. Wiyono berharap ada penambahan luas areal tanam lengkeng dengan melibatkan berbagai pihak terkait. "Pendampingan ke petani tentu masih sangat kami harapkan untuk mewujudkan desa Sugihan sebagai kawasan Agrowisata Kampung Lengkeng," katanya.

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018