Friday, 01 July 2022


Data Produksi Bawang Diperbaharui Tiap Bulan

13 Jun 2022, 11:09 WIBEditor : Yulianto

Petani bawang sedang panen | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Ditjen Hortikultura melakukan berbagai upaya untuk mengamankan produksi bawang merah. Bahkan setiap bulan dipantau dan diperbaharui data perkiraan produksi untuk 1-2 bulan mendatang berdasarkan data terkini yang dihimpun dari berbagai sentra.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha mengatakan, pihaknya selalu menyampaikan perlunya kewaspadaan semua pihak terhadap upaya stabilisasi pasokan dan harga bawang merah ini. 

"Semua dalam pantauan dan terkendali termasuk permasalahan OPT dan dampak iklim. Percepatan tanam telah kami maksimalkan di lapangan. Kami optimis pasokan dan harga bawang merah Juni-Juli ini akan kembali normal, sudah banyak panen di berbagai sentra yang siap dipasok ke pasar-pasar seluruh Indonesia,” tuturnya.

Berdasarkan data Early Warning System (EWS) Direktoral Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, produksi bawang merah nasional April 2022 sebesar 157.121 ton sementara Mei sebesar 153.513 ton. Meskipun  produksi April-Mei 2022 turun sebesar 11 persen,  namun secara neraca kumulatif dari produksi bulan sebelumnya terkalkulasi masih mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Produksi nasional bawang merah tahun lalu bahkan mencapai 2 juta ton, dan tahun ini diperkirakan tidak akan terpaut jauh. Sejak 2017 hingga saat ini, Indonesia tercatat sudah tidak mengimpor bawang merah segar/konsumsi. Peningkatan luas tanam di bulan April-Mei 2022 mengindikasikan bahwa produksi Juni-Juli 2022 akan berangsur normal kembali.

Sementara itu, Ahmad Sholeh, Petani bawang merah Kendal mengaku, menyebut kenaikan harga bawang merah saat ini akibat dari banyaknya petani, terutama petani pemula yang enggan menanam lagi sebagai ekses dari jatuhnya harga akhir tahun lalu.

"Banyak petani yg mengeluh rugi, karena akhir tahun lalu jatuh harganya. Gak kuat lagi modalnya. Tapi kalau untuk petani yang sudah biasa, tetap menanam," kata Sholeh.

Harga pupuk dan obat-obatan yang tinggi saat ini diakuinya sangat mempengaruhi biaya produksi. Jadi kalau harga saat ini dianggap tinggi, sebenarnya tidak. Lha wong harga sarana produksi sekarang udah ganti harga begini, jadi harga acuan di dalam Permendag pun perlu juga diperbaharui,” katanya. Sholeh memprediksi minggu depan pasokan mulai banyak, karena di Pati dan Bima mulai panen.

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018