Friday, 01 July 2022


Pemerintah Mobilisasi Cabai dari Daerah Surplus

13 Jun 2022, 11:24 WIBEditor : Yulianto

Petani cabai di Sukabumi diajak untuk menerapkan model closed loop | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarnegara---Cuaca ekstrim dengan curah hujan yang relatif tinggi sedikit memang banyak berpengaruh terhadap volume panen dan pasokan cabaiUntuk menjaga stabilisasi harga, pemerintah akan memobilisasi si pedas dari daerah surplus.

“Memang karena cuaca ekstrem ini volume panen dan pasokan cabai menjadi berkurang,” kata Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menanggapi naiknya harga cabai dalam beberapa pekan terakhir.

Namun menurut Prihasto, hal ini sudah diantisipasi melalui berbagai langkah. Salah satunya dengan memobilisasi pasokan dari daerah surplus yang produksinya tidak terganggu seperti dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sumatera Utara. “Dalam waktu dekat kami harapkan pasokan kembali normal,” katanya.

Namun demikian, Prihasto menegaskan, harga ini sangat dipengaruhi banyak faktor yang terkadang tidak juga semata karena pasokan dan belum ada standarisasi harga selayaknya produk pabrikan. “Namun patut disyukuri bahwa NTP petani cabai sedikit meningkat pasca pandemi. Sebelumnya petani cabai sempat terseok-seok dengan harga pasar di bawah BEP,” imbuhnya.

Perihal awal Juni 2022 tersebar kabar dari pasar yang menyatakan harga cabai rawit merah di Banjarnegara mencapai Rp. 1.000 per buah. Namun, pemantauan langsung ke beberapa pedagang eceran di Pasar Pucang Banjarnegara, dengan harga Rp. 5.000 konsumen mendapatkan cabai sebanyak 50 gram (kurang lebih 20 buah).

Cabai Hijau

Sementara itu, petani Banjarnegara sudah sangat terbiasa berbudidaya aneka cabai bahkan telah menjadi kabupaten penyangga Jabodetabek. Konsistensi pasokannya mencapai 17 ton per hari menyebar ke berbagai pasar termasuk pasar induk dan pasar-pasar satelit seputar Jakarta.

Petani Banjarnegara menyesuaikan agroklimat dan kecocokan tanah. “Sejak dulu, pendahulu kami tidak menanam cabai rawit merah karena pertimbangan teknis. Kalau rawit yang cocok di dataran tinggi Banjarnegara adalah cabai rawit hijau, sehingga hasil produksi Kami berlimpah,” papar Teguh, salah satu Champion Cabai Nasional.

“Saat ini kurang lebih ada sekitar 370 ha pertanaman cabai rawit hijau yang tersebar di Kecamatan Pejawaran, Karang Kobar dan Batur,” tambah Teguh.

Hal senada juga disampaikan penyuluh Pejawaran, Miftahuddin yang menegaskan, petani Banjarnegara tidak pernah kesulitan untuk menemukan aroma pedas di setiap menu masakan sepanjang tahun karena ketersediaan rawit hijau melimpah.

“Masyarakat sini sudah terbiasa menggunakan rawit hijau untuk membuat sambal. Kalau masalah warna memang kurang menarik dibandingkan dengan rawit merah, tetapi rasa tetap pedas,” ungkapnya.

 

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018