Selasa, 27 September 2022


Singapura Butuh 20 ton Jeruk Keprok Gayo

23 Agu 2022, 10:11 WIBEditor : Gesha

Pak Wignyo Penyuluh dan Penangkar Jeruk Keprok Gayo. | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Gayo --- Permintaan jeruk keprok di luar negeri seperti Singapura ternyata cukup tinggi, tak kurang 20 ton setiap minggu. Karena itu, diharapkan pengembangan jeruk keprok di tanah kopi ini harus mendapatkan perhatian penuh.

Indonesia dikenal sebagai penghasil jeruk keprok dari kawasan tropis, bahkan banyak jenis jeruk keprok yang sudah cukup dikenal seperti keprok Soe NTT, keprok punten, Batu, Malang, keprok Gayo, Madura, Garut dan keprok Brastagi, Sumut. Dibandingkan dengan jeruk keprok lainnya, keprok Gayo memiliki keunggulan tersendiri, bahkan bisa tumbuh di dataran tinggi.

Pemerhati pertanian Ir Teuku Iskandar MSi saat wawancara dengan tabloidsinartani.com mengatakan, keunggulan jeruk keprok asal Gayo telah terbukti dan diakui secara nasional. Pasalnya tahun 2010 sebagai Juara 1 perlombaan jeruk Nusantara di Batam. "Bahkan saat 2012 keunggulan jeruk keprok Gayo juga pernah tampil dalam pameran (ekspose) di Singapura," jelasnya.

Bahkan, sewaktu kepemimpinan Gubernur Zaini Abdullah (2016) sudah mendapat indikasi geografis dari Kemenkum HAM serta tidak ada di daerah lain.

Iskandar menambahkan, jeruk keprok Gayo memiliki bentuk buah yang besar dan warna kuning kehijauan serta aromanya yang luar biasa sehingga membuat jeruk ini dapat dijadikan sebagai komoditas ekspor yang bisa menghasilkan devisa negara."Namun kita kesulitan memenuhi permintaan pasar Singapura sebanyak 20 ton setiap minggu," lirihnya. 

Iskandar menjelaskan, Jeruk Keprok Gayo umumnya di tanam campuran (Intercroping Jeruk dengan Kopi Gayo). "Kita sangat berharap ada pengusaha (Agrobisnis Jeruk Keprok Gayo) yang membangun kebun jeruk monokultur dan kawasan khusus keprok Gayo. Sehingga menjadi komoditi ekspor yang bisa memenuhi standar ekonomis. 

Ditambahkan, kita perlu juga menyiapkan pemetaan wilayah spesifik komoditi Jeruk dan Kopi Arabica Gayo. Karena kedua komoditi ini termasuk komoditi unggulan dataran tinggi Gayo yang mempunyai nilai kempetitif untuk ekspor. "Pemerintah hendaknya serius melihat potensi ekonomi jeruk melalui demplot monokultur dengan kajian scientifik," harapnya.

Dari hasil demplot tersebut nantinya para pengusaha atau stakeholder bisa melakukan pengembangan untuk lahan 20 - 50 hektar sebagai Demfarm yang berfungsi juga sebagai Agro Teknopark Jeruk Keprok Gayo. "Dengan adanya demfarm tersebut menjadi model bagi investor untuk berinvestasi membangun kebun jeruk keprok Gayo," pungkasnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018