
Buah naga P4S Pucangsari mampu menembus pasar ekspor
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Kementerian Pertanian terus mendorong pelaku usaha mengembangkan sayapnya dalam memasarkan produknya, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Untuk bisa menembus pasar ekspor, banyak hal yang perlu diketahui.
Ketua P4S Pucangsari sekaligus Ketua Kelompok Pucangsari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Rukiyan berbagi pengalaman pengurus P4S untuk menembus pasar ekspor buah naga.
Rukiyan bercerita, pada awal mengembangkan buah naga dirinya sempat mengalami kemajuan, bahkan harga menembus Rp 20-30 ribu/kg. Namun periode tahun 2016-2017 mengelami penurunan dan harga jatuh, karena produksi melimpah dengan banyaknya petani membudidayakan buah naga.
“Kami kemudian mengajak petani membuat strategi agar buah naga kembali meningkat, baik kualitas, kuantitas dan harga,” katanya saat saat Bertani on Cloud (BOC) ke 207 yang diselenggarakan Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan. Tema BOC kali ini adalah “Naga Merah P4S Pucangsari Menembus Ekspor”, beberapa waktu lalu.
Rukiyan mengungkapkan, bukan hanya petani, dirinya juga membuat kerjasama dengan dinas pertanian dan eksportir agar produk buah naga petani bisa naik dan masuk pasar domestik dan ekspor. “Kami kemudian mengikuti misi dagang, hingga ke beberapa negara hingga ke Malaysia dan Cina agar produk buah naga petani Banyuwangi dikenal dan apa benar buah naga kita dibutuhkan,” tuturnya
Setelah itu lanjut Rukiyan, pengurus kelaompok tani menyiapkan dokumen terkait hasil produksi/musim untuk bisa masuk ke negara ekspor, menerapkan budidaya yang baik sesuai SOP dan menyiapkan dokumen hasil dari Karantina Pertanian.
Setidaknya menurut Rukiyan, ada tiga syarat agar kualitas produk yang dihasilkan memenuhi standar ekspor. Pertama, menyiapkan hasil estimasi per musim. Kedua, melakukan budidaya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan registrasi kebun. Terakhir, dokumen hasil inspeksi dari pihak Karantina.
“Untuk memperluas, kami ajak pelaku usaha, asosiasi dan petani bisa budidaya buah naga yang baik. Sebab, salah satu syarat ekspor adalah kita harus punya budidaya yang baik dan ada legalitas melalui registrasi kebun,” ungkapnya.
Rukiyan mengingatkan kepada petani untuk menjaga kontinuitas produk pertanian. Saat ini, pihaknya berhasil menjaga keberlangsungan buah naga untuk diekspor menggunakan teknologi.
Menurutnya, salah satu komoditas yang bisa berbuah sepanjang tahun adalah buah naga yang ada di Kabupaten Banyuwangi. “Sebetulnya buah naga secara alami musimnya hanya sekitar 6 bulan. Tapi, kami bisa memproduksi sepanjang tahun dengan teknologi, seperti pemakaian lampu," katanya.
Terakhir ia menekankan bahwa buah naga yang akan diekspor harus sesuai dengan SOP dan Good Agricultural Practices (GAP) agar produk tersebut memenuhi standar global, seperti negara Eropa dan Asia yang sudah ia masuki.
"Jadi, syarat utama untuk ekspor adalah punya registrasi kebun, termasuk di dalamnya legalitas. Alhamdulillah kami sudah punya legalitas sejak 2016, sehingga kami bisa ekspor," katanya.
Untuk itu ia berharap petani bisa budidaya dengan baik dan benar agar produk yang dihasilkan bisa masuk ke pasar domestik dan internasional. “Kami sudah merasakan dan luar biasa mensejahterakan petani, khususnya di Banyuwangi," ujarnya.
Dalam arahannya, Kepala BPPSDMP, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, pentingnya petani, khususnya petani milenial untuk mengembangkan usahanya dengan sebaik-baiknya sehingga dapat bersaing di pasaran dunia. “P4S dalam mengembangkan dan meningkatkan usahanya perlu adanya bimbingan dari dinas terkait, terutama Dinas Pertanian dan BBPP Ketindan selaku pembina P4S Jawa Timur,” ujar Dedi.
Menurut Prof. Dedi, jika berbicara mengenai ekspor bukan hanya soal produksi dan produktivitas, tapi juga kualitasnya. Selain itu, pelaku usaha juga harus mengetahui apa yang diminta negara-negara tujuan ekspor, termasuk protokol kesehatan. “Ini harus kita mengerti agar produk yang akan diekspor lancar,” tegasnya.
Tidak kalah penting adalah ekspedisi agar produk yang dikirim tidak rusak, termasuk prosedur karantina yang harus dilalui. “itulah tantangan kita ekspor produk pertanian,” katanya. Karena itu, Dedi mengaku senang dengan adanya P4S yang akan mengekspor buah naga ke negara tetangga, seperti Singapura dan Brunei.
Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan mendorong petani muda untuk bergairah dan memiliki kreativitas mengelola sektor pertanian sehingga menghasilkan produk siap pakai. Tidak hanya itu, petani milenial yang agresif dalam dunia pertanian juga akan didukung oleh jajaran pemerintah.