Minggu, 14 April 2024


Produksi Menurun, Petani Bawang Merah Enrekang Dapat Bantuan Sumur Bor

10 Nov 2023, 14:46 WIBEditor : Herman

PJ Gubenur Sulsel, Bahtiar Baharuddin Panen Bawang Merah di Enrekang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM,  Enrekang --- Kemarau panjang berdampak besar pada penurunan produksi bawang merah Enrekang. Karena itu,  Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan memberikan bantuan sumur bor kepada petani.

Hal tersebut di ungkapkan Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin saat melakukan panen bersama petani bawang merah di Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. 

Diketahui, Kecamatan Anggeraja memang dikenal sebagai penghasil bawang merah. Saat ini, harga komoditi ini tidak menentu.

"Kawasan Anggeraja ini adalah penghasil bawang merah. Dan bawang merah ini merupakan salah satu komoditi unggulan kita di Sulsel," kata Bahtiar.

Ia mengatakan, kehadirannya saat dilakukan panen bawang, untuk memberikan motivasi kepada para petani di Kabupaten Enrekang.

Apalagi, dengan kondisi El Nino, produksi bawang merah agak berkurang.

"Saya diskusi tadi dengan petani, per kg yang ditanam dia harus mengeluarkan biaya Rp13.000. Jadi kalau kecil bawangnya, maka kecil pendapatannya. Salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan, airnya harus tercukupi," ujarnya. 

Apalagi, saat ini harga bawang merah mencapai Rp17.000 per kg nya. Masih ada selisih, meskipun kecil.

"Khusus untuk di sini masyarakat membutuhkan sumur bor, ini memang hanya bagian yang harus kami diskusikan dengan teman-teman di provinsi," katanya. 

Menurut dia, Enrekang hanya dapat tiga, dari 65 sumur bor yang dikerjasamakan dengan TNI. 

Ini tentu tidak cukup. Sementara, kebutuhan banyak sekali.

"Semoga di tahun 2024, kita bisa adakan (sumur bor) di kawasan ini," ujarnya.

Ia mengungkapkan, lahan pertanian di Kabupaten Enrekang saat ini 15 ribu hektare.

Ada 500 hektare diantaranya yang bisa digunakan untuk budidaya pisang cavendish. 

"Ini sedang kami diskusikan dengan Pak Bupati dan Kadis Pertanian. Supaya tidak pakai lama dan masyarakat ada komoditi alternatif. Cabai tetap lanjut, tomat, sayur-sayuran, dan komoditi andalan bawang merah tetap dilanjutkan. Khusus pisang cavendish, kita pastikan semua mulai dari harga, baik pembeli lokal maupun mancanegara," jelasnya. 

Sementara itu, Kelompok Mitra Champion Bawang Merah, Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kasmidi, menjelaskan, saat ini para petani masih bergantung dengan air dari sungai yang ditarik mengunakan mesin.

Padahal kebutuhan air untuk bawang merah sangat banyak. Karena itu saat ini para petani hanya bisa memenuhi air tiga hari sekali siram. Padahal, biasanya setiap hari. 

"Kalau cuaca mendukung dengan bibit 500 kg bisa menghasilkan sampai 7 ton. Kalau kondisi sekarang karena El Nino hasilnya jb. Dari 500 kg paling nanti hasilnya 4 ton saja," ungkap Kasmidi.

Reporter : Suriady
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018