
Gerakan pengendalian OPT cabai di Maros
TABLOIDSINARTANI.COM, Maros---Kementerian Pertanian menggelar gerakkan pengendalian hama dan penyakit tanaman (organisme penggangu tumbuhan/OPT) pada tanaman padi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dengan gerak cepat tersebut diharapkan produksi cabai di wilayah tersebut tidak tergganggu.
Direktur Perlindungan Hortikultura, Jekvy Hendra bersama tim langsung bergerak cepat turun lapangan ke lokasi penyangga aneka cabai di Kabupaten Maros. "Kami bersama tim bergerak cepat memastikan kondisi lapangan. Di Kecamatan Tanralili, Cenrana, Camba dan Mallawa kondisi pertanaman yang eksisting seluas kurang lebih 250 ha ada yang panen dan ada baru tanam," kata Jekvy.
Berdasarkan pengamatan di lapangan ditemukan adanya serangan OPT seperti thrips dan antraknosa pada tanaman cabai. Pengendalian langsung dilakukan melalui kuratif sekaligus preventif bagi pertanaman yang masih eksisting di lapangan.
Tim langsung turun tangan melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Pemberian Agen Pengendali Hayati (APH) bekerja sama dengan IP3OPT wilayah Maros untuk menfasilitasi pemberian trichoderma, PGPR dan POC. ”Penambahan Trikompos yang sudah matang dengan dosis 5-10 ton per ha menjadi hal yang segera diimplementasikan oleh para kelompok tani,” katanya.
Muh. Shaleh, Ketua Kelompok Tani Sejati yang juga merupakan petani milenial Kecamatan Cenrana saat ditemui di lapangan, tepatnya di Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana menjelaskan, di wilayahnya saat ini fokus pada budidaya aneka cabai, khususnya cabai besar kurang lebih 30 Ha.
Saat ini kondisi pertanaman cukup bagus, tingkat serangan OPT terkendali khususnya antraknosa dan busuk buah. ”Kelompok kami baru panen ke 4, sehingga kami berharap ketersediaan aneka cabai aman sampai Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Petani kata Shaleh, memberikan apresiasi kepada Kementan yang bergerak cepat dalam penanganan DPI dan OPT di lapangan. Petani juga berterima kasih kepada tim POPT yang memberikan bimbingan dan pendampingan OPT ramah lingkungan di lapangan. ”Kami bersama kelompok akan fokus pada penggunaan Agens Pengendali Hayati : PGPR, Trichoderma, pupuk organik cair dan Pupuk Kompos di lapangan,” katanya.
Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto menegaskan, kondisi ketersediaan pangan khususnya bawang merah dan aneka cabai masih kondisi aman. Saat ini kondisi bawang merah di lapangan ada yang panen dan ada yang baru tanam, sehingga pertanaman dan ketersediaan diharapkan akan aman.
Begitupun halnya untuk aneka cabai kondisi lapangan ada yang lagi panen dan tanam. Harga di tingkat petani memang bervariasi khususnya cabai merah di harga kisaran Rp. 45.000 - 50.000.
Anton mengakui, kondisi El Nino Gorilla saat ini memang menjadi salah satu faktor pembatas terkait dengan kondisi pertanaman di lapangan. Saat ini beberapa lokasi ada serangan OPT seperti serangan ulat daun dan thrips pada bawang merah serta serangan Antraknosa/bercak buah, virus kuning melanda pada beberapa lokasi penyangga cabai dan bawang merah nasional.
Mengatasi hal tersebut, Plt.Sekjen Kementan itu menjelaskan bahwa langkah preventif dan kuratif sudah dilakukan dengan kegiatan gerakan pengendalian. Gerdal sudah dilakukan sekitar 6.800 Ha, Penerapan PHT di 145 kelompok dan penanganan fasilitasi dampak perubahan iklim berupa sumur dalam, sumur dangkal, pompa air, irigasi sederhanana, pipanisasi. ”Alhamdulillah masih dapat tertangani dengan baik di lapangan,” ujarnya.