Minggu, 14 April 2024


Mengangkat Pedasnya Cabai Hiyung Kalsel Menuju Hasil Berkualitas

12 Peb 2024, 15:55 WIBEditor : Gesha

Cabai Hiyung Kalsel | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Tapin --- Di tengah keragaman potensi cabai, muncul bintang baru yang menyita perhatian: Cabai Hiyung. Dengan tingkat kepedasan mencapai 17 kali lipat dari cabai biasa, cabai ini telah menorehkan namanya dalam dunia kuliner lokal.

Di Kalimantan Selatan, cabai Hiyung segar telah diolah menjadi berbagai produk olahan, seperti abon cabai, sambal, cabai bubuk, dan lainnya.

 

Tumbuh subur di lahan rawa Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, keunikan Cabai Hiyung tidak hanya terletak pada rasa pedasnya yang memikat, tetapi juga pada kemampuan daya simpannya yang tahan lama hingga 10 hari pada suhu ruangan normal.

 

Keberadaannya semakin dikenal di masyarakat Indonesia setelah dijadikan varian olahan saus oleh perusahaan swasta ternama, memicu peningkatan permintaan terhadap cabai Hiyung.

Namun, produksi cabai Hiyung masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah rendahnya produktivitas cabai rawit Hiyung, meskipun luas tanamannya meningkat dari tahun sebelumnya.

Salah satu faktor penyebab rendahnya produksi cabai adalah penggunaan benih yang kurang berkualitas. Perbenihan merupakan sektor industri hulu yang strategis dalam pembangunan pertanian.

Penggunaan benih berkualitas akan menghasilkan tanaman sehat dan produktif, yang dapat meningkatkan produksi. Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Kalsel telah menguji benih yang dihasilkan oleh petani penangkar benih di Desa Hiyung, namun hasil pengujian menunjukkan bahwa benih cabai belum memenuhi persyaratan teknis minimal (PTM) sesuai dengan standar Kementerian Pertanian terkait benih hortikultura, khususnya cabai.

Oleh karena itu, dengan kolaborasi bersama BBPSB Provinsi Kalimantan Selatan, BPSIP Kalsel fokus pada penerapan standar perbenihan cabai.

Pendampingan ini merupakan upaya untuk meningkatkan produksi dan mutu benih cabai. Penerapan standar perbenihan cabai menjadi tonggak penting dalam revitalisasi sektor pertanian.

Melalui inovasi dan implementasi standar perbenihan yang sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP), pertanian cabai tidak hanya akan meningkatkan hasilnya, tetapi juga menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Pendampingan dan Sertifikasi Benih

Pendampingan ini ditujukan kepada Kelompok Petani Karya Baru di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, dengan rekomendasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Tapin karena kelompok ini tidak hanya aktif dalam budidaya tetapi juga dalam pengolahan cabai menjadi berbagai produk olahan. Kegiatan penerapan standar meliputi pelatihan teknis produksi benih cabai, pendampingan budidaya sesuai dengan GAP, dan fasilitasi produksi benih.

Bimbingan teknis tentang produksi dan sertifikasi benih cabai melibatkan narasumber dari BPSI Sayuran dan BBPSB Provinsi Kalimantan Selatan. Pelatihan mengenai pentingnya standar perbenihan menjadi kunci dalam transformasi ini. Dengan pengetahuan yang memadai, petani dapat memahami manfaat benih berkualitas dan menerapkan praktik terbaik dalam budidaya cabai.

Selain bimbingan teknis, BPSIP Kalsel memberikan contoh tanam dalam bentuk demplot. Langkah konkret dalam menerapkan GAP mencakup pemilihan benih terpercaya dan praktik pertanian berkelanjutan. Dengan mematuhi standar ini, petani memastikan setiap fase pertumbuhan cabai dilakukan dengan baik, mulai dari perkecambahan hingga panen.

Meskipun menghadapi kendala seperti belum adanya SOP untuk produksi benih cabai bersari bebas dan kondisi iklim yang tidak mendukung, kolaborasi ini berhasil menciptakan SOP Budidaya Cabai Hiyung. Upaya penyiraman dan komunikasi intensif dengan petani penangkar menjadi solusi untuk mengatasi kendala iklim.

Dengan demikian, penerapan standar perbenihan cabai bukan hanya langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan nasional. Kolaborasi antara pemerintah dan petani membentuk fondasi kuat untuk masa depan pertanian yang berkelanjutan. Cabai Hiyung tidak hanya bumbu, tetapi simbol keberlanjutan dan kemajuan di dunia pertanian Indonesia.

 

Penulis : Ahmad Subhan, Awanis, Lelya Pramudyani 

BPSIP Kalimantan Selatan

 

 

Reporter : BPSIP Kalsel
Sumber : BBPSIP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018