Minggu, 14 April 2024


Makin Diminati, TSS Jadi Andalan Dongkrak Produksi Bawang Merah Jateng

01 Mar 2024, 10:04 WIBEditor : Herman

Pertanian Bawang Merah Jawa Tengah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Benih TSS (True Shallot Seed) atau benih biji bawang merah (Allium Ascalonicum L) kini makin diminati. Selain karena berbagai keuntungn yang didapat petani, varian TSS yang makin banyak serta adanya inovasi dalam implementasi di lapangan membuat TSS kini menjadi andalan.

Benih TSS sudah dikenal di Provinsi Jawa Tengah sejak 10 tahun lalu, tapi angka kegagalan masih tinggi, sehingga stuck, tidak berkembang. Namun akhir-akhir ini TSS bawang merah kembali menjadi trending topic, diminati petani bawang merah di Jawa Tengah.

Bandingkan saja, kebutuhan bibit umbi bawang merah 1 ton / Ha, harga per kg  @ 60 rb, serhingga total perlu biaya  Rp 60 juta  per ha. Kalau menggunakan  TSS hanya perlu 4 kg per hektar dengan harga  @ Rp 4 jt per kg, sehingga kebutuhan biaya bibit hanya  Rp 16 juta  per hektar.

Kepala Bidang Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Ir. Ani Mulyani, menjelaskan turun naik perkembangan TSS tersebut.

“Ada beberapa faktor mengapa TSS bawang merah kurang berkembang. Yang pertama karena pada waktu itu baru ada 1 varietas saja yang tersedia, yaitu varietas Tugtug dari Thailand, sehingga petani tidak mempunyai pilihan varietas lain” terangnya.

Lebih lanjut Ani mengatakan bahwa waktu itu angka kegagalan penggunaan TSS  untuk budidaya bawang merah dilapangan masih cukup tinggi, sehingga petani enggan melanjutkan penggunaan TSS.

Seiring berjalannya waktu, para petani dan petugas pendamping dari dinas pertanian mengetahui biang kerok kegagalan TSS dilapangan. Yang pertama karena TSS ditanam langsung di lahan, Tanaman muda bawang merah sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Sehingga TSS perlu disemai dahulu dalam petak pembibitan.

Dengan pola konvensional justru tanaman bawang merah mengalami resiko kerusakan lagi yaitu pada saat transplanting atau pindah tanam. Perakaran tanaman rusak karena bibit dicabut dari petak pesemaian.

“ Jalan keluar  untuk hal-hal semacam itu sekarang telah ditemukan” kata Ani “ Pada saat ini telah beredar berbagai varitas  TSS bawang merah, dari produsen benih terakreditasi di Indonesia, sehingga petani mempunyai banyak pilihan” tambahnya.

Untuk menghindari kerusakan akar pada saat transplanting, petani menyemaikan TSS bawang merah pada tray (nampan pembibitan), yang dapat digunakan beberapa kali. Dengan pembibitan TSS dengan cara ini diperoleh beberapa keuntungan ganda.

Yang pertama angka kegagalan akibat serangan hama, penyakit dan kerusakan akar pada saat transplanting dapat ditekan se minimal mungkin. Keuntungan kedua pembibitan selama 30 hari, dapat dibuat di pekarangan rumah. Sehingga lahan pertanian   selama 30 hari. tersebut dapat dimanfaatkan. Misalnya ditanami pakcoy yang dapat dipanen pada umur 30 hari.

Pembibitan TSS dengan metode tray ini sekarang makin cerah, dengan ditemukannya alat penebar biji oleh Supriyono, petani di desa Karanganyar, kecamatan Adipala, kabupaten Cilacap. Alat ini oleh penemunya diberi nama MOF  singkatan dari Manuver of Farmer.

Diruang kerjanya, Ani Mulyani dibantu Shafiq Arfianto, SP dan Galih sempat meperagakan cara kerja MOF tersebut. Dengan menggunakan  MOF menebarkan benih bawang merah yang kecil-kecil tersebut jadi cepat dan efisien. Bibit bawang merah yang dihasilkan dapat berupa bawang merah tunggal atau bawang merah umbi ganda.

Diungkapkan Shafiq Arfianto, pada 2024 ini akan dibantu 6 kelompok tani bawang merah di 6 kabupaten untuk pengembangan bawang merah menggunakan bibit asal biji (TSS).

Bantuan Pengembangan Bawang mera tahun 2024 tersebut berada di TSS Cilacap, Kendal, Dema, Brebes, Pemalang dan Wonogiri dengan total areal seluas 20 Ha. Bantuan dari Distanbun Provinsi Jawa Tengah berupa Alat MOF (Manuver of Farmer)  3 unit /Ha, benih bawang merah sebanyak 3 kg /Ha, Tray bibit sebanayak  145 lembar  per Ha, Media semai  berupa campuran  media, kompos dan  tricoderma, kemudian dibantu pula plastik UV Screen.

Atas pengalaman di lapangan, Ani Mulyani menilai bahwa inovasi baru pengembangan bawang merah dengan TSS lebih mudah didaerah baru. Didaerah penghasil bawang merah lama cenderung mempertahankan cara budidaya lama.

Reporter : Djioko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018