Sabtu, 25 Mei 2024


Dukungan Pelaku Usaha

14 Mar 2024, 16:19 WIBEditor : Yulianto

Webinar Jaga Stabilitas Harga dan Ketersediaan Bawang-Cabai Jelang Lebaran | Sumber Foto:Sinta

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Candra menjamin stok bawang merah untuk Lebaran mendatang akan aman. Meski pada akhir Februari dan awal Maret ada beberapa wilayah terjadi banjir, namun tidak mengurangi volume dan tonase pada saat panen. “Jadi masih dalam kondisi surplus untuk mensuplai kebutuhan saat Ramadhan dan Idul Fitri,” katanya.

Saat ini stok bawang merah yang ada di 18 Champion sebanyak 4.110 ton untuk periode Februari = April 2024. Sedangkan stok yang ada di ABMI sekitar 1.500 ton. Dengan demikian, pasokan dan harga bawang merah periode  Januari – Maret 2024 akan aman. “Bahkan saat ini cenderung tertekan rendah akibat banjir yang melanda sentra utama seperti Brebes, Demak, Grobogan, Kendal dan sebagainya,” katanya.

Meski menurut data EWS (Early Warning System) neraca kumulatif masih terhitung aman, Namun Alex mengingatkan perlu diwaspadai potensi kenaikan harga setelah Lebaran, akibat berkurangnya pertanaman pada Maret-April 2024. Selain itu juga harga benih kemungkinan akan naik.

Sementara itu Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid mengatakan, sistem budidaya dan pelaku SDM. Umumnya petani belum paham dalam budidaya khusus mengolah lahan dan penggunaan pupuk, terutama pupuk organik. “Masalah utama memang dalam sistem budidaya,” ujarnya.

AACI memprediksi produksi cabai 60 persen pasokan dari Jawa Timur yakni cabai merah besar dan cabai rawit merah. Sedangkan wilayah lain, Jawa Tengah 25 persen, Jawa Barat 13 persen dan lainnya 2 persen. “Karena itu  arah memperkuatnya adalah di Jawa Timur.  Apalagi kondisi terakhir, kita menghadapi kekeringan panjang,” ujarnya.

Solusi menghadapi masalah yang ada adalah perlu adanya SOP dalam budidaya cabai dan perlunya transformasi teknologi budidaya tanaman. Bahkan ke depan harus dikembangkan green house, sehingga cabai dapat berproduksi di luar musim panen. “Di green house kita bisa panen 50 kali, kalau di lahan terbuka paling banyak 12-30 kali panen,” ujarnya seraya berharap dukungan dari semua pihak, pemerintah pusat, dinas pertanian dan swasta.

Manager Marketing PT. Dharma Guna Wibawa (DGW), Bambang Supriadi mengatakan, cabai dan bawang menjadi komoditas yang menjadi bumbu wajib kuliner Indonesia dan berkontribusi dalam kenaikan inflasi. Misalnya, pada tahun 2023, cabai menyumbang inflasi sebesar 0,34 persen dan bawang merah 0,04 persen.

Fluktuasi harga menurutnya, terjadi akibat dari ketersediaan stok. Untuk itu perlu upaya mempertahankan potensi hasil yang optimal dan membantu petani dalam penanggulangan OPT secara tepat.  

Untuk bawang merah OPT utama yang sering menyerang adalah Thrips dan pengorok daun, moler/fusarium pada umbi, batang dan akar. Sedangkan OPT tanaman cabai yang perlu diwaspadai adalah thrips pada daun dan antraknosa (patek) yang menyerang buah dan batang.

“Untuk mengatasi OPT tersebut, kami sudah merekomendasikan petani untuk menggunakan produk Sofguard untuk mempercepat penyembuhan tanaman dan Corona untuk pengendalian patogen,” tuturnya.

Sedangkan Direktur CV Bima Agung Sejahtera, Wibawa Handaka mengatakan, tantangan dalam budidaya cabai dan bawang merah saat ini adalah kondisi iklim yang makin sulit ditebak dan peningkatan serangan hama dan penyakit. Kondisi lahan pertanian juga banyak yang sakit.

“Jika tanah tidak disehatkan kembali, maka akan berimbas pada produksi. Karena itu, bila tanah tidak dibenahi dahulu, sulit akan berproduktivitas baik,” katanya. Pihaknya berupaya memberikan solusi kepada petani dengan memproduksi Nutrizim, baik dalam bentuk Pupuk Organik Cair (POC), Pupuk Hayati, Pupuk Organik Padat dan Pupuk Organik Granula.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018