Selasa, 23 Juli 2024


Bawang Merah Konde Asal Enrekang Penuhi Kebutuhan Jawa

29 Apr 2024, 13:58 WIBEditor : Yulianto

Petani bawang merah Enrekang | Sumber Foto:Humas Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Enrekang---Ketika pertanaman bawang merah di Pulau Jawa banyak yang gagal panen, petani bawang merah Enrekang justru mampu panen dengan baik. Bahkan telah mamsok kebutuhan untuk Pulau Jawa.    

Ketua Kelompok Tani Eran Batu sekaligus Champion Bawang Merah Enrekang, Kasmidi menyatakan, pihaknya telah beberapa kali pengiriman stok bawang merah ke wilayah Jawa. Misalnya setelah Lebaran, sejumlah pengusaha bawang merah Enrekang mengirim sebanyak 200 ton untuk menyuplai Jawa.

Bahkan saat ini bawang merah Enrekang sudah mulai masuk Pasar Induk Kramat Jati. Namun demikian, harus diproses rogol dulu di Demak dan Brebes untuk efisiensi biaya pemrosesan, karena bawang merah dari Enrekang dikirim masih dalam bentuk konde.

Lahan bawang merah petani binaan Kasmidi sendiri saat ini terpantau tertanam seluas 100 ha dan diproyeksikan untuk memasok wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, Addi menyatakan, pihaknya terus mendorong bawang merah dari Enrekang untuk dapat memasok wilayah Jawa.

Bawang merah Enrekang saat ini sudah memenuhi kebutuhan wilayah Sulawesi. Sebagian juga sudah memamsok permintaan hingga ke Balikpapan, Samarinda, Ternate dan Papua. "Untuk wilayah Jawa juga sudah mulai kami dorong untuk ditingkatkan,” ujar Addi.

Meskipun bawang merah yang ditanam di Enrekang didominasi bawang merah varietas Tajuk dan Super Phillips, menurutnya, permintaan bawang merah jenis tersebut tetap meningkat seiring peningkatan harga bawang merah jenis Bima Brebes.

Bawang Konde

Diketahui bahwa bawang merah yang dikirimkan ke luar Sulawesi masih dalam bentuk konde kering panen atau sekitar 10-12 hari setelah panen. Bawang merah tersebut kemudian dilakukan perogolan di daerah tujuan sebelum didistribusikan ke pasar retail. Untuk pengiriman ke wilayah Jawa saja membutuhkan waktu selama 2 hari. Sedangkan untuk Papua bisa mencapai 4-5 hari. 

Berbeda dengan kondisi di wilayah Jawa, wilayah sentra terbesar bawang merah di pulau Sulawesi yakni Kabupaten Enrekang masih dapat berproduksi dengan baik. Pemantauan langsung Tim Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian bersama para Petugas Penyuluh Lapangan setempat, mencatat setidaknya 1.080 ha bawang merah siap dipanen pada minggu terakhir bulan April 2024.

Sementara pada Mei diperkirakan dipanen seluas 1.733 ha. Dengan produktivitas mencapai 14 ton/ha, diperkirkan produksi bawang merah Enrekang untuk minggu terakhir April 2024 mencapai 15.120 ton dan Mei sebanyak 24.262 ton. Produksi tersebut tersebar di beberapa kecamatan seperti Anggeraja, Alla, Masalle, Baraka dan Malua.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sepanjang tahun 2023 lalu Enrekang tercatat mampu memproduksi bawang merah sebanyak 175.933 ton dengan luas panen mencapai 13.669 ha. Capaian tersebut menempatkan Enrekang sebagai produsen bawang merah terbesar ke-4 secara nasional setelah Brebes, Solok dan Nganjuk.

Seperti diketahui, harga bawang merah yang mengalami kenaikan menjelang dan pasca Lebaran tahun 2024, disinyalir berbagai kalangan dipicu oleh terganggunya produksi akibat terjangan banjir di sentra-sentra utama yang membentang sepanjang Pantura Jawa seperti Cirebon, Brebes, Kendal, Demak, Pati hingga Probolinggo.

Diperkirakan lebih dari 2.500 hektar (ha) lahan bawang merah yang diharapkan bisa panen setelah Lebaran, mengalami puso atau gagal panen akibat banjir. Tingginya permintaan saat Lebaran, hambatan distribusi hingga keterbatasan tenaga kerja perogol, turut mengungkit terkereknya harga komoditas strategis penyumbang inflasi tersebut.

Ditemui ditempat terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Andi Muhammad Idil Fitri mengungkapkan, kondisi bawang merah nasional masih aman hingga Mei 2024. Produksi nasional masih dapat didukung dari wilayah sentra diluar Jawa seperti Solok, Bima dan Enrekang.

Berdasarkan perkiraan produksi dan neraca nasional, stok kumulatif bawang merah sampai Mei 2024 masih surplus. Namun diakui, memang sedikit rawan pada April ini karena kumulatifnya di bawah 10 ribu ton per bulan dan telah terbukti harga meningkat.

"Kami telah sampaikan ini setiap rapat rutin pengendalian inflasi nasional. Distribusinya saja saat ini yang perlu kita kawal dari wilayah surplus ke wilayah minus,” kata Idil.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018