Thursday, 12 February 2026


Poktan Pondok, Andalan Sayur Segar Dapur MBG Kabupaten Sikka

15 Jul 2025, 13:10 WIBEditor : Herman

Kelompok Tani Pondok, Desa Tilang, Kecamtatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT Pemasok Sayur Dapur MBG Kabupaten Sikka

TABLOIDSINARTANI.COM, Sikka — Di balik suksesnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka, ada peran penting kelompok petani di Desa Tilang, Kecamatan Nita.

Kelompok Tani Pondok, yang awalnya hanya beranggotakan 13 orang petani, kini menjadi tulang punggung penyedia sayuran segar bagi dapur MBG pertama yang berdiri di Sikka, Nusta Tenggara Timur.

Kelompok Tani Pondok yang dipimpin langsung Kepala Desa Tilang, Rofinus I.M. Luer. Sudah merasakan dampak nyata Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di awal 2025 bagi perekonomian petani kecil.

Dapur MBG Kabupaten Sikka yang resmi beroperasi sejak Januari 2025, dan sejak Februari 2025, sayuran segar dari lahan petani Tilang telah rutin dikirimkan ke dapur yang menyediakan makanan bergizi gratis untuk masyarakat.

“Ini bukan hanya program bantuan makan gratis. Bagi kami petani, MBG adalah gerbang pasar yang stabil. Hasil kebun kami ada yang menampung langsung, tanpa harus khawatir soal harga atau pembeli,” ujar Rofinus dengan semangat.

Kelompok Tani Pondok kini telah berkembang menjadi 20 anggota aktif. Dengan lahan garapan seluas 13 hektare, mereka secara konsisten menyuplai berbagai kebutuhan dapur MBG.

Komoditas sayuran yang dipasok antara lain mentimun, buncis, cabai, kacang panjang, tomat, hingga semangka. Beragai sayuran tersebut menjadi komoditas rutin dikirim ke dapur Makan Bergizi Geratis di Kabupaten Sikka sebagai tambahan variasi menu.

“Semangka menjadi salah satu andalan kami. Sekali kirim, kami bisa suplai 600 kilogram untuk satu sesi makan. Dalam seminggu, bisa sampai 1,8 ton hanya untuk semangka,” jelas Rofinus.

Selain itu, buncis mencapai rata-rata 120 kilogram per hari. “Dalam tiga hari pengiriman, kami bisa kirim ratusan kilogram sayuran segar.” Ujarnya.

Dengan adanya dapur MBG, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar tradisional yang fluktuatif. Harga yang ditetapkan dapur MBG mengacu pada harga pasar, dengan selisih tipis. “Kalau harga pasar Rp10.000 per kilogram, dapur MBG membeli Rp9.000. Ini sangat membantu karena kami tidak perlu lagi repot-repot membawa ke pasar,” imbuhnya.

Rofinus bercerita bagaimana awalnya kelompok mereka hanya mengandalkan tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan kemiri. Namun, pandemi COVID-19 di tahun 2020 menjadi titik balik.

“Saat itu kami tidak bisa ke pasar, tidak bisa keluar rumah. Saya mengajak warga mulai mencoba hortikultura. Awalnya kami buta soal itu, tapi dengan pendampingan Yayasan Bina Tani Sejahtera, perlahan kami belajar,” tuturnya.

Kini hasilnya terbukti. Petani Desa Tilang tidak hanya memenuhi kebutuhan di kampung sendiri, tetapi juga menyuplai kebutuhan pangan ke dapur MBG serta pasar di Kabupaten Sikka dan bahkan Flores Timur dan Lembata.

Namun, Rofinus mengakui perjalanan ini tidak selalu mulus. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat petani yang masih terbiasa dengan cara bertani tradisional.

“Masih banyak yang enggan mencoba pola baru. Mereka takut gagal. Apalagi kalau harga anjlok, mereka cepat menyerah. Tapi bagi yang bertahan seperti kami, hasilnya nyata.” Ujarnya.

Kendala lain adalah keterbatasan alat produksi. Semua lahan dikelola secara manual, dari mencangkul hingga panen.

“Kalau pemerintah bisa bantu traktor roda empat, tentu pengolahan lahan kami lebih cepat, hasilnya lebih optimal. Modal terbesar petani itu justru di pengolahan lahannya,” ujar Rofinus berharap.

Meski demikian, dengan adanya pasar MBG yang stabil, semangat petani semakin membara. “Saya sendiri sudah menyiapkan lahan tambahan untuk penanaman cabai karena kebutuhan dapur MBG semakin meningkat.” Tambah Rofinus.

Rofinus juga berharap program MBG terus diperluas. “Di Sikka baru ada satu dapur, kabarnya sedang dibangun lagi. Kami ingin dapur MBG makin banyak karena semakin banyak dapur, semakin besar permintaan sayur dari petani lokal.”

Sebagai pionir pemasok sayur untuk dapur MBG di Kabupaten Sikka, Kelompok Tani Pondok menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bisa tumbuh dari desa. Program MBG bukan hanya soal makanan gratis bagi masyarakat, tetapi juga penggerak ekonomi desa dan penyeimbang harga pasar bagi petani kecil.

“Kami berharap perhatian tidak hanya dari kabupaten, tapi juga dari provinsi dan pusat. Kami sudah membuktikan bisa, sekarang tinggal bagaimana pemerintah bisa lebih memberdayakan petani di kampung,” pungkas Rofinus.

Reporter : Eafi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018