
Anggur Ponjay Pendav
TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan — Upaya pengembangan anggur lokal di Tangerang Selatan terus menunjukkan kemajuan. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI) Tangerang Selatan sukses melaksanakan uji observasi terhadap varietas anggur introduksi bernama Ponjay Bendav.
Kegiatan ini digelar di kebun milik Kelompok Tani Cipayung (Ketancap), Komunitas Anggur Tangsel (KAT), yang berlokasi di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat.
Uji observasi ini merupakan langkah penting dalam proses pendaftaran Ponjay Bendav sebagai varietas lokal. Peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Drs. Muhammad Iskandar Ishaq, M.P., menjadi ketua tim penguji.
Menurutnya, anggur introduksi dapat didaftarkan sebagai varietas lokal jika telah lama dibudidayakan di Indonesia dan menunjukkan perbedaan karakteristik dari varietas aslinya.
“Cukup ada satu karakter morfologis atau agronomis yang berbeda, sudah bisa didaftarkan sebagai varietas,” jelas Iskandar.
Ponjay Bendav merupakan hasil budidaya dari varietas Transfiguration asal Ukraina. Setelah melalui masa tanam dan adaptasi di wilayah Tangerang Selatan, anggur ini memperlihatkan ciri khas tersendiri yang membedakannya dari varietas asal.
Karena proses budidayanya dilakukan oleh petani tanpa pemuliaan, maka varietas ini layak didaftarkan sebagai varietas lokal.

Proses uji observasi ini melengkapi kegiatan karakterisasi sifat morfologis dan agronomis yang sudah dilakukan sejak 2023. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sertifikat tanda daftar sebagai bukti kepemilikan.
Adapun dokumen hasil uji observasi akan digunakan bersama dokumen uji kebenaran dari balai pengawasan dan sertifikasi benih untuk mengajukan Surat Keputusan (SK) peredaran dari Kementerian Pertanian.
Ketua 1 Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASPAI, Roy Nurdin, menyatakan bahwa ASPAI menargetkan pendaftaran 11 varietas anggur introduksi lainnya sebagai varietas lokal.
“Pendaftaran varietas adalah bagian dari gerakan kami untuk mengurangi impor anggur. Lebih bagus lagi kalau kita bisa swasembada anggur,” ujar Roy.
Roy berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya turut memberikan dukungan agar program pendaftaran varietas lokal dan pengembangan budi daya anggur bisa berjalan lancar.
Penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Tangerang Selatan, Febry Putra, menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung proses legalisasi varietas lokal ini.

“Penting bagi kami untuk melepas varietas lokal anggur Ponjay Bendav, karena ini menjadi kebanggaan warga Tangsel. Saya ditunjuk sebagai operator untuk mengunggah dokumen pendaftaran secara daring,” jelas Febry.
Dukungan terhadap pengembangan anggur lokal juga datang dari istri Gubernur Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni. Tinawati memanen anggur Ponjay Bendav langsung dari kebun milik Kelompok Tani Cipayung.
“Senang sekali bisa langsung memanen anggur. Rasanya manis dan menyenangkan. Lelah pun terbayar,” ucap Tinawati.
Ia optimis bahwa budi daya anggur di Tangerang Selatan memiliki masa depan cerah, termasuk dari sisi pasar.
Acara panen tersebut juga dihadiri oleh Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie. Ia menyampaikan komitmennya untuk menjadikan Tangerang Selatan sebagai kota penghasil anggur.
“Kami melihat potensi besar. Lahan seluas 300 meter persegi saja sudah bisa produktif. Apalagi kalau lebih luas. Kami sudah komunikasi dengan para pemilik lahan, baik pengembang maupun institusi.Tinggal intensifkan komunikasi dengan petani,” kata Benyamin, walikota Tangerang Selatan periode 2025–2030.
Sementara itu Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten Erry Yanuar, SP MM, menyatakan, keberhasilan ini merupakan solusi cerdas di tengah keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan seperti Tangsel.
“Kota Tangsel tidak memiliki lahan sawah, jadi solusinya adalah urban farming dan penanaman anggur. Kota ini kini menjadi satu-satunya yang telah memiliki varietas anggur lokal bernama Ponjay Bendav. Ini harus terus dikembangkan,” kata Erry.
Ia menambahkan, Indonesia masih mengimpor anggur dengan nilai mencapai Rp 7 triliun per tahun. Dengan inisiatif lokal seperti Ponjay Bendav, Erry berharap kontribusi petani dalam negeri dapat menekan impor hingga 5 persen.
Keunggulan budidaya anggur di Indonesia, menurutnya, terletak pada kemampuannya beradaptasi di berbagai dataran dan fleksibilitas panen sepanjang tahun.
“Di negara empat musim panen anggur terbatas, tapi di Indonesia kita bisa panen kapan saja. Ini jadi keunggulan luar biasa,” ujarnya.
Selain Tangsel, daerah lain di Banten seperti Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Kabupaten Tangerang sudah mulai menanam anggur, namun belum menghasilkan varietas lokal seperti Ponjay Bendav.
Nama Ponjay Bendav sendiri berasal dari kombinasi dua nama yaitu “Ponjay” dari Kelurahan Pondok Jaya tempat induk tanaman ditanam, dan “Bendav” sebagai bentuk penghargaan kepada Walikota Benyamin Davnie.
Pembina DPP ASPAI Tangerang Selatan, Lista Hurustiati, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mengembangkan olahan keripik dari daun anggur.
“Kami sedang proses inovasi produk keripik daun anggur. Semoga anggota ASPAI Tangsel juga bisa terlibat dalam pembibitan, penanaman, dan perawatan. Harapannya, anggur Tangsel bisa masuk ke toko buah modern. Malang punya apel, Tangsel punya anggur,” ujar Lista yang juga dikenal sebagai Ibu Anggur Tangerang Selatan.
Ia juga berharap adanya bantuan tambahan berupa greenhouse agar pengembangan tanaman anggur di Tangerang Selatan bisa semakin maju.