Kamis, 22 Januari 2026


Stop Jual Mentahan! Ini Cara Kemendag Bikin Rempah RI Lebih Mahal di Pasar Global

16 Des 2025, 11:13 WIBEditor : Gesha

Kemendag pasang gigi penuh lewat hilirisasi rempah, membuka jalan agar pala, lada, hingga vanili RI naik kelas, bernilai tinggi, dan laku mahal di pasar global.

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Kemendag pasang gigi penuh lewat hilirisasi rempah, membuka jalan agar pala, lada, hingga vanili RI naik kelas, bernilai tinggi, dan laku mahal di pasar global.

Sudah terlalu lama rempah-rempah Indonesia pergi ke luar negeri dengan harga seadanya. Pala, lada, cengkeh, kayu manis, vanili, sampai temulawak, semuanya berangkat dari tanah Nusantara, tapi pulang-pulang justru hadir dalam kemasan mahal dengan label negara lain. 

Nah, babak itu pelan-pelan mau ditutup, salah satunya lewat peluncuran Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045, Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersiap mengubah cara main.

Peluncuran peta jalan ini dilakukan di Jakarta, Rabu (10/12), oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.

Momen itu seperti aba-aba start. Bukan cuma dokumen tebal penuh grafik, tapi sinyal bahwa rempah Indonesia tak mau lagi jadi penonton di etalase dunia.

“Kalau yang kita pasarkan masih bahan mentah, tentu daya saingnya rendah,” kata Mendag Budi Santoso.

Selama ini, Indonesia nyaman di posisi “punya bahan”. Tanah subur, iklim pas, sejarah rempah panjang. Itu yang disebut keunggulan komparatif.

Masalahnya, dunia sudah berubah. Pasar global tak lagi cuma menghargai siapa yang punya bahan, tapi siapa yang bisa mengolah, mengemas, dan bercerita.

Di sinilah hilirisasi masuk sebagai jurus pamungkas. Rempah tak lagi dijual dalam karung polos, tapi diubah jadi minyak atsiri, ekstrak, bumbu siap pakai, produk kesehatan, sampai bahan kosmetik. Nilainya melonjak. Marginnya naik. Petani, pedagang, industri ikut kebagian rezeki.

“Kalau kita hanya mengandalkan keunggulan komparatif, kita tidak akan mampu bersaing,” tegas Mendag. Hilirisasi, kata dia, adalah kunci lahirnya keunggulan kompetitif, senjata untuk melawan dominasi negara produsen besar seperti India dan Tiongkok.

 

Strategi Kemendag tak berhenti di pabrik dan mesin pengolahan. Urusan pasar juga digarap serius dengan akses ekspor diperlebar lewat berbagai perjanjian dagang internasional, mulai dari Indonesia–EU CEPA, Indonesia–Canada CEPA, Indonesia–Peru CEPA, hingga Indonesia–EAEU FTA dan PTA dengan Tunisia. 

Di sisi lain, UMKM tak dibiarkan jalan sendirian, ada program UMKM BISA Ekspor, yang memfasilitasi pelaku usaha kecil menembus pasar luar negeri lewat 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara. 

Tak cuma itu, Program Desa BISA Ekspor juga digulirkan untuk membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Desa bukan lagi sekadar penghasil bahan baku, tapi simpul ekonomi yang hidup, bernapas, dan terkoneksi.

Menariknya, rempah tak hanya dibaca sebagai komoditas ekonomi. Lewat Program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA), Kemendag bersinergi dengan lima kementerian dan lembaga lain mempromosikan kuliner Indonesia melalui restoran Indonesia di luar negeri.

Seperti diketahui, orang asing jatuh cinta pada rendang, kari, atau minuman herbal Indonesia. Dari rasa, muncul rasa penasaran.

Dari situ, permintaan rempah ikut terdongkrak. Pelan tapi pasti, rempah Indonesia naik kelas, bukan cuma di rak supermarket, tapi di lidah dunia.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengingatkan sejarah panjang yang pahit-manis.

Indonesia pernah dijuluki mother of spices. Namun ironisnya, kejayaan rempah di masa lalu justru lebih banyak menguntungkan bangsa lain.

“Kini, melalui peta jalan ini, kita ingin kejayaan itu kembali untuk Indonesia,” ujarnya. 

Senada, Deputi Kemenko PMK Warsito Taruno menegaskan bahwa rempah adalah jati diri bangsa. Bukan sekadar angka ekspor atau grafik pertumbuhan, tapi simbol peradaban yang pernah membuat dunia berlayar jauh ke Nusantara.

Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 memang bukan solusi instan. Butuh konsistensi, koordinasi lintas kementerian, dukungan industri, dan keberpihakan nyata pada petani.

Indonesia tak mau lagi dikenal sebagai penjual bahan mentah. Rempah harus naik pangkat, lebih mahal, lebih berkelas, lebih berdaulat. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018