
Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) Kementerian Pertanian bersama Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta membangun Desa Mandiri Benih di Kabupaten Gunungkidul.
TABLOIDSINARTANI.COM, Gunungkidul --- Bawang merah menjadi salah satu produk hortikutura strategis yang mendapat pengawalan pemerintah, karena dapat menyebabkan inflansi. Untuk menahan gejolak harga komoditas tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) Kementerian Pertanian bersama Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta membangun Desa Mandiri Benih di Kabupaten Gunungkidul.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaan program, Polbangtan Yoma kembali dipercaya mendampingi Kelompok Tani Ngudi Makmur II di Padukuhan Klayar, Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.
Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memproduksi benih bawang merah bermutu dan bersertifikat sehingga mampu memenuhi kebutuhan benih secara mandiri.
Melalui pendampingan intensif tersebut, petani berhasil memanen benih bawang merah varietas Bima Brebes berlabel ungu atau benih pokok (Stock Seed/Registered Seed) pada Jumat (3/7). Benih ini memiliki kemurnian genetik yang tinggi dan dapat digunakan untuk memproduksi benih sebar (label biru) maupun langsung ditanam guna memperoleh hasil panen yang optimal.
Keberhasilan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketersediaan benih unggul di tingkat petani. Dengan demikian, petani tidak lagi bergantung pada pasokan benih dari luar daerah sekaligus memiliki peluang meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Rajiman, Dosen Polbangtan Yoma yang mendampingi kegiatan tersebut menjelaskan, pendampingan tidak berhenti setelah panen. Tahapan berikutnya meliputi pengeringan, sortasi, hingga penyimpanan calon benih di gudang milik kelompok tani.
"Sebulan setelah panen akan dilakukan pengajuan pemeriksaan umbi kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSBP) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk proses verifikasi dan sertifikasi," katanya.
Rajiman menambahkan, program Desa Mandiri Benih memberikan manfaat besar bagi petani dalam menyediakan benih bermutu sekaligus menjaga stabilitas pasokan. Karena itu, pihaknya berupaya memenuhi prinsip enam tepat, yaitu tepat varietas, jumlah, kualitas, harga, lokasi, dan waktu.
”Ketersediaan benih yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas sekaligus membantu mengendalikan inflasi komoditas bawang merah," ujarnya.
Selain meningkatkan kemandirian petani dalam penyediaan benih bersertifikat, program ini juga menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Benih Polbangtan Yoma, khususnya pada mata kuliah sertifikasi benih.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak bagi petani, tetapi juga mendukung penguatan kompetensi sumber daya manusia pertanian melalui pembelajaran berbasis praktik di lapangan
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, pengembangan komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, terus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
Menurut Amran, Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang sangat besar sehingga harus dikelola secara optimal agar mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyampaikan, bawang merah merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas harga pangan.
Karena itu, peningkatan produksi dan penyediaan benih berkualitas harus terus didorong melalui pendampingan dan pemberdayaan petani.