Saturday, 08 August 2026


SOS BUAH LANGKA NUSANTARA

21 Jul 2026, 11:17 WIBEditor : Yulianto

Buah bisbul, buah yang mirip apel kinimuali langka

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Indonesia boleh bangga menjadi salah satu negara yang memiliki keragaman hayati yang cukup besar. Bahkan menjadi yang terbesar di dunia. Beberapa wilayah menyimpan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa, termasuk buah-buahan endemik yang unik. Sayangnya, buah-buah langka tersebut kini mulai hilang tergerus zaman, bahkan dalam kondisi SOS (darurat) untuk segera diselamatkan.

Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi tidak lepas dari posisi Indonesia mencakup dua wilayah bio-geografis utama, Indomalaya dan Australasia, dan kawasan pertemuan kedua benua.

Meski hanya mencakup 1,3 persen permukaan bumi, Indonesia merupakan rumah bagi 10 persen spesies tumbuhan berbunga dunia, 12 persen spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies reptil dan amfibi, 17 persen spesies burung di dunia dan 25 persen atau lebih spesies ikan dunia.

Sementara itu, tercatat 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu.

Namun, keberadaan keanekaragaman hayati, termasuk tanaman buah kini berada dalam tekanan akibat berbagai faktor. Diantaranya, alih fungsi lahan dan ruang laut, eksploitasi yang berlebihan, perubahan iklim, serta jenis asing invasif. Kondisi ini memerlukan perhatian serius, bukan hanya pemerintah tapi semua pihak.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menerbitkan Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati atau Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045.

Rencana aksi tersebut  telah diintegrasikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Unik dan Eksotik

Peringatan Hari Buah Sedunia 1 Juli harusnya menjadi momen bagi bangsa Indonesia, bukan hanya meningkatkan konsumsi buah nusantara, tapi juga menyelamatkan berbagai jenis buah yang mulai langka. Dari berbagai jenis buah yang banyak beredar di pasaran, banyak juga buah asli Indonesia yang sudah mulai menghilang dari penglihatan mata.

Salah satu contohnya, menteng (Baccaurea racemosa). Buah asli Indonesia ini kini semakin jarang dijumpai akibat berkurangnya habitat alami dan minimnya budidaya. Padahal, rasa manis dengan sedikit asam membuatnya memiliki penggemar tersendiri, terutama di kalangan pencinta buah lokal.

Hal serupa juga terjadi pada mundu (Garcinia dulcis). Kerabat dekat manggis ini dikenal mengandung senyawa antioksidan. Tanaman ini mampu tumbuh baik di dataran rendah maupun lahan kering, tapi hingga kini belum banyak dibudidayakan secara komersial. Akibatnya, pasokan di pasar masih sangat terbatas.

Ada pula bisbul (Diospyros blancoi) atau velvet apple. Teksturnya lembut dengan aroma khas yang tidak dimiliki buah lain. Karena masih tergolong langka, bisbul memiliki nilai jual yang relatif lebih tinggi dibandingkan buah-buahan yang umum dibudidayakan.

Mohamad Hanif Wicaksono, Ketua Yayasan Tunas Meratus mengakui, Indonesia bisa dibilang negara yang memiliki megadiversitas terbesar di dunia yakni 25 persen dengan jumlah 24 ribu spesies tumbuhan berbunga. Dari jumlah tersebut 40 persen merupakan tumbuhan asli Indonesia. Sayangnya megodiversitas tersebut hanya sebagai kebanggaan semu dan belum dimanfaatkan dengan baik.

”Kita negara mega biodiversitas, tapi nyata-nyatanya kita lihat di pasar, di supermarket ataupun di jalan-jalan raya malah banyak tumbuhan atau buah-buahan yang dari luar negeri, seperti apel Washington lebih banyak daripada buah-buahan lokal,” katanya saat Selasar Konservasi#5 “Mengungkap Potensi, Keunikan, dan Upaya Pelestarian Buah Lokal Kalimantan”, beberapa waktu lalu.

Hanif mencontohkan Pulau Kalimantan yang mempunyai kekayaan biodiversiti cukup banyak. Misalnya, tanaman artoarpus yakni keluarga nangka-nangkaan. Jika di Pulau Jawa, jenis nangka hanya yang rasanya manis, tapi di Pulau Kalimantan bisa ditemukan nangka yang rasanya seperti jeruk, ada juga yang rasa asam dan manis. Bahkan ada nangka yang rasanya campuran antara pisang dan nenas.

Kondisi buah langka asli Nusantara kini makin terancam. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018