Tuesday, 18 August 2026


Diolah Jadi Tepung Gluten Free, Nilai Ekonomi Sukun Berkali Lipat

06 Aug 2026, 11:05 WIBEditor : GESHA

Jangan lagi anggap sukun sekadar buah gorengan. Diolah menjadi tepung gluten free, komoditas lokal ini berpotensi melesat jadi produk bernilai tinggi yang diburu pasar dan mengerek pendapatan petani.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Jangan lagi anggap sukun sekadar buah gorengan. Diolah menjadi tepung gluten free, komoditas lokal ini berpotensi melesat jadi produk bernilai tinggi yang diburu pasar dan mengerek pendapatan petani.

Sukun selama ini lebih dikenal sebagai pangan tradisional yang diolah dengan cara digoreng, direbus, atau dikukus. Padahal, komoditas tropis ini menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar jika dikembangkan melalui hilirisasi. Salah satu produk yang dinilai memiliki prospek paling menjanjikan adalah tepung sukun bebas gluten (gluten free), yang kini mulai diminati seiring meningkatnya tren pangan sehat di dalam maupun luar negeri.

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Hotman Fajar Simanjuntak, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadikan sukun sebagai komoditas bernilai tambah. Menurutnya, pengembangan sukun tidak cukup berhenti pada budidaya, tetapi harus didorong hingga tahap pengolahan agar mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus membuka pasar baru.

"Potensi sukun menjadi tepung sangat besar. Apalagi sekarang berkembang tren pangan gluten free yang menjadi pilihan masyarakat yang ingin menerapkan pola makan lebih sehat," kata Hotman dalam tayangan YouTube yang dikutip, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan fungsional menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri olahan sukun. Dengan diolah menjadi tepung, buah sukun yang semula hanya bertahan dua hingga tiga hari setelah dipanen dapat memiliki umur simpan jauh lebih panjang sehingga lebih mudah dipasarkan.

Hotman menjelaskan salah satu tantangan terbesar pengembangan sukun saat ini adalah terbatasnya pasar buah segar. Selama ini masyarakat umumnya hanya mengonsumsi sukun dalam bentuk gorengan atau rebusan. Akibatnya, ketika panen melimpah, sebagian hasil produksi tidak terserap pasar dan akhirnya membusuk karena umur simpannya sangat singkat.

"Kalau buah sukun sudah jatuh, biasanya hanya bertahan sekitar dua sampai tiga hari. Setelah itu kualitasnya turun dan akhirnya busuk. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan melalui hilirisasi," ujarnya.

Karena itu, Kementerian Pertanian menilai pengembangan industri pengolahan menjadi langkah strategis. Tepung sukun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari roti, mi, biskuit, kue, hingga makanan bayi.

Pasar Gluten Free

Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan tepung sukun dapat digunakan sebagai bahan substitusi tepung terigu pada berbagai produk pangan dengan persentase tertentu tanpa mengurangi cita rasa secara signifikan. Selain meningkatkan daya simpan, pengolahan juga memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dibanding menjual buah segar.

Di sisi lain, permintaan produk bebas gluten terus meningkat di berbagai negara. Awalnya, produk ini ditujukan bagi penderita penyakit celiac atau intoleransi gluten. Namun kini, pangan gluten free juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern.

Sukun menjadi salah satu bahan baku yang menarik karena secara alami tidak mengandung gluten. Selain kaya karbohidrat kompleks, buah ini juga mengandung serat pangan, vitamin C, kalium, magnesium, serta antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.

Data FoodData Central milik USDA menunjukkan buah sukun mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin C, kalium, dan sejumlah mineral penting yang menjadikannya sumber energi alternatif selain beras maupun gandum.

Sementara itu, Food and Agriculture Organization (FAO) juga telah lama memasukkan sukun sebagai salah satu tanaman pangan tropis yang berpotensi mendukung ketahanan pangan karena produktivitas pohonnya tinggi serta mampu berbuah selama puluhan tahun.

Potensi inilah yang dinilai dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu impor.

Hotman menegaskan Direktorat Jenderal Hortikultura terbuka terhadap seluruh pihak yang ingin berinvestasi dalam pengembangan sukun. Menurutnya, keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting untuk mempercepat hilirisasi sekaligus menciptakan pasar yang berkelanjutan bagi petani.

"Kami sangat menyambut baik apabila ada pihak swasta yang ingin mengembangkan sukun. Dengan semakin banyak penanaman, produksi meningkat, kontinuitas pasokan terjaga, dan industri pengolahan juga akan berkembang," ujarnya.

Ia menambahkan keberadaan industri akan memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga harga lebih stabil dibanding hanya mengandalkan penjualan buah segar.

Bagi petani, pengembangan sukun tidak hanya membuka peluang diversifikasi usaha, tetapi juga meningkatkan nilai tambah hasil panen melalui kemitraan dengan industri pengolahan.

Sementara bagi penyuluh pertanian, komoditas ini dapat menjadi materi pendampingan baru, mulai dari teknik budidaya, pemilihan varietas unggul, penerapan GAP, hingga penguatan kelembagaan petani agar mampu memenuhi kebutuhan industri.

Dengan dukungan pemerintah, peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan investor, sukun berpotensi naik kelas dari tanaman pekarangan menjadi komoditas agribisnis bernilai tinggi.

Jika hilirisasi berjalan, bukan tidak mungkin tepung sukun Indonesia mampu mengisi pasar pangan sehat yang terus tumbuh di dunia. Pada saat itulah nilai ekonomi sukun tidak lagi dihitung dari harga buah segarnya, melainkan dari berbagai produk olahan bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat diversifikasi pangan nasional.

Belum Diperhatikan

Di balik prospeknya yang besar, pengembangan sukun masih menghadapi sejumlah kendala. Masalah pertama adalah ketersediaan benih unggul. Hotman mengatakan saat ini varietas sukun yang telah dilepas pemerintah masih terbatas, di antaranya berasal dari Maluku Tengah dan Manokwari. Padahal, benih unggul menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas, kualitas buah, dan keseragaman hasil panen.

Selain itu, pola budidaya sukun di Indonesia masih didominasi tanaman pekarangan. Pohon sukun tersebar di halaman rumah, kebun campuran, maupun lahan kecil sehingga belum membentuk kawasan produksi berskala ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan bahan baku bagi industri belum stabil. "Kita ingin nanti ada kawasan-kawasan pengembangan sehingga produksi bisa lebih terkonsentrasi dan memudahkan industri memperoleh bahan baku," jelasnya.

Hotman mengakui, hingga kini posisi sukun di lingkungan Direktorat Jenderal Hortikultura masih tergolong komoditas minor. Prioritas pemerintah masih difokuskan pada komoditas strategis seperti bawang putih, cabai, bawang merah, dan pengembangan durian.

Meski demikian, ia menilai peluang pengembangan sukun dalam lima tahun mendatang sangat cerah. "Indonesia merupakan negara tropis yang sangat cocok untuk tanaman sukun. Potensinya besar dan prospeknya masih sangat terbuka, baik pasar domestik maupun internasional," katanya.

Ia menjelaskan tren produksi sukun dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah daerah yang menjadi sentra produksi antara lain Aceh Tengah, Kabupaten Malang dan Pasuruan di Jawa Timur, Solok di Sumatera Barat, serta Semarang di Jawa Tengah. Daerah-daerah tersebut dinilai dapat menjadi pusat pengembangan industri sukun apabila didukung investasi pengolahan pascapanen.

Menurut Hotman, Direktorat Jenderal Hortikultura berencana mendorong sukun menjadi salah satu komoditas yang memperoleh perhatian lebih besar dalam program pemerintah. Apabila telah menjadi prioritas, berbagai dukungan akan disiapkan mulai dari pengembangan benih unggul, penelitian, pelepasan varietas baru, hingga penyusunan program budidaya.

Di sisi budidaya, pemerintah juga akan memberikan pendampingan melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) agar petani menghasilkan buah berkualitas sesuai kebutuhan industri.

Pendampingan tersebut mencakup teknik penanaman, pemeliharaan, pemupukan, hingga penanganan panen dan pascapanen. "Kalau budidayanya baik, kualitas buah meningkat, produktivitas naik, maka industri juga akan lebih mudah berkembang," katanya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018