Saturday, 05 September 2026


Genjot Pengembangan Bawang Putih Nasional, BRMP Buka Pintu Lebar untuk Swasta

20 Aug 2026, 12:28 WIBEditor : Gesha

BRMP Tanaman Sayuran membuka kolaborasi dengan swasta untuk mempercepat pengembangan varietas unggul dan memperkuat produksi bawang putih nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang - BRMP Tanaman Sayuran membuka kolaborasi dengan swasta untuk mempercepat pengembangan varietas unggul dan memperkuat produksi bawang putih nasional.

Upaya memperkuat pengembangan bawang putih nasional memasuki babak baru. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melalui Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura membuka pintu kolaborasi lebih lebar bagi perusahaan swasta, produsen benih, lembaga riset, PTPN, penangkar, hingga pelaku usaha sayuran untuk bersama-sama mengembangkan inovasi bawang putih dari hulu hingga hilir.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Open House dan Panen Bersama Bawang Putih Mendukung Swasembada Pangan yang digelar di Lembang, Jawa Barat, 19 Agustus 2026. 

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempertemukan pemerintah, peneliti, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan perbenihan dalam membangun kembali ekosistem riset dan inovasi tanaman sayuran.

Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, mengatakan pengembangan bawang putih tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan lembaga riset menghasilkan varietas. Riset harus bergerak mengikuti kebutuhan pasar dan pelaku usaha.

Menurutnya, pendekatan market-driven innovation menjadi penting agar agenda riset tidak berhenti pada menghasilkan teknologi atau varietas yang secara teknis dapat diproduksi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan industri, petani, dan konsumen.

“Sekarang kita mulai dari pasar. Apa yang Bapak Ibu perlukan, apa yang dibutuhkan pasar, ayo kita garap bersama,” ujar Inti dalam kegiatan tersebut.

Pernyataan itu sekaligus menandai perubahan pendekatan dalam pengembangan inovasi tanaman sayuran.

Pelaku usaha yang selama ini berhadapan langsung dengan konsumen dan dinamika pasar diharapkan menjadi sumber informasi penting bagi peneliti dalam menentukan arah pengembangan varietas.

Ia mengingatkan bahwa peneliti tidak boleh hanya berorientasi pada aktivitas di laboratorium, lapangan, dan publikasi ilmiah. Riset harus memiliki hubungan yang kuat dengan kebutuhan pengguna.

“Peneliti dulu hanya sibuk di lab, di lapangan, bikin jurnal, tidak tahu pasar. Sekarang tidak boleh lagi. Kita balik, kita mulai dari pasar,” ujarnya.

Karena itu, suara pelaku usaha menjadi penting. Perusahaan benih, penangkar, produsen, dan asosiasi memiliki informasi langsung mengenai varietas seperti apa yang dicari pasar, karakter produk yang diminati, serta tantangan yang dihadapi dalam produksi.

Informasi tersebut selanjutnya dapat diterjemahkan menjadi agenda riset yang lebih terarah.

Pendekatan inilah yang kemudian menjadi dasar BRMP untuk mendorong penyusunan matriks rencana aksi kebutuhan riset bersama antara BRMP dan pelaku usaha.

Matriks tersebut akan menjadi dasar penentuan prioritas sekaligus bentuk kolaborasi yang akan dikembangkan.

Keterlibatan Swasta

Bagi BRMP, keterlibatan swasta tidak semata-mata ditempatkan sebagai pengguna hasil riset.

Pelaku usaha justru didorong terlibat sejak tahap awal untuk menentukan karakteristik varietas, teknologi, dan sistem perbenihan yang dibutuhkan.

Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura membuka ruang kerja sama dengan produsen benih, perusahaan swasta, lembaga riset, PTPN, serta pelaku usaha komoditas sayuran lainnya.

Ruang lingkupnya mencakup pemanfaatan sumber daya genetik tanaman sayuran untuk mendukung perakitan varietas unggul baru (VUB), pengembangan sistem perbenihan, pemanfaatan fasilitas kebun dan laboratorium untuk riset bersama serta pengujian, hingga pengembangan kompetensi sumber daya manusia peneliti.

Dengan pola tersebut, BRMP ingin membangun hubungan yang lebih erat antara lembaga pemerintah dan dunia usaha.

Pemerintah menyediakan sumber daya, pengetahuan, fasilitas, dan kapasitas riset, sedangkan pelaku usaha membawa informasi mengenai kebutuhan pasar serta peluang komersialisasi inovasi.

Inti mengatakan berbagai sumber daya genetik yang dimiliki BRMP terbuka untuk dikembangkan melalui kerja sama sesuai mekanisme yang berlaku.

Sumber daya genetik tersebut dinilai penting karena menjadi salah satu fondasi dalam menghasilkan varietas unggul baru.

Terlebih, pengembangan bawang putih membutuhkan karakter varietas yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki kualitas umbi yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan mampu beradaptasi terhadap lingkungan.

Peluang kolaborasi juga didukung oleh ketersediaan fasilitas di kawasan BRMP Tanaman Sayuran di Lembang. Inti menyebut kawasan tersebut memiliki luas sekitar 35 hektare.

Dari luasan itu, sekitar 13 hektare saat ini dimanfaatkan untuk pertanaman bawang putih. Pertanaman tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang dapat dilihat langsung oleh para mitra dalam agenda open house.

Menurut Inti, fasilitas tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk mengembangkan riset dan perbenihan, terutama bagi pelaku usaha yang belum memiliki sarana penelitian atau pengujian yang memadai.

Ia bahkan mendorong agar sebagian besar fasilitas yang memungkinkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha melalui skema kerja sama yang tepat.

“Dari 35 hektare, minimal 50 persennya, 15 sampai 20 pelaku usaha bisa memanfaatkan apa yang ada di sini,” ujarnya.

Namun, Inti mengingatkan pemanfaatan fasilitas negara tidak boleh dimaknai sekadar sebagai penyewaan lahan.

Setiap kerja sama harus memiliki tujuan yang jelas, terutama riset, pengembangan inovasi, pengujian, perbenihan, dan peningkatan produktivitas.

Dengan pendekatan tersebut, fasilitas pemerintah diharapkan tidak menjadi aset yang hanya digunakan secara internal, tetapi dapat memberikan manfaat lebih besar bagi pembangunan pertanian dan dunia usaha.

Butuh Varietas Baru

Salah satu fokus utama yang mendapat perhatian dalam forum tersebut adalah pengembangan varietas bawang putih.

Inti menilai pengembangan bawang putih menghadapi tantangan karena sebagian varietas yang selama ini dikenal petani telah lama digunakan.

Ia menyebut sejumlah varietas seperti Lumbu Kuning, Lumbu Putih, Lumbu Hijau, Sembalun, dan Tawangmangu Baru.

Di sisi lain, terdapat pula sejumlah sumber daya genetik lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Sebagian di antaranya memiliki karakteristik produktivitas, ukuran umbi, maupun kualitas yang menarik untuk menjadi bahan perakitan varietas baru.

Karena itu, pengembangan bawang putih ke depan tidak cukup hanya mengandalkan varietas yang telah lama digunakan. 

Diperlukan inovasi genetik untuk mendapatkan varietas dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas lebih baik, serta karakter yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Sekarang ini tantangan bagi kita adalah membuat varietas-varietas baru yang produktivitasnya tinggi, kualitasnya lebih bagus,” kata Inti.

Ia bahkan menawarkan penyusunan roadmap bersama pelaku usaha untuk menghasilkan varietas baru dalam kurun waktu tiga tahun.

“Ayo kita sama-sama, kita tiga tahun ke depan punya roadmap untuk menghasilkan varietas baru. Ya, di sini tempatnya,” ujarnya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam forum karena pengembangan varietas tidak dapat dilakukan secara instan. 

Diperlukan proses panjang mulai dari pemilihan sumber daya genetik, persilangan atau perakitan, seleksi, pengujian, hingga memastikan benih dapat dikembangkan dan digunakan secara luas.

Karena itu, keterlibatan pelaku usaha sejak awal dinilai dapat mempercepat proses agar varietas yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar.

Pembukaan kembali pintu kolaborasi tersebut tidak terlepas dari perjalanan transformasi kelembagaan yang dialami institusi BRMP Kementan, termasuk BRMP Tanaman Sayuran.

Inti menjelaskan, lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai Balai Penelitian Tanaman Sayuran atau Balitsa mengalami transformasi menjadi badan yang berfokus pada standardisasi instrumen pertanian.

Dalam periode tersebut, fungsi riset, penelitian, pengembangan, dan perakitan varietas tidak lagi menjadi tugas utama.

Kondisi itu turut berdampak pada hubungan dengan sejumlah pelaku usaha perbenihan yang sebelumnya menjadikan Balitsa sebagai mitra riset dan tempat berdiskusi.

“Selama dua tahun kami menjadi badan standardisasi instrumen pertanian, memang kami tidak memiliki tugas untuk melakukan riset, penelitian, pengembangan. Memproduksi varietas-varietas baru itu tidak ada lagi,” jelas Inti.

Kini, seiring transformasi menjadi BRMP, fungsi perakitan dan modernisasi pertanian kembali diperkuat. Kondisi tersebut membuka peluang bagi lembaga untuk membangun kembali kerja sama yang sempat terhenti.

“Kami membuka pintu kami selebar-lebarnya untuk kembali kita melakukan kerja sama, melaksanakan kemitraan,” tegasnya.

Inti juga meminta jajaran di lingkungan BRMP untuk tidak lagi menjadikan persoalan tugas dan anggaran sebagai alasan untuk menutup peluang kerja sama.

Pelibatan Peneliti BRIN

Persoalan sumber daya manusia peneliti juga menjadi bagian dari proses transformasi kelembagaan.

Inti menyebut lebih dari 30 peneliti yang sebelumnya berada di lingkungan Balai Penelitian Tanaman Sayuran kini menjadi bagian dari BRIN.

Meski demikian, pengalaman dan kompetensi mereka tetap dapat dimanfaatkan dalam kegiatan riset kolaboratif.

Menurut Inti, kerja sama antara Kementerian Pertanian dan BRIN memungkinkan peneliti yang dibutuhkan untuk dilibatkan dalam tim sesuai kebutuhan kegiatan.

“Kalau Bapak Ibu membutuhkan SDM peneliti dari BRIN, nanti kita bisa masukkan dalam tim,” ujarnya.

Hal ini membuka peluang untuk menghidupkan kembali sejumlah riset yang sebelumnya pernah dilakukan, termasuk pengembangan varietas dan teknologi tanaman sayuran.

Dengan demikian, perubahan status kelembagaan tidak harus membuat pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun selama bertahun-tahun berhenti. 

Sebaliknya, kompetensi tersebut dapat kembali disatukan dalam kolaborasi lintas lembaga.

Penguatan Ekosistem

Inti menyebut, pengembangan bawang putih nasional membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, peneliti, petani, penangkar, industri benih, dan pelaku usaha. 

Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri untuk menyelesaikan seluruh persoalan dari hulu hingga hilir.

BRMP melalui Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura kini berupaya mengambil peran sebagai penghubung antara kapasitas riset pemerintah dan kebutuhan dunia usaha.

Pemanfaatan sumber daya genetik, fasilitas kebun, laboratorium, tenaga peneliti, serta jaringan pelaku usaha menjadi modal untuk membangun ekosistem inovasi yang lebih kuat.

Bagi bawang putih, kerja sama tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya varietas unggul baru, memperkuat sistem perbenihan, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil, serta menjawab kebutuhan pasar.

Lebih jauh, kolaborasi pemerintah dan swasta diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat produksi bawang putih dalam negeri dan mendukung agenda swasembada pangan.

“Ini sebagai fasilitas yang negara bisa berikan kepada Bapak Ibu nanti dalam bentuk kerja sama,” ujar Inti.

Dengan pintu kolaborasi yang kembali dibuka, tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan varietas baru, tetapi bagaimana pemerintah dan swasta dapat duduk bersama sejak awal, membaca kebutuhan pasar, menyusun peta jalan, melakukan riset, mengembangkan benih, hingga memastikan inovasi tersebut benar-benar sampai kepada petani.

Di titik itulah pengembangan bawang putih nasional diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama yang menghubungkan riset, industri, perbenihan, produksi, dan pasar dalam satu ekosistem menuju pertanian hortikultura yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018