
Petani bawang putih punya banyak pilihan benih. Tercatat 9 varietas dengan karakter berbeda, bahkan ada yang berpotensi menghasilkan 24,8 ton per hektare.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Petani bawang putih punya banyak pilihan benih. Tercatat 9 varietas dengan karakter berbeda, bahkan ada yang berpotensi menghasilkan 24,8 ton per hektare.
Pilihan varietas menjadi salah satu hal penting dalam budidaya bawang putih. Setiap varietas memiliki karakter berbeda, mulai dari potensi hasil, jumlah siung, ukuran diameter umbi hingga umur panen.
Kementerian Pertanian mencatat setidaknya sembilan varietas benih bawang putih terdaftar yang berasal dari berbagai sentra produksi di Indonesia.
Menariknya, salah satu varietas tersebut memiliki potensi hasil hingga 24,8 ton per hektare (ha).
Informasi mengenai varietas tersebut disampaikan Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, dalam Webinar “Dukungan Pupuk Bersubsidi untuk Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional” yang digelar Tabloid Sinar Tani bersama Pupuk Indonesia Holding Company di Jakarta, Rabu (16/9).
Dalam pemaparannya, Agung menunjukkan daftar varietas bawang putih yang berasal dari sejumlah daerah sentra produksi.
Varietas-varietas tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat menjadi referensi bagi petani dalam menentukan benih sesuai kondisi budidaya.
Dari sembilan varietas yang ditampilkan, terdapat varietas yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu, seperti Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau yang berasal dari Batu.
Di sisi lain, terdapat pula varietas yang baru terdaftar pada 2026, yakni Lumbu Kebo asal Bandung.
Berikut sembilan varietas bawang putih yang tercantum dalam data tersebut:
1. Lumbu Kuning
Lumbu Kuning merupakan varietas yang berasal dari Batu, Jawa Timur dan terdaftar sejak 1984.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Lumbu Kuning memiliki potensi hasil sekitar 8 ton/ha.
Jumlah siungnya berkisar 14–17 siung, dengan diameter umbi sekitar 3,0–3,8 cm.
Untuk umur panen, Lumbu Kuning berada pada kisaran 105–116 hari.
Varietas ini menjadi salah satu varietas bawang putih yang telah lama tercatat dalam pengembangan benih bawang putih nasional.
2. Lumbu Hijau
Masih berasal dari Batu, Lumbu Hijau juga terdaftar pada 1984.
Potensi hasil varietas ini tercatat sekitar 10 ton/ha.
Jumlah siungnya lebih banyak, yakni 13–20 siung, dengan diameter umbi 3,3–3,9 cm.
Sementara umur panennya berada pada kisaran 112–120 hari.
Dengan karakter tersebut, Lumbu Hijau menjadi salah satu pilihan varietas yang memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan Lumbu Kuning berdasarkan angka yang ditampilkan dalam paparan.
3. Lumbu Putih
Varietas berikutnya adalah Lumbu Putih yang berasal dari Yogyakarta. Varietas ini terdaftar sejak 1988.
Lumbu Putih memiliki potensi hasil sekitar 8 ton/ha. Jumlah siungnya berkisar 17–27 siung, sedangkan diameter umbinya tercatat 3,5–6,0 cm.
Umur panennya relatif berada pada rentang 100–110 hari.
Karakter jumlah siung dan ukuran diameter umbi menjadi bagian dari informasi yang dapat diperhatikan petani ketika mempertimbangkan varietas yang akan digunakan.
4. Tawangmangu Baru
Ada pula Tawangmangu Baru yang berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah. Varietas ini terdaftar pada 1989.
Potensi hasil Tawangmangu Baru mencapai sekitar 12 ton/ha. Jumlah siungnya berkisar 12–16 siung, dengan diameter umbi 4,0–5,0 cm.
Varietas tersebut memiliki umur panen sekitar 120–140 hari.
Dengan umur panen yang lebih panjang dibandingkan beberapa varietas lainnya, Tawangmangu Baru memiliki karakter tersendiri dalam daftar varietas bawang putih tersebut.
5. Sangga Sembalun
Dari wilayah Lombok Timur, terdapat Sangga Sembalun yang terdaftar pada 1995.
Varietas ini mempunyai potensi hasil sekitar 8,75 ton/ha. Jumlah siung berada pada kisaran 12–14 siung, sedangkan diameter umbinya 4,5–5,5 cm.
Umur panennya tercatat sekitar 105–110 hari.
Nama Sangga Sembalun sendiri berkaitan dengan salah satu sentra bawang putih di Nusa Tenggara Barat yang selama ini dikenal dalam pengembangan komoditas tersebut.
6. Jangkarih Adro
Varietas yang lebih baru berikutnya adalah Jangkarih Adro asal Kerinci. Varietas ini terdaftar pada 2021.
Potensi hasilnya mencapai sekitar 14 ton/ha, dengan jumlah siung 6–8 siung. Diameter umbinya berkisar 2,3–5,5 cm.
Adapun umur panennya berada pada kisaran 125–150 hari.
Dibandingkan sejumlah varietas lain dalam daftar, Jangkarih Adro memiliki rentang umur panen yang relatif panjang.
Namun, potensi hasil yang tercatat mencapai 14 ton/ha menjadi salah satu karakter yang dapat diperhatikan.
7. Geol Temanggung Agrihorti
Selanjutnya terdapat Geol Temanggung Agrihorti asal Temanggung yang terdaftar pada 2022.
Varietas ini memiliki potensi hasil pada kisaran 8,5–13,6 ton/ha. Jumlah siungnya 5–7 siung, dengan diameter umbi 2,9–3,3 cm.
Sementara umur panennya tercatat sekitar 108 hari.
Dalam pemaparannya, Agung juga memperlihatkan gambaran kondisi pertanaman varietas tersebut di Temanggung.
Hal itu memberikan gambaran bahwa varietas tidak hanya memiliki data karakteristik hasil dan umur panen, tetapi juga telah dikembangkan di wilayah pertanaman.
8. Kesuna Kayu Agrihorti
Nah, varietas yang mencuri perhatian dari sisi angka potensi hasil adalah Kesuna Kayu Agrihorti asal Tabanan, Bali.
Terdaftar pada 2022, varietas ini memiliki potensi hasil yang tercatat mencapai 23,1–24,8 ton/ha.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam daftar sembilan varietas yang ditampilkan dalam paparan Agung.
Kesuna Kayu Agrihorti memiliki jumlah siung sekitar 8–13 siung, diameter umbi 3,1–3,6 cm, serta umur panen hanya sekitar 95–96 hari.
Kombinasi potensi hasil yang tinggi dan umur panen kurang dari 100 hari membuat karakter varietas ini menjadi salah satu data yang menarik perhatian dalam daftar tersebut.
Meski demikian, angka potensi hasil varietas tidak otomatis berarti hasil yang sama akan diperoleh di setiap lahan.
Produktivitas aktual tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi agroekosistem, kualitas benih, teknik budidaya, pemupukan, pengairan serta pengendalian organisme pengganggu tanaman.
9. Lumbu Kebo
Varietas paling baru yang ditampilkan adalah Lumbu Kebo asal Bandung yang terdaftar pada 2026.
Dalam data tersebut, Lumbu Kebo memiliki potensi hasil 9,7–14,8 ton/ha. Jumlah siungnya relatif sedikit, yakni sekitar 5–6 siung, dengan diameter umbi 3,1–3,5 cm.
Umur panennya tercatat 109–112 hari.
Lumbu Kebo juga menjadi varietas yang menarik karena merupakan varietas terbaru dalam daftar tersebut.
Dalam materi yang ditampilkan, Agung memperlihatkan contoh bentuk umbi dan siung Lumbu Kebo asal Bandung.
Beragamnya varietas menunjukkan bahwa petani memiliki sejumlah alternatif dalam menentukan benih bawang putih.
Namun, pemilihan varietas tidak semata-mata berdasarkan angka potensi hasil tertinggi.
Petani perlu menyesuaikan varietas dengan kondisi lingkungan pertanaman, ketersediaan benih, karakter tanah, ketinggian tempat, pola tanam, kebutuhan pasar dan target waktu panen.
Perbedaan umur panen juga dapat menjadi pertimbangan.
Dalam daftar tersebut, umur panen berada mulai sekitar 95 hari hingga 150 hari, tergantung varietas.
Begitu pula dengan jumlah siung dan diameter umbi.
Ada varietas yang memiliki jumlah siung lebih banyak, sementara varietas lainnya memiliki jumlah siung lebih sedikit dengan karakter ukuran umbi yang berbeda.