Kamis, 27 Juni 2019


Kinerja 4 Tahun, Produksi dan Ekspor Hortikultura Meningkat

30 Nov 2018, 08:46 WIBEditor : GESHA

Kinerja subsektor hortikultura menggembirakan karena ekspor menggeliat | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung ---- Kurun waktu 4 tahun terakhir, berbagai indikator kinerja hortikultura semakin membaik. Trend produksi dan ekspor komoditas buah-buahan, sayuran dan tanaman hias semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan, produksi Sayuran 2017 mencapai 12,48 juta ton naik dari tahun 2016 sebanyak 12,08 juta ton.

Produksi buah-buahan tahun 2017 mencapai 19,6 juta ton, naik dari tahun sebelumnya 18,3 juta ton. Produksi bunga potong naik dari 763 juta tangkai pada tahun 2016 menjadi 819 juta tangkai  pada tahun 2018.

Suwandi juga mengemukakan, produksi jeruk pada tahun 2017  mencapai 2,3 juta ton, atau naik signifikan dari tahun 2013 yang hanya 1,65 juta ton.

Produksi pisang juga naik dari 6,28 juta ton menjadi 7,04 juta ton. Produksi bawang merah pun melonjak dari 1 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1,47 juta ton pada tahun 2017. 

"Pada tahun 2018 kami optimis produksi komoditas hortikultura akan lebih tinggi lagi," kata Suwandi dalam jumpa pers "4 Tahun Evaluasi Kinerja Pembangunan Hortikultura", di Bandung, Kamis (29/11).

Membaiknya produksi dan ekspor
komoditas hortikultura, tak terlepas dari kebijakan yang dilakukab Kementerian Pertanian (Kementan) selama ini, khususnya dalam menggenjot ekspor produk hortikultura tropis.

Guna mendorong ekspor, Kementan  memangkas perijinan ekspor melalui sistem Online Single Submission (OSS) sehingga lebih cepat.

"Semula mengurus izin ekspor tanaman hias dan benih hortikultura butuh waktu 8 hari sekarang menjadi 3 jam untuk dokumen yang sudah clear and clean," papar Suwandi.

Dengan kemudahan ekspor ini, sangat membantu pelaku usaha.Ekspor produk hortikultura seperti manggis, nanas, benih kangkung, durian, pisang, bawang merah, wortel, tanaman obat hingga tanaman hias meningkat signifikan.

Data BPS menyebutkan ekspor nanas 2016 sebanyak 138.400 ton, pada tahun 2017 naik 210.045 ton.Bahkan ekspor manggis periode Januari-September 2018 melonjak 378,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor durian hingga September 2018 melesat naik 733 persen dibanding  tahun 2017.   

"Buah-buahan lain yang ekspornya turut naik antara lain pisang, salak, jeruk dan rambutan. Kalau dulu hampir tiap hari kita dijejali dengan buah-buahan impor, kini buah-buahan lokal sudah mampu merajai, bahkan ekspor," kata Suwandi.

Prestasi Lainya

Suwandi juga mengungkapkan, selain buah-buahan, kinerja bawang merah juga mencatatkan prestasi yang membanggakan.

Bawang merah pada tahun 2014 masih impor 74  ribu ton, pada tahun 2016  impornya turun drastis. Bahkan sejak  tahun 2016 hingga saat ini sudah tidak lagi impor bawang merah dan cabai segar, sehingga mampu membalikkan keadaan menjadi ekspor. 

Begitu juga untuk kentang sayur, kita sudah tidak perlu impor alias swasembada. Untuk kentang industri, salah satu produsen olahan makanan berbasis kentang terbesar di Indonesia telah menyatakan siap swasembada tahun 2019. 

"Sementara pasokan ke industri lainnya akan selesai di tahun 2020," ujar Suwandi.

Dalam kesempatan tersebut, Suwandi mengatakan, kinerja subsektor hortikultura pun mampu menyumbang PDB  sebesar Rp196 triliyun pada tahun 2017, naik dari tahun 2013 sebesar  sebesar Rp 137,3 triliun.

Tercatat, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Hortikultura yang dirilis BPS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Periode hingga Oktober 2018, NTUP Hortikultura mencapai 111,79 naik signifikan dibanding tahun 2014 yang hanya 106,05.

"Usaha hortikultura saat ini sangat diminati kalangan milenia karena sangat menjanjikan," papar Suwandi.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018