Selasa, 23 April 2019


Kemitraan Hortikultura Berbasis Korporasi Petani Bakal Ada Di Tanggamus

13 Des 2018, 06:45 WIBEditor : Gesha

Pembinaan dan kemitraan dalam bentuk korporasi petani semakin ditingkatkan di Tanggamus | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIRSINARTANI.COM, Tanggamus --- Siapa yang tidak mengenal Pisang Mas dari Tanggamus?Pisang ini meskipun dihasilkan lokal tetapi berkualitas ekspor. Ke depannya, pembinaan dalam bentuk kemitraan berbasis korporasi akan semakin digiatkan. Tak hanya untuk pisang mas tetapi juga beragam komoditas hortikultura lainnya.

Kerja sama yang dilakukan antara perusahaan dan koperasi guna membentuk kemitraan sesesuai pasal 27 UU Usaha Kecil dengan prinsip keuntungan. Pola kerja sama yang dilakukan melalui koperasi tani Hijau Makmur.

Associate Corporate PT Great Giant Pineapple,  Supriyono Loekito menjelaskan bahwa konsep kerja sama yang dilakukan adalah pembagian keuntungan petani untuk budidaya dan keuntungan pemasaran adalah keuntungan perusahaan. Perusahaan juga menjamin stabilitas harga jual produk petani.

"Pola kemitraan dijalin dengaan perusahaan dan petani atau koperasi mengedepankan unsur keuntungan kedua belah pihak. Kita maju bersama, menghasilkan buah dengan kualitas ekspor. Kita bermitra dengan petani melalui mekanisme koperasi. Kami juga ada bantuan pupuk dan pestisida dengan harga murah. Kami membantu dalam hal transfer teknologi budidaya dan penanganan pasca panen", jelas Supriyono.

Kerja sama ini tersebar di tujuh kecamatan dengan melibatkan 210 orang petani dengan luasan 160 hektare. Kerja sama dilakukan dengan perjanjian kontrak kedua belah pihak di mana koperasi bermitra dengan petani.

"Sekarang ini terdapat 5 kelompok tani yang tergabung. Sampai Agustus 180 orang dan Desember sudah terdapat anggota sebanyak 210 orang. Itu baru pisang mas. Syarat keanggotan juga lahan berada di ketinggian 400 meter diatas permukaan laut (dpl) - 700 m dpl", lanjutnya.

Skema kerja sama dilakukan antara perusahaan dan koperasi. Petani menjual produk kepada koperasi. Koperasi inilah yang menjual ke perusahaan. Harga pisang didapatkan dari harga yang ditetapkan koperasi. Guna mengikat dan memastikan pasokan, perusahaan-lah yang memberikan bibit kepada petani.

"Bibitnya merupakan properti perusahaan untuk dipakai petani sebagai pengikat kerja sama. Jadi ada kepastian tanam, panen dan kualitas", tuturnya.

Disinggung mengenai harga, dirinya menjelaskan bahwa koperasi membeli pisang seharga Rp 2000 - 2500 per kg. Untuk produk ekspor, koperasi menerapkan harga Rp 7000 per kg. Pisang grade A Rp 6500 per kg, Pisang grade B dipatok harga Rp 4500 dan 3500 untuk grade C.

Petani Tanggamus diuntungkan dengan skema kerjasama berbentuk korporasi ini. Selain kepastian harga, petani juga dibina dalam hal budidaya.

"Awal 2013 di sini sudah ada pepaya kuning dan jambu bangkok hingga jadi pisang mas tanggamus. Lalu kami ngobrol dengan GGP bahwa kerja samanya harga tidak turun. Pembinaan juga tiap hari. Pembinaan kontinyu, petani ditemui satu per satu. Sambil ngobrol sambil kerja", ujar Sholeh, ketua koperasi tani Hijau Makmur.

Sholeh bercerita, koperasi terbentuk tahun 2017. Petani nyaman dan senang melakukan transaksi melalui koperasi. Petani juga mendapat dukungan dari dinas pertanian setempat untuk fasilitasi pupuk dan sarana pertanian.

Ketua Kelompok Tani Tani Hijau Makmur, Mudjianto, menyampaikan bahwa usaha tani yang dilakukan bersama anggota kelompoknya merupakan sinergi kemitraan dengan PT Great Giant Pinneapple. Perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan yang telah sukses mengantarkan jenis pisang Cavendish memasuki pasar di empat negara sejak beberapa tahun silam.

Dari data ekspor menunjukkan tren peningkatan, tercatat pada 2017 volume ekspor pisang Cavendish asal Provinsi Lampung berjumlah 14.757 ton dan kuartal pertama 2018 berjumlah 5.581 ton.

Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Widodo Heru, memastikan bahwa pemerintah siap membantu petani di Tanggamus. Kebutuhan pupuk dan sarana produksi bisa diajukan melalui dinas setempat. Dirinya juga berharap kebutuhan lokal pisang bisa dipenuhi dari dalam negeri.

"Pasar ekspor tidak lebih menarik dari pasar lokal.  Artinya, keuntungan pasar lokal lebih menarik dari ekspor. Sekarang bagaimana menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Pasar impor dari Filipina masuk, kita selesai", jelas Widodo saat memberikan sambutan di Pekon Sumber Rejo Dusun IV Sailing, Kecamatan Sumber Rejo, Kabupaten Tanggamus.

Komoditas Hortikultura

Pola kemitraan seperti ini akan diterapkan juga untuk komoditas hortikultura lainnya, sebab Tanggamus juga berpotensi dalam hal pengembangan komoditas hortikultura lainnya.

"Secara umum Tanggamus sebenarnya untuk  pengembangan hortikultura menjanjikan. Meskipun tidak ada lahan khusus kecuali manggis. Manggis  Tanggamus dinamakan Manggis Saburai. Bahkan tengah didaftarkan indegenious genetic-nya di Kementerian Hukum dan HAM. Manggis ini bahkan ada yg sudah berumur 200 tahun. Hanya saja belum ada penangkar bibit tersebut", jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tanggamus, Soni Isnaini.

Soni juga menjelaskan bahwa Tanggamus juga mengembangkan bawang merah seluas 3 hektare. Teknologinya sudah dikuasai petani meski dalam kondisi iklim tidak baik.

Sementara itu komoditas cabai belum banyak. Buah lain yang sedang marak dikembangkan adalah pepaya california. Selain itu juga ada pengembangan bawang putih.

"Pepaya california juga sedang booming. Ini sampai tahap mengkhawatirkan hingga sawahnya ditanam ke pepaya, namun demikian petani tidak melupakan budidaya padi", lanjut Soni.

Selain itu Tanggamus juga mengembangkan jambu kristal dan untuk tahun 2019 akan ada anggaran Rp.300 juta untuk pengembangan buah-buahan.

Khusus untuk pisang, Associate Corporate PT Great Giant Pineapple,  Supriyono Loekito menuturkan permintaan dalam negeri maupun luar negeri masih besar, hanya saja  kendalanya terletak pada musim dan kemauan petani untuk tetap konsisten pada mutu dan kualitas produk.

Supriyono menjelaskan bahwa, panen produk sedang terkendala musim. Musim kemarau mempengaruhi hasil panen.

"Saat ini kami tengah memenuhi kebutuhan pasar lokal. Untuk kebutuhan ekspor diperkirakan mulai terpenuhi di bulan Februari - Maret 2019. Pada bulan - bulan tersebut diperkirakan pisang sudah berukuran besar", jelasnya.

Petani binaan juga tidak seluruhnya memahami betul arahan dari perusahaan mengenai kontinuitas kualitas. Salah satu poin penting pasar ekspor adalah besaran ukuran. Masih banyak petani yang hanya mampu menghasilkan pisang berukuran kecil, sehingga produk hanya mampu memenuhi pasar lokal.

 

 

Reporter : Rico Horti
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018