Jumat, 16 Januari 2026


Wina, Si Alpukat Montok dari Bandungan Semarang

21 Des 2018, 17:49 WIBEditor : Gesha

Alpukat Wina dari Bandungan Semarang ini sangat montok dibandingkan yang lainnya

Bisa dijadikan oleh oleh buah dari Semarang

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Di balik ragam kulinernya yang selalu dicari pengunjung, Semarang juga memiliki potensi buah-buahan yang tidak kalah populer, salah satunya adalah alpukat. Paling terkenal adalah Wina, si alpukat montok dari Bandungan, Semarang.

Alpukat asal Semarang terdaftar di Kementan dengan nama Wina Bandungan ini mulai banyak dikembangkan di Kecamatan Bandungan, kKabupaten Semarang sejak 1998.

Alpukat ini memiliki keunggulan bobot buah mencapai 1.5 kg/buah, warna daging buah kuning mentega dan tekstur daging buah halus hampir tanpa serat.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Catur Wahyudi menyampaikan bahwa alpukat Wina sangat berpotensi untuk dikembangkan di daerah Bandungan Kabupaten Semarang.

Saat ini sudah banyak petani yang berminat mengembangkan buah yang berukuran jumbo ini. “Keunggulan lain yang dimiliki buah ini selain dari berukuran jumbo adalah memiliki daya adaptasi tinggi, yaitu dapat tumbuh dengan baik mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi”, jelasnya.

Dari angka BPS, Catur menambahkan bahwa produksi alpukat di kabupaten Semarang mengalami peningkatan. Pada 2016 tercatat produksi alpukat sebesar 7.412,3 ton dan pada 2017 mengalami peningkatan menjadi 10.047 ton atau naik sebesar 35,5 persen.

Pemerintah daerah  melalui dana APBD I mendukung pengembangan kawasan alpukat di Jawa Tengah seluas 40 - 50 hektar setiap tahun tersebar di Kabupaten Semarang, Boyolali, Temanggung dan Wonogiri.

“Tahun 2019 akan diperluas ke kabupaten Jepara dan Grobogan. Hal ini sebagai upaya pemerintah agar alpukat Wina semakin berkembang dan mampu bersaing di pasaran”, jelas Catur.

Petani asal Desa Jetis, Kecamatan Bandungan yang mengembangkan alpukat sejak 1998, Sariyono menceritakan bahwa permintaan pada bulan Desember - April mengalami  peningkatan. Petani yang berprofesi sekaligus sebagai penangkar benih ini sangat antusias dalam mengembangkan alpukat.

”Dari segi produktivitas, buah ini mampu menghasilkan 100 kg/pohon pada umur 5 tahun dengan harga rata-rata mencapai 20 ribu/kg. Jika satu hektare terdapat populasi 150 pohon, maka omset yang dapat dihasilkan adalah 300 juta”, kata Sariyono. Dirinya menjelaskan bahwa tidak hanya Wina yang berukuran jombo dengan permintaan pasar tinggi.  “Ada juga varietas lainnya seperti Hawai dan Kalibening”, tambahnya.

Lebih detil Sariyono menjelaskan bahwa sampai saat ini telah berkembang lebih dari 20 Hektar alpukat Wina di Kecamatan Bandungan. Sekarang semakin banyak petani di daerah lain yang termotivasi menanam alpukat Wina. 

Salah satu contohnya adalah di kabupaten Malang yang mulai mengembangkan seluas lebih dari 40 hektar dengan memanfaatkan lahan milik pemda dan kehutanan.

Reporter : Rico
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018