Senin, 26 Agustus 2019


Musim Hujan Tiba, Hati-Hati Penyakit Cabai

10 Jan 2019, 14:16 WIBEditor : Gesha

Teknologi pengendalian OPT dengan menggunakan bahan dan sarana pengendali yang ramah lingkungan. | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit(LPHP)/Lab Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Tuban --- Memasuki awal tahun 2019, curah hujan tinggi menyebabkan tanaman cabai terserang banyak organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Untuk di Jawa Timur, salah satu sentra cabai yang harus mewaspadai OPT adalah Kecamatan Montong dan Bancar di Kabupaten Tuban. Keduanya, tidak luput dari serangan penyakit utama seperti penyakit virus kuning, antraknosa dan lalat buah.

Penyakit-penyakit tersebut menyerang tanaman berumur 90-135 hari dengan luasan 6,5 hektar. Intensitas serangan dikategorikan ringan sampai dengan berat. Hal ini disebabkan petani cabai belum optimal menjalankan anjuran yang diberikan petugas lapang (POPT/PHP).

Hingga saat ini virus kuning dan patek (antraknosa) masih menjadi penyakit utama tanaman cabai. Petugas POPT setempat telah merekomendasikan pengendalian 2 penyakit serta lalat buah tersebut dengan penggunaan varietas tahan/toleran.

Petani dianjurkan untuk menggunakan benih yang berkualitas, cara pesemaian yang benar, penggunaan plastik mulsa hitam perak, eradikasi selektif pada tanaman terserang/sakit, pemasangan perangkap untuk mengurangi kutu kebul dan pemanfaatan musuh alami, aplikasi pestisida untuk kutu kebul.

"Serangan hama penyakit pada tanaman cabai sebenarnya dapat dikendalikan sedini mungkin, bila petani menerapkan pengendalian OPT cabai secara ramah lingkungan dengan menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan, menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT)," jelas Kasubdit POPT Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikulutura, Nadra Illiyina Chalid.

Petugas POPT selalu mengajak petani mendahulukan pengendalian secara pre-emptif yang diintegrasikan dengan sistem budidaya tanaman.

"Selain itu diikuti pengendalian secara responsif berdasarkan hasil pengamatan di lapang, sejak perencanaan sampai panen, termasuk pemilihan lahan, bibit yang sehat, pemeliharaan intensif dan pemantauan secara rutin," tambah Nadra.

Secara terpisah Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengemukakan bahwa Kementan bersama jajaran UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit(LPHP)/Lab Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT dengan menggunakan bahan dan sarana pengendali yang ramah lingkungan.

"Salah satunya dengan menggunakan likat kuning untuk pengendalian aphid yang menjadi vektor virus kuning; aplikasi trichokompos dimulai saat penyiapan lahan untuk menekan cendawan pengganggu tumbuhan. Harapannya, penerapan budidaya ramah lingkungan pada tanaman cabai semakin luas, sehingga mengurangi gangguan OPT," tutup Sri.

Reporter : Nadra illiyina Chalid
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018