Sabtu, 19 Oktober 2019


Replanting Tanaman, Beginilah Cara Petani Cabai

12 Peb 2019, 13:54 WIBEditor : Yulianto

Sukarman menunjukkan tanaman cabainya yang mati | Sumber Foto:Humas Kementan

Petani mengganti tanaman cabai yang sudah tua dengan tanaman lainnya

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sragen--Ada-ada saja cara petani saat meremajakan (replanting) tanaman yang sudah tua. Ada yang menggratiskan masyarakat sekitar untuk memetik cabai, tapi ada yang menyemprotkan dengan pembasmi hama.

Misalnya Sukirman, petani cabai asal Pilangsari, Kabupaten Sragen yang menggratiskan warga untuk memetik cabai miliknya. “Saya memang gratiskan untuk warga. Silahkan dipetik sendiri. Tapi cuma 1.000 meter persegi. Itu juga karena memang mau saya bongkar dan tanam cabai yang baru,” ujarnya.

Sementara Sukarman, petani champion cabai di Kulonprogo yang menyemprotkan tanamannya dengan pembasmi gulma, karena tanamannya sudah tidak produktif dan melewati panen puncak, sehingga sudah waktunya diganti tanaman lain.

Memang ada pemakaian semacam herbisida, tetapi itu saya lakukan semata mata untuk menghemat ongkos tenaga kerja. Jadi bukan karena saya dan petani putus asa dengan harga murah, tapi skema pola tanamnya memang harus beralih dengan komoditas lain,” tuturnya.

Bahkan Sukarman memastikan petani masih tetap semangat menanam cabai dan siap mengamankan pasokan saat puasa dan lebaran nanti. Kami sudah siapkan sekitar 20 ha cabai di lokasi lain untuk persiapan memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran nanti. Petani tetap semangat kok tanam cabai. Inshaa Allah pasokan tetap aman,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sragen, Suwito mengakui harga cabai di tingkat petani fluktuatif. Pada panen sebelumnya, petani menikmati kisaran harga yang lumayan, sehingga petani tidak ada istilah rugi besar. Menurut saya wajar, musim ini harga kurang bagus, tapi di musim panen sebelumnya harga relatif stabil, masih ada margin keuntungan,” katanya.

Lalu bagaimana terkait dengan adanya petani Sragen yang mempersilahkan warga untuk memanen gratis? Suwito menuturkan hal itu karena sudah menjelang panen habis sehingga lahan cabainya mau dibongkar, apalagi dengan luasan yang terbatas. Tapi masyarakat petani kami masih bersyukur, setidaknya hal hal seperti ini menjadi momen untuk kami semua untuk saling berintropeksi. Bahasa kerennya, ya beginilah dunia budidaya cabai. Ada kalanya untung segunung, ada kalanya pula impas. Semua wajib disyukuri,”  tuturnya.

Tidak Putus Asa

Sementara itu Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan, Moh. Ismail Wahab berharap petani tidak gampang putus asa dalam berbudidaya cabai. Bukan berarti saat harga lagi murah, terus petani putus asa, sehingga tidak mau merawat dan menanam lagi.

Ini yang sebenarnya kita jaga. Keberadaan tanaman cabai tetap harus kita jaga. Kan dipanen 3 sampai 4 bulan ke depan. Inshaa Allah kalau kita tetap semangat, harga bisa lebih menjanjikan di musim panen mendatang," ujar Ismail.

Ismail mengatakan, untuk menyikapi kondisi saat ini dan kebutuhan di masing-masing wilayah, maka pola tanam juga dijaga sesuai kebutuhan dan permintaan. Jadi kalau memang sudah ada pola tanam yang sudah ditetapkan, maka harus dipatuhi.

Seperti yang terjadi di Kulonprogo kemarin, itu sudah saya cek betul, ternyata tanaman cabai yang disemprot dengan pembasmi gulma memang sudah melewati masa produktifnya alias sudah tua,” katanya.

Ismail menegaskan lahan pertanaman cabai tersebut akan dipakai untuk pertanaman semangka. Ini yang dinamakan pola tanam. Pemerintah akan terus berupaya mencari solusi konkret untuk menangani cabai. Seperti kejadian di Sragen, petani membebaskan warga untuk memetik, itu baik. Tapi bukan berarti petani putus asa, tegasnya

Sementara itu Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian Suwandi menghimbau untuk wilayah sentra cabai yang belum siap industri hilirnya yakni industri olahan, sistem dustribusi dan logistik dengan coldstorage, maka lebih tepat ikuti anjuran pola tanam guna menjaga pasokan dan harga stabil. Petani cabai  sudah paham betul tentang bisnis dan pasar cabai,” ujarnya.

Selanjutnya bagi sentra cabai yang sudah maju dan mantap aspek hilirnya, Suwandi mempersilahkan petani bertanam terus menerus, memproduksi yang banyak, sebagian besar dikeringkan dan diolah menjadi produk turunannya. Kita terus mendorong untuk hilirisasi. Pangsa pasar produk olahan cabai sudah ada tersendiri bahkan sudah ada yang diekspor,” tuturnya.

 

Reporter : Abiyadun
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018