Selasa, 23 April 2019


Pengendalian OPT Tepat, Kentang Sayur Bisa Swasembada !

19 Mar 2019, 21:44 WIBEditor : Gesha

Hamparan pertanaman kentanh sayur di Minahasa Selatan | Sumber Foto:ENUNG

Strategi kita adalah mencegah OPT berdasarkan pengalaman petani musim tanam sebelumnya dan secara responsif dalam budidaya yang ramah lingkungan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Minahasa Selatan --- Di tahun 2018, klaim swasembada kentang sayur berhasil diperoleh Indonesia. Tentunya berbagai faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya metode pengendalian OPT yang tepat. 

Salah satu daerah sentra produksi kentang sayur adalah Kecamatan Modoinding, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Sebagian wilayah ini ditanami kentang yang produksinya dikirim Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua dan beberapa daerah lain.

Sebagai informasi, ekspor total kentang pada 2018 dengan volume 5.163 ton atau senilai Rp 66 miliar.

Pada tahun 2017, impor kentang sayur pada 2017 masih cukup tinggi, yakni dengan 9.752 ton senilai Rp 59 miliar. Sedangkan pada 2018 hanya 10 kg atau senilai Rp 426 ribu.

Data statistik produksi hortikultura nasional pada 2017 menunjukkan, luas panen kentang nasional 75.611 hektare dengan produksi 1.164.738 ton.

Sementara data Sulawesi Utara pada 2017, luas panen kentang 17.287 hektare dengan jumlah produksi 65.574 ton.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi kentang adalah adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Modoinding sebagai daerah sentra produksi utama kentang di Sulawesi Utara menjadi perhatian Direktorat Perlindungan Hortikultura terutama terkait serangan yang dapat mengganggu produksi tanaman. 

Sampai saat ini OPT yang perlu diwaspadai pada tanaman kentang adalah Nematoda Sista Kuning (NSK) yang di luar negeri dikenal dengan Golden Cyst Nematode.

Tanaman kentang yang diserang menunjukkan gejala daun - daunnya menguning lebih awal dan perakaran terganggu. Apabila masih menghasilkan, umbi berukuran kecil dan jumlahnya sedikit.

Guna meningkatkan kewaspadaan terhadap OPT tersebut, Ditjen  Hortikultura bekerjasama dengan BPTPH Provinsi Sulawesi Utara, IPB dan Universitas Samratulangi melakukan inventarisasi OPT pada komoditas kentang di Modoinding.

Hasil inventarisasi dibawa ke laboratorium agens hayati Kalasey.  Dari hasil identifikasi, secara morfologi tidak ditemukan NSK pada kentang di Modoinding, namun kewaspadaan tetap dilakukan dengan pengujian lanjutan di laboratorium Perguruan Tinggi.

Petani harus tetap waspada terhadap OPT tersebut karena merupakan OPTK A2 yang berbahaya bagi tanaman kentang. 

Dihubungi terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayantie Yusuf menyatakan bahwa pihaknya bersama BPTPH seluruh Indonesia melakukan monitoring rutin pada komoditas hortikultura. 

"Kita melakukan pengawalan dan pembinaan kepada petani hortikultura. Petani harus mengetahui gejala OPT utama pada tanamannya dan mampu mengendalikannya sedini mungkin. Strategi kita adalah mencegah OPT berdasarkan pengalaman petani musim tanam sebelumnya dan secara responsif dalam budidaya yang ramah lingkungan," ujar Sri.

Selain itu, pihaknyaa juga mendorong petani untuk menerapkan kearifan lokal, menggunakan bahan bahan alami, yang mudah didapatkan di sekitar mereka. "Penggunaan bahan pengendali OPT berupa pestisida kimia merupakan langkah terakhir," tukasnya.

Kepala BPTPH Provinsi Sulut Fentje AL Rompas menyatakan bahwa pihaknya beserta jajarannya akan selalu siap mengawal upaya pengendalian OPT. 

"Kami akan selalu siap mengawal dan hasil identifikasi OPT yang ada akan dijadikan acuan  dalam pengambilan kebijakan untuk tindakan pengendalian OPT selanjutnya," jelasnya.

Reporter : Enung
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018