Kamis, 18 Juli 2019


Selain Kopi, Gayo Potensial untuk Bawang Putih

10 Apr 2019, 12:32 WIBEditor : Yulianto

Panen bawang putih di dataran tinggi Gayo | Sumber Foto:Fathan MT

Fuktuasi harga yang cukup tajam pada beberapa komoditi hortikultura seperti cabe, kol dan kentang, membuat petani mulai beralih ke komoditi bawang putih yang harga pasarnya relatif lebih stabil

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tengah---Dataran Tinggi Gayo meliputi dua kabupaten yaitu Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah sangat dikenal dengan komoditas kopi. Tapi sebenarnya daerah tersebut potensial untuk pengembangan komoditas bawang putih.

Namun karena sebagian besar lahan pertanian di daerah ini sudah didominasi tanaman kopi arabika, lahan yang tersedia untuk pengembangan komoditi bawang putih menjadi terbatas. Sementara itu pada lahan pertanian yang tidak ditanami kopi, petani lebih cenderung membudidayakan komoditi hortikultura lainnya seperti cabe, tomat, kentang, kol, wortel dan bawang merah.

“Komoditas tersebut menurut petani lebih mudah pemasarannya,” kata Paiman, seorang penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah tersebut. Namun menyikapi kondisi terkini yaitu minimnya pasokan bawang putih lokal di pasaran, lanjut Paiman, petani di Kabupaten Aceh Tengah mulai membudidayakan komoditi yang juga menjadi bumbu ‘wajib’ di dapur ini. Seperti yang dilakukan petani di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah.

“Meski hampir 90 persen lahan pertanian mereka sudah dipenuhi tanaman kopi yang menjadi komoditi utama andalan mereka, tapi petani masih bisa menyiasatinya dengan menanam bawang putih pada lahan yang selama ini belum digarap secara optimal,” tutur Paiman.

Menurut Paiman, di Kecamatan Jagong Jeget, masih ada lahan yang tidak ditanami kopi, karena kondisi tanah yang  kurang sesuai untuk pertanaman kopi. Misalnya, lahan bekas rawa maupun lahan yang selama dikhususkan untuk budidaya palawija dan hortikultura.

Fuktuasi harga yang cukup tajam pada beberapa komoditi hortikultura seperti cabe, kol dan kentang, membuat petani mulai beralih ke komoditi bawang putih yang harga pasarnya relatif lebih stabil. Peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan petani di daerah eks pemukiman transmigrasi ini untuk membudidayakan bawang putih,” katanya.

Bagi petani di lokasi eks pemukiman transmigarsi ini, sebenarnya membudidayakan bawang putih bukanlah hal baru bagi mereka. Sejak mulai dibuka lokasi transmigrasi ini pada tahun 1982, petani pernah membudidayakan ‘si putih’ ini. Namun pesona aroma kopi arabika yang menjadi primadona pertanian di dataran tinggi Gayo, membuat mereka mulai menanami lahan mereka dengan tanman kopi, sehingga budidaya bawang putih mulai ditinggalkan.

Namun seiring perkembangan situasi yakni kebutuhan bawang putih kian meningkat, sementara ada kekahwatiran masyarakat mengkonsumsi bawang putih impor, membuat petani tergerak kembali membudidayakan ‘si putih’ ini. Kini bawang putih Gayo kembali menggeliat.

 

Reporter : Fathan MT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018