Kamis, 27 Juni 2019


Nanas Organik dari Kabupaten Mempawah

20 Mei 2019, 08:08 WIBEditor : Gesha

Nanas varietas queen ini rasanya sangat manis, lembut dan memiliki kadar air tinggi. | Sumber Foto:Henni

Nanas varietas queen ini rasanya sangat manis, lembut dan memiliki kadar air tinggi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Mempawah --- Meski berada di daerah kecil, Kabupaten Mempawah ternyata menghasilkan produk nanas organik.

Sentra pengembangannya sendiri ada di Desa Galang, Kecamatan Sungai Sui Pinyuh seluas 400 hektar atau sekitar 1.250 hektar se Kabupaten Mempawah. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Baru adalah salah satu yang membudidayakan nanas organik.

"Luas lahan nanas di kelompok ini seluas 15 hektar yang terdiri dari 48 kelompok tani di dalamnya," ujar Sholeh, Ketua Gapoktan Harapan Baru.

Sholeh menyebutkan, Gapoktan binaannya memiliki Kelompok Tani Pengolahan Galang Sari beranggotakan 17 orang berikut Koperasi Galang Mekar Bersama yang beranggotakan 23 orang.

“Umumnya, nanas yang memiliki berat di atas 1 kg dijual seharga Rp 8000 per kg, sedangkan di bawah 1 kg dijual dengan harga Rp 5000 per kg," jelas Sholeh.

Gapoktan Harapan Baru telah mengembangkan budidaya nanas sejak 1990. Pada 2018 lalu telah menerapkan Prima 3 sekaligus mendapat Sertifikat Nanas Organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman, Mojokerto, Jawa Timur.  

"Budidaya nanas di kelompok ini tidak menggunakan pupuk kimia dengan pH tanah 6-7 dan memenuhi kriteria sebagai nanas organik”, ujar Sholeh.  

Nanas varietas queen ini rasanya sangat manis, lembut dan memiliki kadar air tinggi. Pengaruh tanah gambut berdampak pada rasa buah nanas yang manis.

Produksi nanas dapat mencapai 1-2 ton per hektar dan panen dapat dilakukan 3 bulan sekali.

"Selain nanas segar, produk dijual dalam bentuk olahan seperti manisan, selai, sirup, dodol, abon, kerupuk dan madu kelulut," papar Sholeh.

Dari hasil olahan tersebut, Kelompok Tani Galangsari telah mendapat penghargaan Sida Karya dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat.

Untuk membantu proses pengolahan, Kelompok Galangsari mendapat bantuan alat penghancur nanas dari Ditjen Hortikultura.

“Bantuan tersebut sangat membantu pengolahan nanas menjadi produk olahan," ujar Sholeh.

Produk nanas dijual ke pasar tradisional sekitar Kabupaten Mempawah, Pontianak dan sekitarnya. Selain itu, melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, nanas organik dipasarkan ke beberapa kios sekitar kantor sekaligus untuk mensosialisasikan produk organik kepada masyarakat sekitar.  

Menurut Sholeh, saat ini tantangan yang dihadapi adalah perlunya perbaikan infrastruktur jalan menuju kebun produksi.

Selain itu dibutukan dukungan pemasaran produk dan penambahan gudang penyimpanan produk.  

"Kami menyarankan agar petani tetap konsisten dalam penerapan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP) untuk menghasilkan nanas organik bermutu dan mampu bersaing di pasar dalam maupun luar negeri," Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hortikultura, Yasid Taufik

Sebagai informasi, data BPS menunjukkan produksi nanas nasional pada 2018 mencapai 1,8 juta ton. Angka ini naik 0,53 persen dari 2017 sebanyak 1,79 juta ton.

Reporter : Henni Kristina Tarigan
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018