Sabtu, 24 Agustus 2019


Kebun Cimanggu Ternyata Punya Buah Langka !

16 Jul 2019, 21:04 WIBEditor : Gesha

Kepala Kebun Percobaan Cimanggu - Balitbang Pertanian, Tri Eko Wahyono memperlihatkan koleksi buah namnam di KP Cimanggu | Sumber Foto:Echa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Sebagai window show dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kebun Percobaan Cimanggu, Bogor juga memperbanyak aneka buah langka yang bisa ditanam oleh masyarakat. 

"Kami mengkoleksi beberapa tanaman obat, tanaman herbal, tanaman getah perca, atsiri, dan tanaman rempah, koleksi kami jumlahnya berkisah 322 jenis tanaman yang sudah kami koleksi sebagai plasma nutfah di Kebun Percobaan Cimanggu," tutur Kepala Kebun Percobaan Cimanggu - Balitbang Pertanian, Tri Eko Wahyono ketika ditemui tabloidsinartani.com.

Buah langka juga menjadi bagian koleksi dari KP Cimanggu, salah satunya adalah buah namnam. “Buah Nam Nam ini adalah buah langka, tapi kami sudah siap untuk memperbanyaknya karena sangat mudah untuk diperbanyak," tuturnya.

Di jaman dulu, buah namnam sangat mudah dibudidayakan. Padahal jika ada pembudidaya pertanian, pohon ini bisa dibibitkan melalui bijinya atau okulasi, hanya saja dua cara itu memiliki tingkat kesulitan yang sama sama menantang, dengan okulasi atau cangkok karena sulit cari pohonnya. Sementara jika dibibitkan dengan biji, lama berbuah sekitar 4 tahun usia tanam.

Buah Namnam adalah sejenis pohon dari famili polong-polongan (Leguminosae atau Fabaceae). Tumbuhan ini banyak ditemukan atau dibudidayakan di Asia Tenggara dan India. Diperkirakan tumbuhan ini berasal dari wilayah Malesia timur. 

Namnam adalah tumbuhan pohon, yang tidak terlalu tinggi, lebih kurang 3 meter. Bukan hanya ukurannya yang tidak terlalu tinggi, daun mudanya yang berwarna merah muda terang juga menyebabkan tumbuhan ini dipilih sebagai tanaman hias.

Walau tidak terlalu banyak referensi mengenai namnam, peneliti tumbuhan tropis meyakini namnam yang termasuk dalam tumbuhan legum memiliki kemampuan bersimbiosis dengan bakteri tanah untuk mengikat nitrogen. Selain untuk pertumbuhan, nitrogen itu juga berguna untuk kesuburan tanah di sekitarnya. 

Mengingat banyak manfaat dari buah namnam ini, KP Cimanggu memiliki bibit dan teknologi perbanyakannya yang siap didiseminasikan ke masyarakat, khususnya bagi petani tanaman hias.

Taman Sains Pertanian

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mulai tahun 2015 berperan aktif dalam membangun dan mengembangkan Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP) sebagai sarana akselerasi impact recognition inovasi pertanian, sekaligus terobosan untuk memperderas arus inovasi pertanian kepada masyarakat.

Kebun Percobaan Cimanggu sendiri merupakan bagian dari Taman Sains Pertanian (TSP) yaitu sebagai wahana penelitian, pengkajian, pengembangan dan penerapan inovasi pertanian sekaligus show window dan tempat peningkatan kapasitas pelaku pembangunan pertanian termasuk penyuluh dan petani. 

Dimasukkannya KP Cimanggu menjadi bagian dari TSP bukanlah hal yang tidak mendasar karena kebun percobaan ini adalah salah satu kebun ke dua tertua setelah Kebun Raya di kota Bogor dan pada mulanya bernama Culturtuin atau Economic Garden. Kebun ini dibangun oleh Dr. R. H. C. C. Sechoffer pada tanggal 14 Februari 1876. Kebun koleksi ex-situ di KP. Cimanggu telah menampung beberapa jenis tanaman tahunan, tanaman industri, tanaman semusim dan sebagainya. 

Di masa kini, KP Cimanggu diharapkan tumbuh dan berkembang dengan mengedepankan kapasitas dan potensi wilayah, sosial budaya dan kearifan lokal masing-masing wilayah dengan plasma nutfah yang dimiliki.

Saat ini  Balitbangtan sendiri memiliki 120 KP yang hampir tersebar di setiap provinsi di Indonesia. Bahkan memiliki tanggung jawab besar dalam mengoptimalkan dan sebagai percontohan dan pembelajaran bagi petani di sekitar KP.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Budi Indra Setiawan menyampaikan, agar semua fasilitas dari mulai bangunan gedung bersejarah tetap dipertahankan, saluran irigasi diperbaiki, serta penerapan Pertanian 4.0, Smart Agriculture atau Internet of Thing (IoT) dalam pengelolaannya. “Kebun percobaan harus bisa menjadi contoh bagi mayarakat di sekitar KP. Karena di era 4.0 ini, KP harus menjadi pionir,” tegas Budi.

 

Reporter : Echa
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018