Jumat, 13 Desember 2019


Bangkitnya Asa Petani Bawang Putih di Kota Batu

11 Sep 2019, 19:06 WIBEditor : Gesha

Senyum bahagia petani bawang putih di Kota Batu Malang | Sumber Foto:LELY

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Tingginya jumlah impor bawang putih menjadi tantangan tersendiri bagi para petani di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Daerah yang dulunya menjadi sentra bawang putih dan  mengalami gulung tikar pada  tahun 1995-1998. Kini petani mulai bangkit dan fokus untuk kembali meraih kejayaan bawang putih lokal.

Seperti yang diungkapkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mitra Arjuno, Tani Maju 1, Luky Budiarti saat panen bawang putih, Selasa (10/9). Peristiwa tersebut merupakan babak baru dan titik awal kesuksesan bagi petani di Desa Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Jatim.

“Ini merupakan panen raya  bawang putih perdana, Semoga dapat berkah. Sentra bawang putih itu tenggelam karena banyak importir bawang putih. Kami yakin dengan dukungan dan pembinaan dari berbagai pihak tak terkecuali pihak perbankan (Bank Indonesia) kejayaan bawang putih di desa kami bisa bangkit lagi," ucapnya bangga.

Tak sebatas bimbingan dan bantuan berupa fasilitas semata, petani  juga melakukan kunjungan ke sentra produksi bawang putih di Jawa Tengah yakni Tegal dan Karanganyar  untuk meningkatkan dan memperdalam pengetahuan dan kemampuannya dalam membudidayakan bawang putih.

Dengan luas lahan 8000 meter persegi, petani di desa kami mampu menghasilkan 8 ton bawang putih.  Itu berarti setiap 1000 meter persegi menghasilkan 1 ton bawang putih.  “Kalau harganya Rp. 50.000,-/kg hasilnya bisa mencapai Rp 400 juta. Saya sagat berharap hasil panen bawang putih kedepannya lebih meningkat lagi. Sehingga, tahun depan cold storage yang biasanya diisi 60 ton dari NTB bisa kita isi sendiri,” harapnya. 

Secara ukuran atau massa memang bawang impor lehih besar dari bawang putih lokal, tapi bawang putih produksi lokal petani Indonesia juga memiliki kelebihan pada kandungan kadar alisinnya tinggi. "Ini sangat menentukan aroma, jadi menyengatnya itu akan berpengaruh terhadap cita rasa makanan yang dimasak menjadi sedap," beber Luky.

Pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono mengakui bila sejak  1995 hingga 1998 sentra bawang putih di Batu tenggelam karena kebijakan impor. “Tapi kini sudah mulai bangkit. bila tahun 2018 di Kota Batu sudah  menanam bawang putih di atas lahan seluas 25 hektar. Untuk awal tahun 2019 ini 30 hektar, dan November ini akan  tanam di 50 hektar. 

Untuk itu, tetap butuh support dari berbagai pihak. Petani menjadi harapan bagaimana agar inflasi terkendali dan impor bawang putih terkurangi. "Petani merupakan ujung tombaknya," tukasnya.

Reporter : Lely
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018