Jumat, 13 Desember 2019


Perkuat Ekspor Buah Tropis dengan Budidaya Berbasis Kawasan

19 Sep 2019, 14:53 WIBEditor : Gesha

Budidaya buah tropis Indonesia sudah saatnya berbentuk kawasan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Keberadaan buah impor subtropis di Indonesia sebaiknya tidak perlu nyinyir. Untuk melawannya, buah tropis Indonesia ditingkatkan kualitas dan jumlahnya. Karena itu, budidaya berbasis kawasan buah tropis menjadi jalan keluar sekaligus bisa mendorong ekspor.

"Impor buah-buahan dari negara-negara subtropis seperti Tiongkok, Amerika Serikat dan New Zealand tak bisa dihindari, merupakan konsekuensi logis dari sistem perdagangan bebas dunia. Buah Pir, Jeruk Mandarin, Apel Merah dan Kiwi memang tidak diproduksi di Indonesia, jadi kalaupun impor tidak berkompetisi langsung dengan buah produksi petani lokal," kata Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman.

Menurut data BPS, impor buah tahun 2018 mencapai 646.223 ton senilai US$ 1,26 Milyar. Sementara ekspornya mencapai 893.539 ton, senilai US$ 63,25 juta atau Rp 893,65 Milyar.

Sepanjang semester I 2019 (Januari-Juni 2019) volume impor buah tercatat 283.078 ton atau turun dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 313.835 ton. Tahun 2018 lalu, impor Pir menempati urutan pertama sebanyak 186 ribu ton, disusul Apel 165 ribu ton dan Anggur 105 ribu ton.

"Dibandingkan dengan produksi buah lokal yang mencapai 21 juta ton, volume impor buah-buahan hanya mengisi sekitar 3%. Itupun didominasi buah subtropis yang jarang atau bahkan tidak diproduksi di dalam negeri," terangnya.

Menurut Liferdi, produksi buah tropis lokal seperti pisang, nenas, manggis dan pepaya di Indonesia sangat melimpah, sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan ekspor.

Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, beberapa jenis buah tropis Indonesia seperti manggis, durian, nenas, mangga dan pisang sudah banyak mengisi pasar ekspor. Bahkan untuk nenas olahan, ekspor asal Indonesia mampu merajai pasar dunia. 

"Kita tidak perlu terlalu restriktif terhadap impor buah-buahan subtropis. Yang lebih penting sekarang, selain menggenjot realisasi ekspor, bagaimana bersama-sama mengedukasi masyarakat Indonesia untuk gemar mengkonsumsi buah-buahan tropis lokal," tuturnya.

Dengan begitu buah tropis bisa menjadi raja di negerinya sendiri. "Selain petani diuntungkan, masyarakat pun bisa memperoleh manfaat dari buah lokal segar yang dinilai lebih _fresh_, bergizi, sehat, bercitarasa eksotik dan aman dikonsumsi dibanding buah impor yang mungkin sudah disimpan cukup lama. Pada gilirannya, ekonomi nasional pun akan semakin kuat," tukas Liferdi mantap.

Karena itu Kementerian Pertania  tengah menata dan membangun kawasan buah skala korporasi untuk memperkuat ekspor buah tropis.

Ketua Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI), Sandy Widjaja, mendukung upaya pemerintah mengembangkan kawasan buah berorientasi ekspor, mengingat besarnya pangsa pasar ekspor buah-buahan tropis asal Indonesia.

"Kita tahu Tiongkok, dengan 1,3 Milyar penduduknya masih sangat terbuka luas pasarnya. Mereka gemar sekali buah-buahan tropis. Sementara kita sekarang baru bisa masukin Manggis, Salak dan Pisang. Untuk durian masih banyak dipasok dari Thailand dan Malaysia," ujar Sandy.

Diakuinya, kini memang sudah saatnya bangun kawasan buah ekspor dalam skala luas. "Kuncinya harus terpenuhi 3K, yaitu Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas. Faktor kuantitas sangat penting untuk kita bisa dorong protokol ekspor buah tropis kita," kata Sandy. 

Menurut Sandy, untuk membangun kawasan buah ekspor skala luas diperlukan dukungan berbagai pihak. "Harus ada insentif khusus agar harga jualnya menguntungkan petani. Sistem distribusi dan teknologi pascapanen pengangkutan penting diperhatikan karena buah-buahan pada dasarnya komoditas yang mudah rusak," tandasnya.

Dirinya juga mengakui bahwa konsep pengembangan buah korporasi yang didesain Ditjen Hortikultura Kementan sangat relevan menjawab tantangan ekspor.

Senada, pakar sekaligus pengusaha durian, Karim Aristides, saat dikonfirmasi mengatakan pemerintah harus lebih fokus lagi dalam pengembangan buah nasional.

Untuk durian, Karim mengusulkan agar ditentukan varietas andalan durian nasional yang bisa eksis dalam percaturan ekspor dunia. "Sebaiknya konsentrasi pada beberapa varietas asli yang terbukti unggul. Jangan banyak-banyak varietas. Saya sendiri mengusulkan 3 varietas durian super unggul yaitu Pelangi, Super Tembaga JF dan Srombut," tuturnya.

Karim mengakui, ketiganya merupakan durian lokal yang sanggup mengalahkan jenis durian yang ada di dunia ini. "Rasa eksotis, lemaknya kuat, daya tahan lama dan tidak gampang kena penyakit. Durian Malaysia, Filipina, Thailand atau Vietnam lewat," ujar Karim yang mengaku sudah melanglang buana mencicipi berbagai jenis durian di berbagai negara tersebut.

 

Menurut Karim setiap penggemar durian dari berbagai negara memiliki preferensi berbeda terkait citarasa durian. "Untuk orang Indonesia dan Jepang umumnya suka yang manis. Tapi untuk pasar Tiongkok, Hongkong, Singapura, Malaysia justru suka yang manis ada sensasi pahitnya. Itu semua ada di durian kita. Yakin deh, selama kita mampu fokus dan berani mengembangkan skala besar-besaran, kita bisa menjadi jawara durian dunia mengalahkan Thailand dan Malaysia. Untuk pasar Tiongkok, agar segera diproses protokol ekspornya, agar durian kita bisa masuk kesana," kata Karim optimis.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018