Thursday, 24 September 2020


Harumnya Usaha Tani Akar Wangi

03 Jul 2013, 12:06 WIBEditor : Julianto

Kita mungkin sudah mengenal atau bahkan telah mengoleksi kerajinan berbahan akar wangi. Hiasan dinding, taplak meja, vas bunga, dan tempat lilin yang beraroma khas adalah beberapa contoh produk kreatif berbahan baku akar wangi. Tapi, banyak yang belum mengetahui bahwa di samping sebagai bahan kerajinan, tanaman yang sekeluarga dengan serai dan padi ini memiliki potensi sebagai pencegah bencana.

Tanaman akar wangi atau rumput vetiver (Vetiveria zizanioides, baru-baru ini diklasifikasikan sebagai Chrysopogon zizanioides) adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang dapat tumbuh sepanjang tahun. Akar wangi tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 1,5 - 2,5 meter. Sistem perakarannya dalam dan masif, mampu masuk sangat jauh ke dalam tanah. Jenis rumput ini tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Awalnya, produk yang diambil dari tanaman ini adalah akar dari tanaman yang sudah cukup umur.Minyak atsiri dapat diperoleh dari akar tanaman ini dengan jalan destilasi atau ekstraksi pelarutKadang ada juga yang menjual akar wangi ini dalam bentuk akar yang sudah dibersihkan dan dirapikan. Karena akar ini masih dapat menyimpan bau wangi dalam jangka waktu cukup lama, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengharum ruangan atau lemari dengan jalan digantung di posisi yang diinginkan.

Berbeda halnya dengan tanaman serai wangi, kandungan minyak atsiri akar wangi banyak tersimpan di dalam daun, sehingga harus diambil dari akarnya. Proses pemanenannya mengharuskan tanaman dicabut. Untuk berikutnya harus ditanam kembali menggunakan bibit baru. Tentu saja dengan jalan ini kadang tidak menarik minat petani atau pemilik tanah untuk membudidayakan jenis tanaman ini.

Meski akar wangi kurang menarik minat para petani, namun tidak berarti komoditas ini tidak mempunyai prospek pasar yang bagus. Terbukti, Indonesia merupakan penghasil minyak akar wangi terbesar kedua dunia setelah Haiti, Kabupaten Garut sebagai satu-satunya daerah produsen terbesar. Di Kota Dodol tersebut, luas lahan akar wangi mencapai 2.400 ha yang terletak di 5 kecamatan. Sekitar 10.000 petani dan 24.000 buruh tani menggarap ladang tersebut untuk selanjutnya disuling di 30 pabrik penyulingan. sehingga dihasilkan minyak akar wangi sebanyak 50-60 ton/tahun.

Hasilnya sebagian besar diekspor ke Prancis, Jerman, Belanda, India, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara di Timur Tengah. Harga minyak akar wangi saat normal mencapai Rp. 1,3 juta/kg. Namun menurut catatan Koperasi Akar Wangi Kabupaten Garut, sejak Juni tahun lalu terjadi penurunan harga menjadi Rp. 800 ribu/kg karena terjadi penurunan permintaan dari perusahaan-perusahaan di Eropa.(Sidik Fathul, Penyuluh Pertanian Pertama  BKP3 Kab. Malang)

ntuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI

(berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066)

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018