Thursday, 24 September 2020


Diversifikasi Pangan dengan Konsumsi Buah dan Sayur

20 Sep 2013, 14:12 WIBEditor : Kontributor

Pemerintah terus menggaungkan program diversifikasi pangan untuk mengurangi konsumsi beras (nasi). Namun, masyarakat tetap saja menjadikan nasi sebagai pangan pokok. Lebih disayangkan lagi, masyarakat yang semula mengonsumsi pangan lokal seperti umbi-umbian, sagu dan jagung justru malah beralih memakan nasi.

Kondisi tersebut membuat tingkat konsumsi beras masyarakat makin tinggi. Kini mencapai 139 kg/kapita/tahun.  Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding konsumsi rata-rata dunia yang hanya 60 kg/tahun. Malaysia, Thailand, Jepang dan Korea masing-masing hanya 80, 60, 50 dan 40 kg/kapita/tahun.

Padahal ketergantungan yang sangat tinggi terhadap beras akan sangat riskan. Sebab, produksi beras rentan dengan perubahan iklim  seperti, banjir, kekeringan dan hama penyakit. Sementara dukungan infrasruktur sangat rendah.  Ditambah lagi penyusutan lahan pertanian yang beralih fungsi ke non pertanian.

Pemerintah telah mencoba menurunkan angka konsumsi beras melalui Program Diversifikasi Pangan.  Program ini mengarahkan konsumsi beras menjadi konsumsi bahan substitusi seperti jagung, ketela pohon, ketela rambat, dan lain-lain bahan substitusi beras.

Namun gaung program ini tidak begitu terdengar.  Banyak faktor yang menyebabkan antara lain. Pertama, bahan substitusi beras lebih sulit diolah. Kedua, rasa yang kurang cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia. Ketiga, sulit dalam penyimpanan. Keempat, beras telah menjadi penilaian dan gaya hidup masyarakat.

Dari beberapa faktor penghambat tersebut, hambatan paling sulit adalah masalah penilaian dan gaya hidup.  Masyarakat terlanjur memandang bahwa mengonsumsi beras adalah lebih baik ketimbang singkong atau jagung. 

Padahal ada banyak keuntungan dari mengkonsumsi jus buah-buahan dan sayuran ini antara lain. Pertama, cepat diserap tubuh. Jus buah dan sayuran dapat diserap tubuh hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit.  Lambung dan usus tidak perlu bekerja keras untuk memproses, karena bentuknya yang cairan dan sudah terpisah dari serat kasar.

Kedua, membuat jus buah dan sayuran sangat mudah. Ketiga, sumber vitamin yang komplit dan terdapat berbagai macam enzim dan anti oksidan.  Bahkan jus buah dan sayuran dapat menjadi terapi kesehatan maupun terapi penyembuhan penyakit.

Keempat, dapat diapakai untuk detox tubuh. Detox adalah proses membuang zat-zat yang berbahaya dalam tubuh. 

(Kukuh S/PPL Kab. Klaten)

Informasi lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (info berlangganan SMS ke : 081317575066).

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018