Kamis, 18 Oktober 2018


Melati Jateng Terus Mewangi di Luar Negeri Berkat Ekspor

09 Agu 2018, 13:46 WIBEditor : Kontributor

Kementerian Pertanian (Kementan) semakin menunjukkan komitmen meningkatkan ekspor berbagai komoditas pangan. Kini, tengah fokus meningkatkan volume ekspor bunga melati yang merupakan salah satu jenis tanaman hias.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan produksi dan mendorong ekspor guna mendulang dollar 2018 semakin nyata, kami berupaya tingkatkan ekspor benih horti, ekspor sayuran, buah, juga tanaman hias seperti bunga melati, produk berkualitas dan berdaya saing di pasar dunia,” kata Dirjen Hortikultura Suwandi, saat berkunjung ke Kabupate Tegal, Jawa Tengah, Kamis (9/8).

Pengembangan bunga melati di Indonesia sangat menjanjikan. Pasalnya, sebagai negara tropis, Indonesia memiliki alam dan sumberdaya cocok untuk tanaman hias, seperti bunga melati.  Ini buktinya di Jawa Tengah terutama di Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang dan Pekalongan tumbuh subur tanaman melati 600 hektar.

“Jawa Tengah dominan jenis melati putih, di samping untuk dipasarkan di dalam negeri juga ekspor.  Kami mendorong tingkatkan produksi, memperkuat kemitraan petani dengan  eksportir. Kuncinya produksi dan ekspor agar ditingkatkan, sehingga bisa memperoleh devisa dan mensejahterakan mereka,” jelas Suwandi.

Untuk diketahui melati merupakan tanaman hias genus semak berupa perdu dengan batang tegak dan hidup tahunan.  Setidaknya ada 200 spesies melati yang tumbuh di daerah tropis. Bunga melati banyak dibudidayakan karena aromanya khas, bentuk mungil, warna indah dan berbagai manfaat dan lebih untung.

Berbagai jenis melati antara lain melati gambir, melati raja, melati bintang, melati jepang, melati air, melati kartun melati kuning, melati merah, melati putih dan lainnya.

Jenis melati putih banyak diminati dan dijadikan puspa bangsa atau bunga nasional, karena dianggap melambangkan sebuah kesucian dan keharuman yang dikaitkan berbagai acara adat tradisi Indonesia.  Acara adat suku Jawa dan Sunda biasa menggunakan ronce bunga melati untuk acara perkawinan.

Namun di pasar luar negeri, melati putih juga diminati. Negara yang paling banyak mengimpor melati Indonesia adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu atau Buddha.

Untuk meningkatkan volume ekspor dilakukan peningkatan luas dan produksi, perkuat pola kemitraan, kemudahan investasi, pelayanan perkarantinaan untuk ekspor.  “Ini buktinya PT. Alamanda Utama Sejahtera bermitra dengan petani, hari ini ekspor 1 ton ke Singapura, Malaysia dan Thailand,” ujarnya.

Perwakilan PT. Alamanda Utama Sejahtera, Deni Hardiman mengatakan mengambil bunga melati dari petani di empat kabupaten rutin tiap hari.  Bulan puncak permintaan tertinggi ekspor pada Oktober-Desember, namun karena pasokan relatif sama, maka harga menjadi tinggi Rp 300 ribu perkg, sedangkan saat normal Rp 80 ribu perkg.

“Tahun 2018 prediksi ekspor minimal 100 ton. Harapan kami seiring permintaan ekpor tinggi, ini sangat cerah dan prospektif, relatif tidak ada kompetitor negara lain. Ini mesti ditingkatkan tanam  dan produksinya,” kata dia.

Deni menambahakan, sebelum diekspor melalui Bandara Soekarno-Hatta, dilakukan proses sortasi, grading dan packaging untuk ekspor bunga segar dan proses merangkai untuk ekspor bunga ronce melibatkan ribuan ibu rumahtangga sekitar.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Khofifah mengatakan pemerintah daerah Tegal memang dikenal dan sentranya bunga melati. Karena itu, pihaknya siap memperluas tanam bunga melati di Kecamatan Lebaksiu dan sarana airnya.

“Kami punya potensi lahan cukup luas, masyarakat sudah biasa membudidayakan tanaman hias. Kami siap perluas pengambangan bunga melati,” ujarnya.

Ketua Kelompoktani di Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Tegal, Haji Wiryono mengatakan menanam bunga melati lebih untung dari tanam lainnya. Umur tanaman hingga 20 tahun, pada 6 bulan pertama sudah bisa panen.

“Keunggulannya tiap hari panen terus, sebagian dijual ke pasar Rawabelong, juga ke industri minunan teh dan sebagian dijual ke PT Alamanda untuk ekspor,” sebutnya.

Sementara itu, Sindu, petani sekaligus pedagang pengepul Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang mengatakan bunga melati yang dimilikinya dipasok ke PT Alamanda rutin tiap hari. Misalnya, hari ini dari Batang menjual 500 kg.  Jumlah petani bunga melati di Batang sekitar 500 orang dengan lahan 200 hektare.  

“Untuk upah sortasi ini melibatkan ibu ibu rumahtangga sekitar dengan upah Rp 3000 per kg,” ucap Sindu. (gsh)

 

Editor : Gesha

TAG

BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018